Series 3 “Gendis, Kartini Malang”


By: Zenith Tacia Ibanez

s a mb u n g a n . . .

Hari mulai gelap ketika aku sampai dirumah, Rumah kecil yang terbuat dari bambu reyot itu hanya disinari oleh cahaya remang-remang lampu teplok, terkesan semakin kumuh karena terhimpit rumah-rumah kecil lain, Dari dalamnya terdengar sesenggukan orang menangis, suara ibu… Aku menyesal meninggalkan ibu sendirian dirumah… tubuhku tertahan dibalik pintu… tak berani masuk… Sesaat kemudian suara tangis ibu mereda, dan pintu itu terbuka menggoyahkan tubuhku yang bersandar disisinya…
“Gendis?? Ngapain kamu di situ?? Ayo masuk, sudah magrib ini…” Ibu merangkulku dan mengajakku masuk… Aku tahu ibu sayang padaku, aku juga sayang padanya… sangat sayang… Tak mampu aku membendung air mata, ku peluk erat tubuh ibu “Maafkan Gendis bu…” Aku menangis dipelukan ibu…ibu sempat terkejut, kemudian Ibu mengusap kepalaku dengan sayang, Air matanya juga tumpah diatas kepalaku “Ibu yang bersalah, Gendis… Ibu yang seharusnya minta maaf… maafkan ibu yaa” suara ibu begitu serak dan parau… layaknya perempuan tua yang tubuhnya rentah tak berdaya, aku hanya mengangguk lemah, air mataku masih berjatuhan, kian deras…
“Gendis mau melakukan apapun demi ibu, Gendis mau menikah kalau itu mau ibu” Kataku kemudian dengan sangat yakin… Kebahagian ibu adalah segala-galanya, ini saat yang tepat untuk ku bisa membalas jasanya, meskipun tak seberapa dibandingkan butiran peluh yang tiap harinya jatuh demi mempertahankan kehidupanku…
“Tidak Gendis, kamu harus terus sekolah… jangan jadi orang miskin seperti ibu ini… kamu harus berhasil ya nak” ucap ibu diselingi sesenggukan…
“Iya bu…”
“Yaa sudah sekarang kita makan yuk, dari tadi kan kamu main terus,belum makan…” aku dan ibu pun berjalan ke meja makan,aku mengambil segelas air untuk kerongkonganku yang sedari tadi terasa haus ini…

* * * * *

Hujan deras mengguyur sekolahku, bising air yang jatuh ditambah angin ribut yang menerbang-nerbangkan gorden jendela kelas membuat aku sulit mendengar penjelasan pak Anto didepan sana. Padahal ini pelajaran yang sangat aku sukai, biologi… Meski sekarang hampir pukul 13:00 siang, tak ada satu anak pun yang tampak letih seperti biasanya, pikiran mereka segar , karena air yang jatuh dari atap kelas bocor itu menimpa meja-meja mereka, buku-buku mereka, kepala-kepala mereka dan sepertinya usaha pak Anto akan sia-sia karena suaranya terkalahkan oleh bisingnya air hujan. Hingga bel pulang sekolah, hujan tak juga reda… Tak biasanya hujan selama ini… Beberapa anak nekat pulang dengan hujan-hujanan, baju, tas, sepatu mereka basah kuyup… Sedangkan anak-anak lain yang masih menyayangi barang-barang mereka memilih untuk tetap menunggu… Bosan aku diam menunggu seperti anak-anak lainnya, aku pun berlari menuju perpustakaan, siapa tau ada sesuatu yang membuat aku tidak bosan lagi, sembari menunggu hujan reda. Sampai disana aku mulai menyisiri tiap baris buku yang berdebu itu… Terkadang ku ambil sebuah buku, kubaca judulnya,kemudian kuletakan kembali… Kuambil, ke letakan kembali… begitu selanjutnya sampai aku menemukan sebuah buku tebal yang berada dipojok bawah lemari… Buku itu sama persis seperti buku ensiklopedia milik mas Panji yang ia baca di danau waktu itu, karena penasaran isinya aku coba untuk mulai membaca lembar demi lembarnya… pertama, aku sukar mengerti kata demi kata ilmiah yang tercantum ditiap paragrafnya, tapi kemudian aku mulai mengerti apabila kalimat demi kalimatnya sudah terangkai… Aku keasikan membaca buku sampai-sampai aku tak menyadari kalau hujan telah reda sedari tadi… Sekolah sudah sepi, ku letakan buku itu ditempatnya semula setelah sempat menandai tempat dimana bacaanku yang terhenti. Aku berjanji dalam hatiku jika aku telah selesai membaca buku itu, dan ketika aku sudah bertambah pintar, akan ku ajak mas panji untuk berdebat lagi… Hari menjelang sore… pasti ibu mencariku… aku pun buru-buru pulang kerumah…

“DENGAR AJENG!!, KALAU KAMU ENDAK SERAHIN ANAKMU DETIK INI JUGA,JANGAN HARAP HUTANGMU BISA LUNAS…!!” Suara itu membentak ibu, terdengar sampai luar rumah, aku terkejut setelah mendapati rumahku yang kini telah berantakan, orang-orang bertubuh besar melempari barang-barang yang ada-keluar rumah… Tangisan ibu semakin menjadi-jadi “JANGAN!!!JANGAN DIBUANG!!!!” Ibu berusaha mempertahankan barang-barangnya, namun belum sempat ibu membela diri, seseorang menendang ibu hingga ibu terjatuh diantara tanah-tanah becek dan barang-barang rongsoknya… siapa lagi kalau bukan wanita tua yang sombong itu, Aku segera berlari memeluk ibu
“Sudaah hentikaan!!!” aku berteriak, namun mereka tak peduli… mereka terus saja melempari barang-barang kami…
“AMPUN NDORO!! AKAN SAYA BAYAR HUTANG SAYA, TAPI JANGAN AMBIL ANAK SAYA NDORO!!” Ibu berteriak-teriak dikaki wanita tua itu, “Sudah ibu, ndak perlu sujud-sujud dikakinya” Aku mengangkat lengan ibu diantara isak tangisku dan ibu yang semakin keras, semua tetanggaku berlari keluar dari rumahnya, mereka hanya bisa melihat kami tanpa berani menolong… “KAMU IKUT SAYA SEKARANG JUGA!!! MASIH UNTUNG KAMU SAYA NIKAHKAN SAMA ANAK SAYA.!!! SUDAH SEHARUSNYA KAMU JADI BABU DIRUMAH SAYA!!” Wanita tua itu menjambak rambutku keras-keras namun aku tetap memeluk ibu, ibu menangis sejadi-jadinya, “JANGAN NDORO!!!” Ibu bersujud dikaki wanita ular itu “KAMU INI BAGAIMANA SIH!?!?!? WAKTU ITU KAMU SENDIRI YANG NAWARIN ANAK GEMBEL INI UNTUK MELUNASI HUTANG-HUTANG KAMU!!” Wanita itu menendang-nendang ibu
“SUDAH CUKUP!!!” aku yang tak rela ibu tersiksa, segera menjambak sanggul wanita tua yang rapi itu, namun seseorang bertubuh kekar menampar wajahku dan memukul pelipisku dengan genggam tangannya, sakitnya bukan main… hingga Darah kental mengucur terjatuh dipipiku, rambutku kini dijambak lagi oleh wanita tua itu “KAMU JANGAN KURANG AJAR YA!!! MASIH SAYA BIARIN HIDUP SUDAH UNTUNG!! Ayo kita pergi, bawa anak ini!!” Perintahnya kemudian kepada orang bertubuh kekar yang mencengkram tanganku kuat, sedang ibu terus saja menangis berteriak-teriak pilu melihat kepergianku bersama gerombolan iblis jahanam ini… “IBU!!!” teriakku pada ibu, namun mobil pengap ini membawa aku pergi menjauh dari ibu, ku lihat ibu berlari mengejar laju mobil ini diantara Lumpur-lumpur becek, air mata ibu terus mengalir tiada henti, tubuhnya yang ringkih jatuh terpeleset dan kulitnya menjadi baret-baret… Aku tak tahan melihatnya, aku memberi isyarat pada ibu untuk berhenti mengejarku, aku coba tersenyum dalam tangisku “Tak apa, demi ibu…” bibirku berlekuk, lekukan yang dimengerti ibu, teriakan ibu semakin keras meraung-raung parau diantara jerit tangisnya yang samar-samar menghilang bersama bayangannya diujung sana “GENDISS…!!!”…

aku hanya bisa menangis dan menangis… Wanita tua itu tertawa-tawa bersama antek-anteknya diatas penderitaanku dan ibu “Biadab!! Cuwih..!” ku ludahi wajah wanita tua itu, dan tamparan keras lagi-agi mendarat dipipiku… pedis rasanya…

Seperti binatang buruan yang tengah sekarat, rambutku dijambaknya kuat hingga tubuhku terseret, melewati pintu gerbang megah yang pernah kubanting waktu itu. Ku kira, aku tak akan pernah melewatinya lagi, aku ingin membantingnya sekali lagi dan keluar seperti waktu itu, tapi kali ini aku tak bisa berkutik dalam seretan antek-antek wanita tua itu… mataku mulai samar, kepalaku semakin pusing… tubuhku kini pasrah tercabik-cabik kerikil tajam… nafasku tersengal-sengal,antara hidup dan mati… Oh Gusti Allah,tolong aku… Masih ku ingat kolam ikan didekat pohon akasia itu, namun kini berubah seram dan menakutkan. Disaat mataku mulai terpejam dengan wajahku yang kini lebam-lebam, aku menangkap sesosok bayangan yang tengah berdiri disamping kolam itu, aku coba memfokuskan pandanganku. pria itu menatapku heran… pria itu…? yang waktu itu juga menatapku dengan heran ketika aku pergi mambawa ibu keluar dari sarang ular ini… ternyata Ia selalu berdiri disitu rupanya, tanganya juga memegang buku seperti waktu itu… Tapi kini berbeda. ia benar panik, sampai-sampai membuang bukunya dan mengejarku yang tengah diseret-seret ini… “Gendis?!?” suara itu membuat mataku terbelalak, tak asing lagi… itu suara mas Panji… tubuhku merontah kembali, menangis-nangis… Ternyata itu benar mas Panji “Ibu… Ibu… sudah to bu… lepasin Gendis, ada apa ini bU!?!?…HEH!! SUDAH!!!LEPASKAN DIA!!!!” Ia menepis tangan orang bertubuh kekar yang menyeret rambutku tadi setelah petanyaannya tak digubris oleh wanita tua itu… aku jatuh terkulai
“ibu ini kesetanan ya!?!?!” Mas Panji menajamkan matanya pada wanita tua itu, “Jaga mulutku Panji!! ini kan maumu??”, “Iya… Tapi ndak gini caranya bu!” apa yang ku dengar?? mas panji memanggilnya ibu?? aku yang tak berdaya kini hanya bisa menangis, kecewa… ternyata Mas Panji anak dari wanita ular itu… Aku menyesal telah mengenalnya… “Ibu ini keterlaluan..!!” ia menuding-nuding wanita tua itu “Sudahlah,jangan banyak bicara… Inikan gadis yang kamu sukai itu?!?! Cepatlah nikahi dia, lalu teruskanlah usaha ibu sebelum ibu membunuhnya!!” wanita tua itu menudingku lalu pergi meninggalkan kami… aku semakin tak percaya… tapi juga membuat aku mengerti apa yang sebenarnya terjadi… Mas Panji bisa sekeji itu padaku…
“Gendis!” Mas Panji segera merengkuhku diatas pangkuannya… Aku berontak, suara teriakanku telah habis, namun aku terus menangis “maaf…” aku tak sudi mendengar ucapannya, apalagi rebah diatas pangkuannya… aku berontak sekuat tenagaku tapi mas Panji memelukku erat
“Gendis dengar dulu…”
“SUDAH MAS!!! AKU MAU PULANG!!!…”
“Semua ini bukan..” ia mencoba menjelaskan sesuatu, tapi aku tak mau mendengarnya, aku terus berontak, menepis tanganya hingga mengenai kacamata beningnya, Kaca mata itu ternodai oleh darah kentalku dan jatuh pecah…
“SUDAH CUKUP!!! KALIAN MEMANG KELUARGA ULAR!!!”
“GENDIS!!! DENGARKAN SAYA DULU!!!” mas panji membentakku, dan mencengkram tubuhku erat… membuat aku terkulai lemas, kini aku tak mampu berontak lagi, tenagaku hanya mampu untuk menitikan air mata,
“Bukan keinginan saya membuat keluargamu menderita seperti ini, Gendis… maafkan saya… saya ndak mampu menolong kamu… Ini yang saya takutkan… Kamu ingat ndak, saya pernah cerita ke kamu bagaimana kejamnya ibu saya?? Ia membuat sebuah keluarga menderita… kamulah yang saya maksud, saya takut untuk meminta maaf kepadamu, makanya saya ndak berani bilang apa yang sebenarnya”,jelas mas Panji sambil terus memelukku tak ingin apa bila aku kembali berontak, dan keadaanya aku memang berontak “KENAPA MAS PURA-PURA BAIK SAMA SAYA, KENAPA NDAK BILANG DARI AWAL!?!?!” aku meminta penjelasan “Gendis!! Diam dulu… dengarkan saya…! saya ndak mau kamu membenci saya kalau kamu tau siapa saya” matanya mulai berkaca-kaca, begitu lekat menatap wajahku… air mataku semakin menderas, didekapkannya wajahku didadanya, rambutku yang kusut itu diusapnya lembut… “Semula saya ndak mau dipaksa menikah dan melanjutkan pekerjaan biadab ibu sebagai rentenir, tapi ibu mengancam saya akan memberhentikan sekolah saya jika saya menolaknya… saya ndak mau, Dis…” Suara mas Panji berubah lirih… “Tapi ketika melihat kamu yang dijual sama ibu kamu untuk melunasi hutang, saya jadi ndak tega… Ditambah lagi, setelah saya banyak berbicara denganmu di danau waktu itu, Saya jadi suka sama kamu…” ucapannya membawa tanya dibenakku “apa yang mas lihat dari saya?!? Saya hanya perempuan miskin…” aku meyakinkannya agar matanya terbuka lebar… “saya kagum sama kamu yang masih punya harapan untuk hidup bahagia dengan ibumu, meski masalah besar tengah menimpahmu…” sesaat jantungku berhenti berdetak mendengar pernyataan dari mas Panji… tapi mas Panji terus melanjutkan penjelasannya “saya berani ambil resiko menentang ibu, saya ndak mau meneruskan pekerjaan ibu apabila keluargamu masih dibuatnya menderita… karena saya tau hutang ibumu terlalu banyak, dan pasti ibu saya tak akan berhenti menyiksa ibumu, maka itu saya mau dinikahkan dengan kamu sebagai pelunas hutang ibumu…” Mas Panji menjelaskannya panjang lebar
“kenapa mas nekat mengambil keputusan itu?? Mas seharusnya memikirkan perasaan saya juga, bukan malah menikah dengan terpaksa…!!”
“Karena mungkin hanya itu satu-satunya cara, Gendis… Saya berjanji ndak akan menyakiti ataupun memaksamu kalau kamu jadi istri saya nanti..”, aku tak mengerti pemikiran mas yang sedangkal itu, emosiku membucah lagi…
“TAPI SEKARANG LIHAT SAYA MAS…!!! LIHAT SAYA!!! APAKAH SAYA TERLIHAT LEBIH BAIK SETELAH HUTANG IBU SAYA LUNAS!?!?! DISANA IBU SAYA SANGAT MENDERITA MAS, KARENA BERPISAH DENGAN SAYA!!!” Aku menunjuk-nunjuk gerbang megah yang tinggi menjulang itu sembari mendorong-dorong tubuh bidang mas panji
“SAYA NDAK TAU, KALAU AKHIRNYA KAMU DIBAWA KESINI DENGAN CARA SEPERTI INI!!KALAUPUN SAYA TAU,SAYA NDAK AKAN MEMBIARKAN IBU MENYERET-NYERET KAMU, KARENA SAYA CINTA SAMA KAMU,GENDIS!!!” suaranya tak kalah keras membuah tubuhku lemas lagi… seandainya ia tahu kalau aku pun mulai mencintainya… tapi semua ini membuat hatiku remuk, karena aku terlalu membenci ibunya, karena kami terlampau jauh… Karena semua ini tak akan mungkin terjadi… Aku bingung, aku segera bangkit dan berlari… dengan tenagaku yang tersisa, aku pergi meninggalkan mas Panji…
“Gendis!!! Tunggu”,aku tak menghiraukannya, hatiku benar-benar hancur… dibelakangku aku tau Mas Panji tengah mengejarku… aku terus berlari kemudian membanting gerbang megah itu lagi, Sebuah bis melaju kencang didepan jalan depan rumah mas Panji, tak ku perhatikan jaraknya yang sebentar lagi akan membelah jalan raya itu, sempat ku dengar teriakan mas panji “GENDIS AWAS!!!” BRUAAAK!!!!!…. tapi terlambat sudah… tubuhku remuk digilas roda, dapat kurasakan tajamnya aspal memarut seluruh tubuhku hingga aku terpelanting sejauh 7 meter… kulitku terasa panas, kepalaku pening karena terbentur keras… Hentakan kaki mas Panji mendekati sisa-sisa tubuhku, air matanya tumpah dibibirku, aku tersenyum sembari mengusap wajah beningnya…
“Saya juga cinta sama mas Panji…” satu kalimat yang tertahan dimulutku kini terungkap sudah membuat tangisnya semakin deras… “Sudah, jangan nangis…” aku terus berusaha tersenyum diakhir hayatku… seketika bumi menjadi seputih kapas setelah aku mengucapkan dua kalimat syahadat dipelukan mas Panji “Aysshaduallah… illaha ilallah, wa’ayshaduanna muhammadarrasulullah…”

Aku percaya masih ada kehidupan setelah ini yang lebih baik… Mas panji benar, Dunia bukan segalanya… kini aku sudah tenang untuk selamanya… Mas Panji, sampaikan salam rinduku pada Ibu…

SELESAI_

Ada Komentar ?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s