Series 2 “Gendis, Kartini Malang”


By: Zenith Tacia Ibanez

S a m b u n g a n . . .

“Puas kamu bikin malu ibu!?!?” Ibu menampar aku sejadi-jadinya, “Mau taruh dimana muka ibu Gendis…” Suara paraunya diselingi tatapan mata menyalah,“Kalau Ndoro Tantri benar-benar marah, sampai mati pun hutang ibu tidak akan lunas… Celakalah ibu!!” kini air matanya mulai meleleh, aku mencoba untuk menenangkan ibu “Meskipun ibu punya hutang, kan Ndak seharusnya harga diri kita diinjak-injak olehnya, ibu”
“Kamu ndak tau siapa ndoro Tantri, antek-anteknya itu banyak, ibu bisa dibunuh kapan saja olehnya, ngerti ndak sih kamu!?!?!” Ibu menekankan intonasinya
“Gendis akan Bantu ibu bayar utang”
“Kamu bisa apa?? Utang ibu itu terlalu banyak… Ibu mohon kamu menikah dengan anaknya ndoro Tantri saja kamu enggan…!!” ibu memalingkan wajahnya dari hadapanku…
“Kenapa ibu ndak bilang kalau ibu punya utang sama wanita ular itu??” aku bertanya getir menunjuk-nunjuk keluar jendela,menjadikan pohon disebelahnya sebagai kambing hitam…
“Namanya ndoro Tantri!! Jaga mulutmu itu Gendis!!… Kamu bilang apa?.., semua ini untuk hidupmu juga, kamu kira dari mana ibu bayar sekolahmu??Hah??…” Ibu tak henti mengucurkan air matanya, wajahnya merah padam…
“Lalu untuk apa ibu berkorban sejauh ini, kalau akhirnya Gendis dipaksa menikah, toh usaha Gendis belajar juga akan sia-sia…” titik-titik air mata mulai membasahi pipiku, tanpa terasa jatuh begitu saja… Aku letih, aku tak mengerti, aku tak tahan lagi… Ku tinggalkan ibu sendiri dirumah reyot itu, aku berjalan kemana saja kakiku melangkah, tak tentu arah… aku tak ingin menjadi Gendis yang hidupnya tertekan dan dikekang lagi…

* * * * *

Seperti halnya dengan danau tenang berair keruh yang kini terbentang luas didepan mataku, pikiranku pun sama keruhnya… Air mataku yang sudah kering sedari tadi lagi-lagi meluncur dengan mulus… entah mengapa, aku tak mengerti… tenangnya angin yang berhembus seakan kenal betul warna hatiku… Membiarkan aku tenang menikmati kesejukannya sembari duduk diatas kursi panjang menghadap ke arah danau… Aku terikat dalam lamunanku…

“Permisi, boleh saya duduk disini??” suara itu memecah keheningan, ku lihat di mana sumbernya… seorang Pemuda sedikit lebih tua beberapa tahun tengah bertanya santun padaku..
“Yaa, silahkan” Kataku sembari mengusap air mata dengan tergesa-gesa, tak ingin orang lain tau semua pedihku… Ia pun segera duduk disampingku
“Kalau ingin menangis, menangislah… saya ndak ingin mengganggu adik… hanya ingin membaca buku di sini” Ujarnya sambil tetap menatap halaman bukunya dengan serius… aku hanya terdiam heran, namun tak apalah… Bersyukur jika ia benar orang baik-baik… aku memandang wajahnya yang diterpa angin pelan, Agak lama setelah ia sadar sedangku perhatikan, kaca matanya berkilau bening… “Kenapa?” Tanyanya membuatku terkejut, tetapi wajahnya tetap serius sambil terus membaca buku, “Ah? Tak apa” aku tersenyum sedikit, namun ia tak mempedulikanku… “Saya hanya merasa pernah bertemu dengan anda sebelumnya, tapi saya lupa” Ujarku kemudian…
“Panji…Nama saya panji” Ia membenahi perkataanku
“Oh iya, maaf… Mas Panji”
“Dimana adik pernah bertemu saya?” Kali ini ia mengangkat wajahnya memandangku…
Ia juga dapat menerka umurku yang lebih kecil dibawahnya, terlihat jelas dari sapanya menyebutku adik…
“Gendis… Nama saya Gendis” aku mengikuti ucapannya
“Oke,baiklah… haha” Ia tertawa manis sekali kemudian melanjutkan bacaanya, membuat aku mengalihkan pikiranku dari masalahku sendiri “Entahlah, saya lupa” aku menjawab pertanyaanya yang sempat hampir tak ku jawab. Ia tak bergeming hanya tersenyum tipis dan terus membaca buku… Aku sendiri mencoba menenangkan hatiku dengan menikmati panorama danau yang indah ini… suasana begitu hening diwaktu yang lumayan lama ketika ia serius membaca buku, ku lirik sampul buku dibalik tangannya. Agaknya itu seperti buku ensiklopedia yang pernah ku lihat diperpustakaan sekolahku… Buku itu begitu tebalnya, pasti orang ini pintar luar biasa, dilihat dari jenis buku yang mampu mengendalikan otak untuk berimajinasi terus dalam pikirannya. Aku kembali menikmati alam “Hemmmhhhh…” Aku menghirup dan membuang nafas panjang… Ku rasakan udara bersih kini berganti mengisi rongga paru-paruku… pemuda berkacamata itu mengangkat wajahnya lagi dan memandangku… aku yang heran, sesaat tersadar kalau suaraku ini mengganggu keseriusannya membaca buku…
“Maaf…” aku tak enak diri, Namun ia tersenyum padaku…
“Tak apa, lakukanlah bila itu dapat mengurangi kesedihan adik… Itu lebih baik dari pada adik menangis seperti tadi…” Ucapnya bijaksana, yaa memang ada benarnya… Aku tersenyum. Malu sendiri…

Hanya dalam waktu sekejap, aku dan mas Panji cepat sekali akrab kami membicarakan hal-hal yang menguras otak, terkadang ada saja perdebatan ringan diantara kami… tentang pendidikan, politik, hukum, sampai Agama pun kami bahas… Wawasannya benar-benar luas, aku mendapat banyak pengetahuan darinya, membuat aku bersemangat lagi…
“Kalau saya boleh tau, kenapa tadi dik Gendis menangis?” mas Panji mulai menutup bukunya seolah siap menampung keluh kesahku… aku teringat lagi oleh ibu di rumah
“Ini… masalah keluarga saya” aku menunduk, menyembunyikan murungku yang sempat teralihkan tadi…
“Maaf, saya lancang… bukan maksud saya ikut campur…” Mas panji ikut menunduk, merasa bersalah… aku tersenyum menggelengkan kepalaku sambil terus menatap jauh kesana…
“Saya hanya sedih memikirkan ibu… kasihan ibu…” Aku mulai bercerita panjang lebar tentang masalah yang ku hadapi saat ini… Mungkin tak apalah jika aku menceritakan masalah pribadiku padanya, aku mempercayainya… Mas Panji tampak serius mendengar semua curahanku, terkadang ia memberikan komentar dan solusi yang bijak membuat aku semakin mampu untuk berfikir positif dalam menghadapi masalah ini…
“Bagaimanapun itu ibumu, maafkan saja ia… toh bukan keinginanya terlilit hutang” Mas panji berujar bijak
“Yaa… saya selalu memaafkannya, meski saya sendiri yang dikorbankannya”
“Jangan berkata begitu, tak ada ibu yang mau mengorbankan anaknya” Mas Panji menekan ucapannya,
“Memaksakan anaknya menikah dengan orang yang tak dikanal demi melunasi hutang, itu apa namanya??” Aku bertanya meminta penjelasan… “ibumu ingin yang terbaik untukmu, Gendis… Mungkin menurutnya itulah yang terbaik”
“Saya masih sekolah mas, saya rasa itu bukan yang terbaik bagi saya” aku tetap teguh pada pendapatku,
“Hanya Gusti Allah yang tau nasib hamba-Nya,Gendis” katanya kemudian, pembawaanya tetap tenang dalam menghadapi aku yang mulai protes terhadap hidupku sendiri… Ia mampu membuatku terdiam… aku tak dapat memikirkan kata-kata untuk membalasnya “Baiklah jika memang begitu… Tapi saya tetap ndak sudi, harga diri kami diinjak-injak oleh rentenir itu… tak seharusnya ia berbuat semena-mena pada ibu walaupun ibu punya hutang padanya!” Amarahku membuncah lagi ketika mengingat ibu menyembah kaki wanita tua yang angkuh itu… “Memang sakit saat mengingat orang yang kita sayangi melakukan kesalahan, kita pasti tidak ingin orang yang kita sayangi bermasalah dengan orang lain bukan?? Tapi kalau kita tidak bisa menolongnya, mau gimana lagi?? Oleh karena itu Gendis, bersyukurlah kamu masih bisa menolong ibumu… Jangan lupa untuk terus mengingatkannya pada Gusti Allah… Dunia bukan segalanya… Masih ada kehidupan setelah ini yang lebih baik” Mas Panji berkata bijak… aku memandangnya kagum, darimana datangnya orang ini??, Santunnya, tutur katanya, kebijakannya, pikirannya, bahkan wajahnya pun sempurna… Apakah seperti ini sosok Raden patah yang sering ayah ceritakan dulu??… Aku tersenyum, ketika ia mengingatkan aku pada ayah… Namun, Kini berganti wajah mas Panji berkabut, seolah pikirannya pergi menerawang jauh, meniti setiap masalah-masalah yang ia pikul… entah kenapa aku memberanikan diri menggugahnya, lancang memang… namun aku ingin tau
“Kenapa mas?” Ia tetap terdiam dalam lamunannya,
“Mas… mas panji…!” panggilku sekali lagi dengan keras,ia tersentak “Eh, iya… kenapa??” ia mengerjap-ngerjapkan matanya,kemudian melepas kacamatanya dan memijat tulang hidungnya yang letih menyangga kaca mata sedari tadi… baru kusadari ternyata Ia tampak lebih tampan tanpa kaca mata… Aku hanya mengaguminya dalam hati, merasa tak pantas bila diungkapkan… sepertinya ia dari keluarga bangsawan yang kaya raya, Toh aku bukan siapa-siapa, hanya seorang anak yang ia temui di danau ini…
“mas Panji Kenapa?” Tanyaku mengalihkan pikiranku tentangnya…
“Tak ada apa-apa, hanya saja saya jadi mengingat ibu saya juga…” Lagi-lagi ia tersenyum tipis…
“Mas Panji boleh bercerita apa saja tentang masalah mas, saya akan dengarkan” Aku tersenyum lebar mencoba menceriakan wajahnya kembali… Cukup aku yang bersedih di danau ini untuk hari ini.
“Sama halnya seperti kamu, ibu saya juga dalam masalah… tapi ibu saya berbeda, Ia tak menyadari kalau ia dalam masalah… sudah terlalu banyak orang yang membencinya. Saya takut, Gendis…” Ucap Mas Panji sembari memakai kacamatanya kembali… “Ia membuat kesalahan yang banyak merugikan orang, saya takut kalau-kalau mereka marah dan membalas dendam kepada ibu… saya ingin menolong ibu, tapi tidak bisa…” lanjutnya panjang lebar matanya menerawang jauh ke hamparan danau hijau yang luas itu… “Mas bisa menolongnya dengan menegurnya kalau ibu mas berbuat kesalahan, bukan?” Aku menawarkan solusiku… “Sudah saya coba berulang kali, tapi ibu tetap ndak mau mengerti…” Wajahnya bingung, seperti saat aku dalam masalah tadi… “Bahkan saya tau, sekarang pun ia telah membuat menderita sebuah keluarga miskin…” Lanjutnya lagi… aku memutar otak untuk membantunya mencari jalan keluar “Kunjungilah keluarga itu mas, tak ada salahnya mewakili ibu mas untuk meminta maaf… Mas juga bisa mengganti rugi, jika mas mampu? Pasti mereka akan maklum” Aku mengeluarkan pendapatku ragu-ragu, mustahil untuk berhasil memang, karena sakit hati itu tak bisa dibayar dengan materi…
“Tak semudah itu… Iya kalau mereka mau memaafkannya, kalau tidak bagaimana?? Ibu saya telah mempermainkan hidup mereka, menawarkan sebuah pilihan yang sulit Dan kini juga menyangkut masa depan saya… saya bingung…” keningnya semakin berkerut, “Maksudnya??” aku bertanya tak mengerti…
“Ibu saya orangnya otoriter, apapun ia lakukan asalkan keinginannya terpenuhi… Ibu ingin saya meneruskan usahanya, tapi saya masih ingin belajar… melanjutkan pendidikan kuliah. Dan ibu menawarkan pilihan yang sulit untuk saya, dan kalau saya menolak, saya tak boleh lagi bersekolah…” Penjelasannya panjang lebar… Kasihan mas Panji, ternyata bukan hanya aku yang mengalami masalah berat seperti ini… ternyata, Masalah itu tak mengenal materi, orang kaya raya pun juga punya masalah sama seperti orang miskin… “Bersabarlah mas, Hanya Gusti Allah yang tau nasib hamba-Nya” Ucapanku meniru persis kata-kata bijak mas Panji… dan lagi-lagi mas Panji tersenyum… Seharian penuh ini aku dan mas panji mengahabiskan waktu untuk berbincang-bincang dan terus tersenyum… Sebagai orang asing yang baru ku kenal, kesannya sangat baik… Tanpa terasa waktu menjelma sore, langit biru kini merona dengan semburat-semburat jingganya… Danau hijau tetap tenang tak ada yang mengusiknya, hanya aku dan mas Panji yang membuat gaduh…
“Sudah sore, kamu ndak pulang, Gendis??”, “Iya, saya mau pulang, ibu pasti mencari saya”, “Ya sudah, pulanglah… jika kamu mendapat masalah, menangislah di sini, saya pasti akan datang lagi… Haha” Ia mencandaiku, Lantas ku tepuk bahunya “Mas Panji ngeledek nih,haha” aku ikut tertawa… Dan akhirnya kami berpisah, menyisakan tanya dibenakku, mungkinkah kita bertemu lagi…

B e r s a m b u n g . . .

Ada Komentar ?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s