Cerpen “Anak Kecil di Dermaga”


Wood-bridge

By: Zenith Tacia Ibanez

       Dimas bilang padaku bahwa ia tak akan pulang hari ini, mungkin kepulangannya akan tertunda untuk tiga atau empat hari kedepan. Kalau dihitung-hitung, itu sangat jauh dari janji-janjinya terdahulu. Sebelumnya ia telah menunda beberapa hari karena berbagai alasan yang tak masuk akal. “Ayolah Ren, kau tahu aku juga tidak betah berada di sini, tapi aku tak mungkin untuk pulang hari ini juga. Kau tak melihat berita di televisi? Di sini sedang hujan besar, dan akses pelayarannya akan tertunda untuk beberapa saat” suara Dimas terdengar bising di telepon, kali ini aku mendengarkan alasannya dengan malas. Belum selesai ia berbicara aku segera mematikan teleponnya, dan pasti ia mengomel tak jelas di seberang sana, ah terserahlah… Handphoneku masih berada dalam genggaman, tapi sudah berdering lagi dan sebuah pesan masuk tertera di layarnya.

Dari: Bunda
2010/08/05
17:06

Irena, maaf hari ini bunda akan pulang terlambat…
kalau kau lapar, bunda sudah menyiapkan sejumlah uang di atas rak bukumu….
Sampai jumpa nanti malam. =)

       Nanti malam? bahkan malam sebelumnya pun aku tak sempat memastikan bahwa bunda benar-benar pulang atau tidak. Jarang sekali aku melihatnya di rumah, ia selalu sibuk. Apalagi sekarang Dimas telah kuliah di luar kota, hanya dia satu-satunya saudaraku dan kini ia tak lagi peduli padaku. Argh! Aku butuh tempat yang benar-benar tenang untuk menghilangkan kepenatanku.

        Seperti biasa, laut sore di dermaga pinggir kota tampak lebih indah. Dan seperti biasa pula aku berkunjung ke sana untuk menjadikan laut sore sebagai pelarian dari masalah-masalahku. Terkadang aku teriak sendiri seperti orang gila, aku memarahi ombak-ombak laut, menunjuk-nunjuk batu karang, menendang kerikil-kerikil kecil, seolah-olah segalanya hidup dan menjelma menjadi sosok orang-orang yang membuat aku kecewa. Begitu seterusnya sampai aku merasa bosan sendiri, tepat pada saat itu matahari mulai terbenam dan lampu-lampu dermaga dinyalakan. Segalanya kembali seperti semula dipandangan mataku, laut kembali menjadi laut, ombak kembali menjadi ombak, dan batu karang kembali menjadi batu karang yang bisu, tidak lagi menjelma seperti sosok orang-orang yang membuat ku kecewa. Mungkin itu adalah hal terbodoh yang sering aku lakukan, tapi aku merasa senang dan puas setelahnya.

     Aku sedang bertopang dagu, bertumpu pada tanggul pembatas dermaga setinggi pinggang orang dewasa, aku dapat melihat burung-burung yang beterbangan hendak pulang, mereka melayang bebas, melesat dan menukik dengan gesit. Samar-samar kudengar suara parau mereka, seakan menyampaikan salam perpisahan pada kawannya. Tubuh kecil mereka tampak seperti siluet ketika menghalangi sinar senja, indah sekali. Sedangkan dermaga begitu sunyi, serasi dengan hamparan laut biru saat ini. Permukaanya berombak tenang dan berkilau-kilau, sampan-sampan kecil yang reyot mengapung ringan di atasnya. Melihat semua ini aku menjadi enggan untuk pulang dan rasanya ingin berlama-lama di sini. “Maaf permisi, nyonya! Bisakah anda menyingkir dari tempat itu? tolonglah, aku mohon…” sesuatu menarik-narik bagian bawah kemejaku dan suara nyaring itu sangat menggangguku ketika aku sedang asyik menikmati matahari terbenam, terlebih lagi dengan sebutan ‘nyonya’ yang mengganjal ditelinga, itu cukup membuatku merasa tampak lebih tua dari aslinya. Makhluk tak lebih tinggi dari pinggangku, air matanya jatuh menderas dan membasahi bajunya yang dekil, rambutnya yang pirang dan kusam tersapu angin membuat wajah pucatnya semakin aneh. Aku ingin marah, tapi tak jadi karena aku sendiri heran mengapa aku harus menyingkir dari tempat ini ? padahal di sisi lain dermaga tak ada siapa-siapa lagi selain aku dan dia. Ia terus saja menarik bagian bawah kemejaku ketika aku tercenung hingga membuatku tampak terhuyung-huyung, semakin lama semakin keras sampai aku menyadari bahwa apa yang ia lakukan itu bisa membuat kemejaku ini robek, “Aku mohon nyonya, cepatlah…. aku sudah terlambat!!” teriaknya lagi. Aku bergeser dari situ, memberinya tempat dan ia segera melakukan sesuatu yang membuatku bertambah bingung.

    Tubuh mungilnya mendekati pembatas dermaga, ia berjongkok dan memeluk salah satu tiang pembatas yang berbentuk silinder ramping itu, kemudian kepalanya ia condongkan hingga melesak masuk disela-sela tiang. Tanpa sadar aku ikut berjongkok, penasaran dengan apa yang ia lakukan. Ia terdiam beberapa saat dengan posisi seperti itu, matanya yang bulat dan bening tak lepas dari matahari yang semakin lama terbenam. Terkadang ia mengusap ingus yang keluar dari hidung kecilnya. “Sedang apa kau ? anak kecil tak seharusnya berada disini” ujarku padanya, aku masih penasaran. Ia tak segera menjawab, malah ia tersenyum tanpa arti, sangat kontras dengan ekspresi wajahnya tadi “Sedang menunggu seseorang, nyonya” matanya tak berpaling sedikit pun memandang khatulistiwa, “Hei jangan panggil aku nyonya, aku ini masih muda tahu.” Protesku padanya, namun ia tetap tak bergeming. Aku berdiri kembali dan dapat melihat dengan jelas apa yang ia lihat. Matahari makin habis dilahap laut. Tiba-tiba aku mengingat Dimas, membayangkan sebuah kapal berlabuh di dermaga ini dan Dimas muncul dari dalamnya dengan seulas senyum kerinduan. “Hmmm… Aku juga sedang menunggu seseorang di sini”.

     Kami menikmati senja dengan tenang, dan seseorang yang ia tunggu itu tak kunjung datang sampai hari sudah gelap “Siapa yang kau tunggu? hari sudah petang dan kau harus pulang. Orang tuamu pasti mencari” aku mengingatkannya dan kali ini ia segera menjawab “Aku senang sekali hari ini, laut berkata kalau orang tuaku sangat menyayangiku” jari kecilnya menunjuk-nunjuk laut lepas. Aku mengeryitkan kening sesaat dan mulai mengerti, imajinasi anak kecil. Kemudian ia berdiri dan mengucapkan terima kasih padaku karena bersedia menyingkir dari tempat itu untuknya, pamit pulang dan pergi.

     Semenjak saat itu, aku kerap kali bertemu dengannya ketika aku ke dermaga pinggir kota. Sekedar menyapa, memberi senyuman, atau bahkan hanya berpas-pasan. Lagi dan lagi, ia melakukan hal yang sama, diwaktu yang sama, di sisi pembatas dermaga yang sama dan mengucapkan kata-kata yang sama pula: “Aku senang sekali hari ini, laut berkata kalau orang tuaku sangat menyayangiku”.

* * * * *

Aku baru saja tiba, asap kendaraanku bahkan masih mengepul karena mesinnya baru saja dimatikan. Tapi aku sudah melihatnya datang lebih pagi dari biasa. Ia melewatiku, berjalan dengan kakinya yang kotor oleh pasir-pasir dan beralaskan sandal murahan milik orang dewasa. Ia berhenti di tempat biasanya dia tercenung, seperti biasa diwaktu yang sama, ia memeluk tiang pembatas dermaga yang sama, lalu menjepit kepalanya di sela-sela tiang yang sama, dan berjongkok menatap matahari terbenam dengan senyuman yang sama pula. “Orang tuamu akan tetap menyayangimu” aku ikut bertopang dagu di sebelahnya sambil menatap matahari sore itu. Ia hanya mengangguk saja, “Apa orang yang kau tunggu itu sudah datang?” tanyanya padaku, aku sedikit terkejut mengingat selama ini tak ada kata lain yang terlontar dari bibir mungilnya selain “Aku senang sekali hari ini, laut berkata kalau orang tuaku sangat menyayangiku”, selebihnya hanya kalimat sapa atau ucapan terimakasih dan perpisahan yang tak begitu berarti. Satu yang pasti, aku tahu bahwa ia begitu mencintai orang tuanya. “Belum, tapi mungkin ia akan segera datang. Kalau kau?” Aku balik menanyainya. “Belum juga, kakakku bilang seseorang akan kembali kalau aku sabar menantinya di sini” ia menjawab sambil tetap memeluk tiang pembatas dermaga, menatap matahari terbenam dengan senyumannya.

        Ketika hari sudah gelap pun ia tak langsung pulang seperti biasa, ia malah berkata padaku akan berusaha menunggu lebih lama lagi agar seseorang yang dinantinya segera datang. Ia juga mulai bercerita bagaimana ayahnya menjadi seorang nelayan yang meskipun miskin, selalu pulang membawa jaring berisi ikan-ikan kecil, menggendongnya ketika masuk ke dalam rumah dan menanyai ibunya bagaimana hasil penjualan es batu hari ini. Dan ia juga menceritakan saat terindah baginya adalah ketika kakaknya pulang dari sekolah dan mengajarinya bagaimana bermain kelereng yang benar. Sampai kebingungannya ketika ia pulang dan mendapati rumahnya penuh sesak oleh para tetangga yang bermuram durja, dan ia juga melihat ibunya berteriak-teriak histeris menangisi sesuatu yang tergeletak diruang tengah dan terbungkus kain. Ia juga bercerita ketika tahu ternyata itu adalah seonggok potongan kaki dan tangan serta kepala yang susunannya tak lagi normal akibat bom ikan. Ia ingin sekali melihat siapa pemilik tubuh itu, namun kakaknya terus-terusan menghalanginya. Keadaan bertambah kacau setelahnya, karena si ibu semakin lama semakin kurus hingga tak mampu lagi berjualan es batu, wajah ibunya menjadi semakin pucat dan semakin keriput melebihi usianya. Ditambah lagi prilaku-prilaku ibunya semakin aneh karena ayahnya tak kunjung pulang dari melaut setelah berhari-hari, biasanya si ibu akan berlari ke jalan sambil menangis keras-keras, lalu memukuli dada dan menjambaki rambutnya sendiri, setelah puas si ibu menjadi murung kembali.

     Kalau dulu kakaknya selalu menemaninya bermain kelereng di dermaga, sekarang tidak lagi. Kakaknya harus mencari si ibu kesana-kemari karena tiba-tiba disuatu sore si ibu menghilang entah kemana. “Lihat laut itu, tunggu sampai perahu ayah datang. Kalau kau bertemu ayah katakan aku sedang mencari ibu yang hilang. Bilang pada ayah kalau ibu sangat merindukannya” dengan tangisan ketegaran Si kakak menuntunnya pada pembatas dermaga, mendorong kepalanya agar lebih condong disela-sela tiang pembatas yang menghadap laut. “Tunggu sampai matahari benar-benar gelap dan kau tak lagi bisa melihat bayangan-bayangan kapal, baru kau pulang. Mengerti?” lanjut kakaknya saat itu. Dengan pikirannya yang masih begitu polos, Ia mengganggap itu adalah misi penting yang harus ia laksanakan, maka semenjak itu setiap sore ia pasti akan menunggu kepulangan ayahnya. Dan mereka berdua pun mulai merindukan ayah dan ibu mereka, terkadang mereka kelaparan hingga ada beberapa tetangga berbaik hati memberikan sepiring nasi dan sepotong ikan untuk kakak beradik ini. Ia juga bercerita terkadang kakaknya begitu lelah bekerja serabutan, sedangkan teman-teman seumuran kakaknya tengah asik menghitung rumus-rumus kimia di sekolah. “Aku mengerti” ujarku pelan dan anak itu menatapku lugu. Umurnya bahkan belum genap 7 tahun, dan aku merasa lebih beruntung darinya.

     Langit semakin gelap, dan lampu-lampu dermaga semakin berkilau namun tak sebanding indahnya dengan matahari senja tadi. “Aku senang sekali hari ini, laut berkata kalau orang tuaku sangat menyayangiku” ia mengatakan kalimat itu untuk kesekian kalinya padaku, matanya kini menatap bulan yang menggantung di atas sana. “Bagaimana kau bisa mendengar laut apa yang laut katakan kepadamu?”, “Menanti berhari-hari di sini cukup untuk aku dapat merasakan laut, nyonya” Kali ini ku biarkan ia memanggilku nyonya. Aku menemaninya duduk menunggu si Ayah dan perahunya yang tak kunjung pulang, dan mungkin memang tak akan pernah pulang.

Selesai

Ada Komentar ?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s