BATU KUPING MENYIMPAN KELAM DALAM PESONANYA


By: Zenith Tacia Ibanez

Laut adalah salah satu anugerah Tuhan Yang Maha Esa,tempat segalanya melimpah ruah untuk memenuhi kebutuhan manusia. Siapa yang tidak senang pergi ke pantai? Tempat bertemunya darat dan laut ini memiliki panorama tersendiri. Salah satu fenomena yang khas dari pantai adalah ketika matahari perlahan hilang diufuk barat di garis pantai. Hal ini banyak kita jumpai di Indonesia yang merupakan negara kepulauan. Tidak hanya pemandangan indah matahari terbenam, namun Indonesia-khususnya pulau Sumbawa mempunyai banyak potensi laut yang mengagumkan. Perairan laut Sumbawa termasuk kawasan “CORAL TRIANGLE” dimana 30% dari keanekaragaman hayati trumbu karang didunia bisa kita jumpai. Sayangnya hanya segelintir masyarakat yang mengerti akan potensi ini, biasanya hanya diketahui oleh kalangan ahli saja. Sedangkan masyarakat awam? Mereka sudah cukup tersanjung oleh pemandangan dipermukaan laut tanpa tahu apa yang tersimpan di dalamnya.

Meski hanya memandang permukaan laut saja, tidak sedikit pula masyarakat berduyun-duyun untuk melihat keindahan pantai di kawasan Sumbawa. Rasanya mereka tidak pernah bosan dengan laut. Biasanya pengunjung pantai berasal dari kalangan kota yang lelah dengan rutinitas dan ingin mencari ketenangan.Mereka mengaku pergi ke pantai merupakan cara refreshingyang efektif karena pemandangan pantai yang indah dapat membuat perasaan menjadi tenang tanpa mengeluarkan biaya yang mahal.

“Saya selalu pergi ke pantai jika ada waktu luang. Terkadang waktuh subuh saya pergi ke pantai sembari berolahraga” tutur Lina ketika kami menanyainya. Gadis yang baru saja tamat SMA ini juga senang melihat matahari terbenam. “Meskipun durasinya relatif singkat,namun cukup untuk menghilangkan penat dikepala, apa lagi kalau bisa mengabadikannya dengan jepretan kamera.Tempat yang biasanya saya kunjungi adalah labuhan badas dan seliper karena pemandangannya yang menarik” begitu ucapnya.

Lain lagi dengan penuturan pak Noor Choliq, Bapak empat orang anak ini bekerja sebagai Pegawai Negeri sipil di Departemen Pekerjaan Umum. Ia memeliki versi yang berbeda dalam menikmati laut. Sering kali beliau pergi memancing untuk sekedar melepas kepenatan setelah melakukan aktifitas-aktifitas yang melelahkan. “Ada sensasi tersendiri ketika mendapat straight meski ikan yang didapat tidak seberapa” ujarnya sambil tersenyum. “Biasanya kalau memancing saya sering ke Batu Kuping, tetapisebelunya harus menyewa perahu di kampung Pasir karena jalur air lebih mudah ditempuh dibanding melewati jalur darat yang medannya terjal.sedangkan peralatannya sudah lebih dulu disiapkan sendiri” Lanjutnya bersemangat sembari menyeruput kopi panas.

Tidak hanya Pak Noor yang menempuh perjalaan melewati berbagai rintangan ke Batu Kuping, para Sahabat Laut (sebutan untuk perserta pelatihan jurnalistik lingkungan yang diadakan Komunitas Penjaga Pulau dan Rufford Small Grant Foundation) pun tampaknya tertarik untuk melakukan observasi di Kawasan Batu kuping yang katanya memiliki pemandangan indah terutama saat senja. Dan benar saja, saat kami tiba di sana, kami terpanah melihat pemandangan yang terbentang menjelang senja. Tampak ribuan liter air terhampar luas, elemen biru ini menyatu membentuk gerakan-gerakan dinamis, bergolak seakan-akan menyimpan rahasia di dalamnya- sesuatu yang melimpah ruah, menakjubkan, luar biasa.

Kami pun segera melanjutkan observasi lebih lanjut, yakni dengan melakukan snorkeling untuk melihat-lihat keadaan trumbu karang. Hal tak terduga menengangkan kami, “Saya tidak menyangka keadaan di dalam perairan Batu Kuping seperti ini. Ini kali pertama saya melihat trumbu karang secara langsung” ungkap salah satu Sahabat Laut bernama Tini. Cukup ironis mengetahui bahwa anak dari Kampung Pasir yang terletak dekat dengan daerah Batu Kuping, yang lahir dan tumbuh besar hanya beberapa meter dari laut, baru kali ini menyadari keadaan lingkungan hidupnya sendiri. “Di beberapa tempat trumbuh karang tumbuh namun di beberapa tempat lainnya banyak kita temukan bongkahan karang mati yang terbalik, bahkan sampai ada yang berserakan dalam ukuran kecil” Rizki menceritakan apa yang dilihatnya selama bersnorkeling. Hal ini diduga akibat ulah tangan-tangan tak bertanggung jawab. “Jika karang mati maka ikan – ikan tidak memiliki tempat tinggal dan berlindung,sehingga bermigrasi ke tempat lain. Kerusakan terumbu karang biasanya diakibatkan oleh nelayan-nelayan yang menangkap ikan dengan pengeboman dan penggunaan potasium” tutur mbak Ika selaku peneliti trumbu karang dari komunitas penjaga Pulau.

Kerusakan-kerusakan ini tidak hanya disebabkan oleh kesalahan para nelayan yang haus tangkapan. Tetapi juga dikarenakan penumpukan limbah rumah tangga yang berasal dari pemukiman terdekat. Sampah-sampah ini sebagian besar terbawa oleh arus ombak sampai akhirnya terdampar dan berserakan di Pantai Batu Kuping dan pantai disekitarpemikiman nelayan.  Dampak kerusakan trumbu karang ini sangat dirasakan oleh para nelayan, “Sekarang sangat susah mendapat ikan, terkadang butuh waktu 3-4 hari  untuk melaut. Selain itu boros bahan bakar karena kami tidak bisa lagi mendapat ikan di daerah-daera dekat sini” Keluh Pak Baharuddin. Beliaupun mengaku pekerjaan menjadi nelayan saja tidak cukup, oleh karena itu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari beliau merangkap kerja menjadi tukang bangunan,pembuat perahu dan jala.

Sebagian nelayan menyadari bahwa kerusakan trumbu karang berdampak hebat terhadap mata pencaharian mereka. Siapa yang memulai melakukan perusakan? Mereka bahkan tidak tahu. Sekarang bukan saatnya saling menyalahkan, yang terpenting adalah bagaimana kita-masyarakat sumbawa saling bekerja sama dan bahu membahu mencari solusi terbaik,karena laut bukan hanya urusan nelayan,tapi juga urusan semua orang selaku konsumen yang ikut menikmati hasil laut. Berbekal kekompakan dan semangat kerja sama antara masyarakat, nelayan dan dinas terkait.

Tahun depan, jika rencana Pemerintah untuk membangun tanggul di Pesisir Kampung pasir bisa terealisasikan, kami berencana untuk membuka wisata kuliner seperti di Pantai Goa sementara keadaan trumbu karang di sini dipulihkan” Harap pak Ali Anwar yang pernah menjadi nelayan. Kini beliau menghidupi keluarganya dengan membuka kios kecil-kecilan dan usaha dagang jam tangan, baju dll.Sedangkan istrinya ikut membantu dengan berjualan es batu.

Harapan lain dari kalangan masyarakat terhadap pantai Batu Kuping beraneka ragam. Mereka berharap kesediaan pemerintah memperbaiki jalan menuju Batu kuping agar medan tempuhnya menjadi lebih baik. Bila perlu, Batu kuping dijadikan tempat wisata dengan mengelolahan maksimal dan terlindungi.Mendengar ini semua, para sahabat laut semakin termotivasi dan bersemangat untuk mengkonservasi trumbu karang. Usaha konservasi trumbu karang yang ingin dilakukan antara lain reef check, transplantasi karang,dan sosialisasi ke masyarakat nelayan, sekolah-sekolah,