Series “Gendis, Kartini Malang”


By :Zenith Tacia Ibanez

Aku hanya segelintir makhluk yang hidupnya dipermainkan oleh materi. Materi yang menjatuhkan derajatku, materi membuat aku bodoh, materi membuat aku dan ibu menderita, bahkan materi menghancurkan cita-citaku. Namun karena materi pula aku mengerti akan kehidupan. Kehidupan yang ku jalani seperti ini, hidup dicelah-celah gang sempit yang kumuh, bersahabat dengan para pemulung dan sampah-sampahnya, dengan pengemis dan uang recehnya, dengan tikus dan teman-temannya… Yaa itulah hidupku…
Waktuku bahkan sedetik pun tak akan cukup sempat untuk menyambut kehadiran sepotong roti dan segelas susu di meja makan setiap pagi, jikalau sempat pun, materi tak mampu menyediakan semua itu. Bisa terbangun dan bernafas kembali saja sudah syukur.

Aku memandang dunia diikuti langkah kecil kakiku menuju sekolah. Hiruk-pikuk bumi yang penuh oleh makhluk-makhluk berlalu-lalang membuat aku sedikit penat. Aku lebih suka keheningan, dimana hening menenangkan jiwaku, memunculkan suara hembusan angin seolah nada-nada lagu indah. Sayup-sayup menyusup ke daun telingaku dan menerbangkan tiap helai rambut panjangku. Aku berhenti sesaat, memejamkan mata dan menghirup udara dalam-dalam, segarnya embun beraroma tanah dapat ku rasakan bersama hangatnya sinar mentari yang menyoroti kulit wajahku. Itu sebabnya aku lebih senang berangkat sekolah pagi-pagi sekali.

Sebatang pohon rapuh diterpa Angin, rantingnya meraba-raba kusen jendela kelas, menciptakan suara aneh yang tak kalah riuhnya dengan suasana bising teman-temanku, sedangkan aku larut kedalam lamunan, mataku hanya terpaku pada sosok manis dalam lukisan kusam. Entah laba-laba bersarang dirambutnya, Dan kecoak merayapi wajahnya, ia tetap tersenyum. Betapa cantiknya ia, Aku ingin menjadi seperti kartini, namun aku tak ingin untuk hidup dizamannya, penuh kekangan dan belenggu. Tapi kenapa?, ketika aku hidup di Zaman bebas seperti ini, justru aku merasa dipenjara. Mungkin aku tak seberani Kartini, yang bulat tekadnya membuat ia terkenal seantero Jepara.
Mungkin aku juga tak secerdas Kartini yang mampu merubah adat kuno itu dengan berontaknya.
Aku juga tak seelok Kartini, kembang wangi yang tersirat segar seperti senyumnya yang tetap merekah itu tak pernah bosan ku pandangi. Kartini anggun diam di dalam Lukisan yang tersangkut di sisi kelasku, sejajar diantara pahlawan-pahlawan gagah lainnya. Tak mungkin, aku mengibaskan tanganku mengusir semua impian semu itu.
Sampai kapan pun aku hanyalah anak ibu, patuh dan tak berani membangkang… aku bisa apa??… tak ada kebahagian apapun yang ku berikan untuk ibu, cukup untuk penderitaan ibu. Rela banting tulang demi sekolahku, terkurung oleh kemiskinan, ah… masih banyak lagi. Beruntung aku masih disekolahinya. Seandainya aku dapat berbuat sesuatu, apapun akan kulakukan untuk membahagiakan ibu meskipun Tak terbayang olehku jika akhirnya janjiku ini justru memaksaku untuk menempuh nasib sepahit Kartini. Namun tetap saja aku dan kartini berbeda…

Sewaktu kecil aku selalu bermimpi jika aku dewasa nanti aku bisa mengenakan kain batik dan kemben seperti itu, deretan melati merangkai indah tiap ikal rambutku, tersenyum semanis kartini, duduk anggun disamping pangeran santun dan ramah selayaknya Raden patah. Teringat Sebelum kepergiannya, Ayah juga selalu bercerita tentang Raden Patah yang berjuang ketika ia hendak menjadi sunan, tingkah laku Raden tampan itu penuh tata krama. Ahh… Dimataku alangkah selarasnya wanita secantik Kartini bersanding dengan Raden tampan seperti Patah, tapi itu tak mungkin, Putaran zaman memisahkam mereka, juga jarak dan sejarah hidup… Ayah selalu membuatku kagum dengan cerita-ceritanya, beda dengan ibu. Ibu berkata bahwa dongeng semacam itu hanya untuk seorang pemimpi yang gemar berkhayal saja. Ibu membentak ayah dan menutup telingaku rapat-rapat agar aku tidak mendengar mimpi-mimpi itu lagi. Orang miskin dan hina seperti kami mau apa?? Tidak mungkin aku mendapatkan seorang Raden. Miskin tetap saja miskin, ya menderita. Begitu kata ibu… Kemudian ibu menyeretku masuk ke kamar bobrok, membanting pintunya dan pergi lagi menjual jajan di pasar. Begitulah, ayah dan ibu selalu tak pernah akur… Bahkan sampai ayah dijemput Tuhan sekalipun.

Demi ibu, aku rela untuk tidak mendengar cerita-cerita indah dari ayah lagi. Demi ibu, aku rela mengubur mimpi-mimpi itu. Tapi kini belum genap usiaku 15 tahun, ibu sendiri yang ingin mengabulkan semua mimpi-mimpiku… Sikapnya berubah 180 derajat, bagaimana tidak aneh? Seorang Raden kaya akan ada disisiku katanya… Entah mengapa aku merasa tidak senang mendengarkanya. Padahal, bukankah saat ini mimpiku akan jadi kenyataan?? Aku mencoba ikut merasakan kebahagiaan ibu yang girang saat menyampaikan kabar ini padaku, Namun aku tetap tidak bahagia… sesuatu seakan menusuk-nusuk uluh hatiku.
“Tapi Gendis masih sekolah bu, apa ndak bisa tunggu Gendis lulus dulu??” aku mencoba meyakinkan kenyataan ini
“Buat apa kamu sekolah lama-lama, toh kalau nantinya kamu juga akan menjadi ibu??” Ibu berbalik meyakinkan aku
“Siapa Raden itu ibu?..”
“apakah dia seorang Dewasa??” aku bertanya getir, rasa takut mulai melanda, apakah ibu tega menyerahkan aku kepada orang berumur seperti kisah tragis perempuan-perempuan muda yang tertindas hidupnya itu.
Tenang saja Gendis, Raden itu hanya tiga tahun diatasmu..” Ibu tersenyum membelaiku, perkataanya membuat aku semakin heran…
“bu, bukankah seorang Raden harus memiliki bekal pendidikan yang tinggi?? Gendis rasa, Raden itu belum tepat waktu untuk bersama Gendis, umurnya masih muda… sama seperti Gendis”
“Loh, betul itu… tapi bukan berarti setelah bersama Gendis dia tidak bisa menempuh pendidikan lagi kan?”
“Bukankah dengan adanya Gendis justru mengganggu konsentrasinya menempuh pendidikan??”
“Endak akan mengganggunya Gendis, kamu justru bisa belajar darinya, dengan begitu kan ia juga bisa mengasah ilmunya, ya endak??” Ibu terus saja berkilah
“Tapi bu, apa Raden itu mau sama Gendis, kita kan Cuma orang miskin bu? Siapa yang sudi??” Pertanyaanku kali ini mulai membuat ibu tak setuju rupanya, “Gendis!! Wes ta lah, jangan banyak Tanya… Apa kamu ndak mau didampingi seorang Raden kaya?? Ingat Gendis, hanya ini yang dapat membuat ibu bahagia,Kamu ndak sayang sama ibu!?!?” Ibu berdiri dan menuding kepalaku, “tapi bu…”, “Endak ada tapi-tapian!! Kalau kamu pingin jadi anak berbakti, turuti semua kata-kata ibu!!! Ngerti kamu!?” Tiba-tiba ibu menjadi benar-benar keji… aku hanya menunduk lemah, tidak sungguh-sungguh, namun ibu sama sekali tidak peduli…

* * * * *

Pohon akasia rindang itu menjatuhkan beberapa helai daunnya, belum sampai ke tanah, hembusan angin membawanya pergi. Hingga mendarat diatas air kolam yang tak begitu jernih, suasana begitu hening. Tempat ini seakan surga Firdaus yang megah dan penuh dengan bunga. Dapat ku rasakan sejuknya hingga ke tiap rongga paru-paruku, Tapi sayang sebentar lagi aku tak bisa merasakan indahnya dunia luar seperti ini, aku harus betah di dapur, melayani Raden yang sampai sekarang pun aku tak tau rupa wajahnya…
“Ooh… Ini toh anakmu itu…” Seorang wanita setengah baya berpakaian serba mewah tengah memandangku angkuh sambil memegang secangkir teh hijau, sesaat ujung kiri bibirnya mencuat dan membuang nafas, seakan-akan tak membutuhkan udara lagi… “Ajeng… Ajeng… Semua hutang-hutangmu pun ndak akan lunas meskipun kamu membayarnya dengan anak ini” ucapan sengitnya seakan lintar yang menyambar-nyambar kepalaku, Sungguh penyambutan tuan rumah yang tidak etis.
Aku menajamkan mataku pada sosok ibu yang tengah diam disampingku, “Ibu punya hutang?” Aku bertanya pada ibu tak percaya, ibu hanya melintangkan telunjuk ditengah bibirnya “hush!”…

“Lho, kamu ndak tau ya, ibumu itu hutangnya banyak… Wong ndak bisa bayar, berani ngutang… Dasar miskin” aku hanya dapat menyorot tajam wanita tua yang bergumam itu…
“Saya akan bayar” Ujarku mantap… Namun wanita tua itu malah tertawa dan tertawa lebih keras,
“Apa??? Memangnya kamu punya uang?!?! Haha…Lihat anakmu Ajeng, angkuh benar… Katakan padanya siapa sebenarnya ia,cuiihh!!! Hahaha” ia meludah, biji matanya lebar, seakan mau jatuh dari tempatnya saja…

aku benar-benar muak, mengapa ibu rela harga dirinya diinjak-injak oleh orang angkuh seperti ini?
“Yang penting saya akan bayar hutang ibu, anda diam saja!!” aku meluapkan semua emosiku diiringi tamparan keras dari tangan ibu “GENDIS!!! Kurang ajar kamu, jaga mulutmu…!!! Maafkan anak saya ndoro, dia endak tau apa-apa… Kalau anak saya belum cukup pun, sisanya akan saya tuntaskan” Ibu berlutut pasrah dikaki wanita tua itu,
“Ibu!! Sudah… ayo kita pergi dari sini…” Tak rela aku segera menarik tangan ibu, tapi ibu tetap teguh den mendorong aku hingga aku terjungkal…
“Diam kamu!!” bentaknya, aku tak habis fikir… dimana harga diri ibu?? “Anakmu ini benar-benar kurang ajar Ajeng!! Ndak sudi jadi mantuku… Pantasnya lebih hina dari pembantu!!” wanita tua itu terus menudingku sambil mendelikan matanya sedangkan ibu terus saja menyembah-nyembah kaki busuknya… Aku bersih keras membawa ibu pergi dari hadapan wanita tua sombong itu, entah apa yang ibu lakukan untuk berontak dari genggamanku, aku tak peduli… kami masih punya harga diri…
Aku pun pergi meninggalkan taman firdaus yang ternyata adalah sarang ular, bagaimana bisa ibu menemukan tempat nista seperti ini, aku tak habis fikir… aku terus melangkah menjauhi wanita tua yang tengah berkoar-koar tak jelas disebelah sana, hatiku terlalu pedih melihat ibu menyembah-nyembah orang itu…

Tak jauh sekitar beberapa meter dihadapanku seorang pria memandangku heran, sosoknya berkarisma meski ia hanya mengenakan selembar kaos dan celana pendek, lelakunya tetap santun. kacamata yang bertengger diwajahnya membuat ia tampak dewasa, dengan tangan kanan yang masuk di saku celananya sedang tangan kirinya menggenggam sebuah buku, terlihat jelas keasikannya membaca terganggu oleh hentak langkahku yang penuh emosi… sepanjang aku berjalan ia terus menyorotkan mata kearah ku dan ibu… Sampai langkahku terhalang oleh gerbang megah yang gagah menjulang,batas dimana sarang ular itu berakhir… Aku membuka dan membantingnya keras-keras, setelah itu aku tak tahu lagi. Entah siapa dia… aku tak peduli, yang ku tahu siapa saja yang tinggal ditempat itu pasti wataknya tak jauh berbeda dengan wanita tua yang angkuh tadi…

B e r s a m b u n g . . .

Ada Komentar ?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s