Series 1 “Oneiric”


By: Zenith Tacia Ibanez

Tak biasanya aku bangun pagi-pagi dihari libur seperti ini. Hawa dingin yang biasanya menyiksa kulit wajahku kini terasa begitu hangat, ditambah lagi pancaran cahaya mentari pagi yang dengan cerianya menyapa kami, makhluk-makhluk bumi yang tidak mampu hidup tanpanya. Kicau burung dan kokok ayam bersaut-sautan bagai irama alam menyambut pagi. Aku duduk di bawah pohon belimbing menatap jauh ke depan. Hamparan perumahan, sawah, dan pepohonan hijau tertata rapi. Masih ada kabut di sana, samara-samar menutup lengkungan gunung yang kian bergandengan. Namun bukan itu yang ingin ku ceritakan, yang ingin ku sampaikan adalah pengalaman aneh yang ku alami kemarin siang.Saat aku terlelap dalam keletihan, dicuaca tak begitu baik, mendung berawan tebal.

Tiba-tiba saja ia hadir dalam tidurku, seseorang yang dulu pernah kusayangi. Seseorang yang dulu biasa ku panggil dengan sebutan mas sebagai bentuk rasa hormatku padanya. Seseorang yang setiap hari menemaniku duduk di teras membicarakan hal yang tidak penting, seseorang yang dulu selalu membuat aku rajin datang ke sekolah pagi-pagi karena hanya ingin melihat senyum manis dari wajah lembutnya itu. Seseorang yang tak henti-hentinya mengirim pesan dengan kata-kata yang penuh perhatian di setiap pagi, siang, dan malam. Seseorang yang dulu tak pernah letih menanti dan mengantarkan aku pulang sekolah. Seseorang yang pertama kali begitu ku cintai, seseorang yang selalu menyium keningku saat dia berpamitan pulang. Seseorang yang selalu meneduhkan jiwaku saat aku melihat senyumnya, Bertumpu di punggungnya, tertawa bersamanya, bercerita tentangnya. Umh, sungguh indah…
Seseorang itu pula yang juga selalu mengajariku bagaimana cara bersabar saat dia mulai sering membicarakan perempuan lain, memuji dan membanding-bandingkan aku dengan perempuan lain, Seseorang yang bisa membuatku takut kehilangan dia, dan seseorang itu juga yang mengajari aku ilmu ikhlas saat dia pergi meninggalkan aku, memutuskan kasih yang ia mulai sendiri denganku demi mengejar perempuan itu.Seseorang yang membuat aku merindukannya, seseorang yang paling banyak membuat air mataku berceceran, seseorang yang selalu ada dibenakku, seseorang yang telah salah melangkah, seseorang yang divonis orang-orang sebagai anak nakal,berengsek, suka mempermainkan hati perempuan, Perokok, urak-urakan, sangat tidak sesuai dengan wajahnya yang lembut itu, Entah aku adalah perempuan keberapa yang terjebak dalam keindahannya. Aku sadar semua itu ada pada dirinya, aku tak pernah bisa melupakanya. Aku yakin, sebenarnya dia baik, hanya saja pergaulan menekan hidupnya menjadi seperti itu. Meskipun berkali-kali aku mencoba untuk membencinya atas dasar dan alasan yang cukup kuat, namun tetap tidak bisa… Meskipun ia telah meninggalkan aku, sekalipun aku tidak pernah benar-benar membencinya, kadang rasa iba, belas kasihan ku melihatnya… Mengapa ada ciptaan Allah sedemikian rupa seperti dia, Tubuhnya sempurna, wajahnya tampan, bicaranya lembut, tak pernah sekalipun ku dengar teriak bentakan yang keluar dari bibirnya, Kulitnya yang putih berseri, dan senyumnya yang manis. Tak disangka dalam balutan keindahan pesonanya itu, Asap rokok memenuhi setiap sudut ruang paru-parunya yang rentan, seperti ingin membusuk saja, meracuni organ-organ tubunya dan membuatnya lemah seperti jatuh dalam kehancuran. Namun dia seolah tegar, seakan hidupnya sempurna dan bahagia, Ia terus melaju kencang dengan motor kesayangannya, dikala dingin membeku, diantara orang-orang tidak berguna. Tidak peduli orang-orang mencemoohnya, Ia terus hidup dalam kebohongan, ingin sekali ku ajak ia keluar dari semua kepalsuan hidupnya ini, aku tahu saat ia tertawa dalam hatinya menangis, ia selalu mencoba ceria, meskipun dalam hatinya kesal luar biasa. Tak pernah sekalipun ku lihat bentuk luapan dari emosinya, kasihan dia…

Jika memang ia hadir dalam benakku sebagai kembang tidur siang itu. Aku benar-benar tak ingin kembang itu tumbuh dalm mimpiku, seperti mayat mataku terpejam begitu lama, mimpi yang aneh tentang hadirnya dia…ah, tak tahulah…! Mungkin bisa kau nilai sendiri seberapa anehnya :

Entah pikiran apa yang merasuki guru-guruku, diam ku dengar pengumuman dari kepala sekolah yang berkoar-koar didepan sana membuat senyuman lebar tersungging disetiap raut wajah para murid yang mendengarnya, menandakan bahwa ada berita bagus. Tak ada bedanya dengan murid-murid lain, Aku, Vega, Diana, Nora, yayu dan lain-lain begitu senang. Katanya, Besok pagi seluruh murid-murid sekolahku akan berlibur dan menginap ke sebuah tempat yang indah bersama guru-guru yang mendampingi kami. Kemana tujuan kami, tidak jelas dalam mimpiku, Yang pasti kami akan melakukan perjalanan seru beramai-ramai.

Benar saja, Esok harinya di sekolah telah ramai oleh anak-anak bertas ransel. Aku dan teman-temanku berkumpul di suatu tempat dimana aku dapat melihat makhluk-makhluk berlalu-lalang, Anak-anak kelas satu, dua dan tiga berbaur tanpa tersekat dinding penghalang. Dan tak sengaja mataku melihat dia, seseorang yang pernah bernaung dihatiku itu berada di tengah kerumunan anak-anak kelas tiga, Ia duduk di atas motornya yang apabila melaju kencang akan mengeluarkan suara super bising nyaris meretas gendang telinga. Motor itu berwarna merah berpadu putih. Aku teringat semasa itu, motor yang sangat ia banggakan itu berwarna merah putih melambangkan dirinya yang cinta tanah air.Aku pun tertawa sendiri, memikirkan lucunya seseorang remaja urak-urakan dan tidak bermoral-begitu imagenya dimata banyak orang- masih bisa mengakui dirinya sebagai anak bangsa yang cinta pada tanah air. Dia benar-benar gila..

Ia tengah asik mengobrol dengan teman-temannya. Ia mengenakan T-sirt polos berwarna putih, jins panjang, dan gelang Army yang melingkar dipergelangan tangannya yang sudah pasti menjadi ciri khasnya. Aku hafal sekali dengan itu, yang ku ingat gelang Army berwarna hijau itu adalah milikku yang ia pinjam dahulu. Sampai sekarang aku merelakannya melingkari pergelangan tangan mantanku itu. Ku harap barang itu akan selalu mengingatkannya padaku.

Perjalanan kami pun dimulai, aku menumpangi bis yang telah disewa oleh sekolah bersama Yayu dan Nora. Entah apa yang mereka lakukan di samping tempat dudukku tidak jelas dalam mimpiku, mataku memandang keluar jendela melihat iring-iringan motor yang di gunakan anak-anak lain dalam perjalanan. Tampak motor merah putih itu menyalip bis yang aku tumpangi hingga akhirnya hilang di ujung sana, Setelah itu tak ku lihat lagi, mataku perlahan terpejam. Aku tertidur pulas dalam perjalanan. Sesuatu keganjilan dalam mimpi yakni Dalam tidurku, aku bahkan bermimpi sedang tidur hahaha…

“Woy Ze ! Bangun…” Yayu menepuk-nepuk bahuku membangunkan aku.. Ku kira kami telah sampai tujuan. Ku lihat keadan sekitar setelah turun dari bis. Tempat macam apa ini..!?!?.. Tidak ada apa-apa di sini, sepanjang mata memandang hanya ada pohon dengan daun-daun hijaunya yang lebat. Aku bertanya pada Yayu, Ia berkata kalau kita harus berjalan lagi untuk sampai ketujuan. Pikirku, Berjalan masuk kedalam hutan?? Apakah kita akan berkemah??…Aku terus saja menurut dan mendengarkan instruksi dari guru-guru pendamping. Kami pun mulai berjalan bergerombol. Udara hutan yang sejuk menyegarkan paru-paru. Sembari bersenda gurau, ku lalui perjalanan setapak demi setapak. Terkadang mataku berkeliaran menyorot kumpulan anak kelas tiga, mencari-cari sosok dia. Entah mengapa aku ingin sekali melihatnya. Dan ku temukan ia, Ia juga tengah berjalan di seberang sana. Jantungku serasa berhenti berdetak ketika melihatnya sedang bersenda gurau dengan seorang perempuan yang ada di sampingnya. Dirangkulnya perempuan nan cantik itu, tubuhnya ramping, rambutnya panjang dan ikal, wajahnya begitu kemayu terlihat begitu anggun… dan akhirnya membuat aku sadar diri, siapa aku harus memperdulikan mereka?. Toh, Aku kan telah menjadi mantannya sejak dia meninggalkan aku sebulan yang lalu. Mengapa aku harus resah dibelenggu rasa cemburu? Dia sendiri juga belum tentu memikirkan aku… Ah terserahlah!… Aku melemparkan pandanganku pada pepohonan yang aku lalui. Aku amati satu demi satu pohon yang berjejer tidak karuan itu. Aku mencoba untuk tidak memikirkannya lagi dengan menikmati hutan ini bersama Yayu dan Nora. Nuansa ganjal yang baru ku sadari, Sepanjang perjalanan tak ku jumpai tanaman lain selain pohon asam yang besar dan pohon beringin tua yang akarnya menjuntai-juntai, begitu lebatnya sehingga pancaran cahaya metahari tak mampu menembus hutan belantara ini. Ada yang mengatakan, konon hutan Asam seluas 4 hektar ini dahulunya adalah tanah lapang yang sangat luas dan dimiliki oleh orang yang sangat kaya raya. Orang tersebut lantas menanam beberapa benih asam di dekat rumah mewahnya yang terdapat di tengah-tengah hutan ini. Namun secara tak disangka, pohon asam itu tumbuh membabi buta di mana-mana, tidak teratur, sehingga sulit diberantas. Pohon-pohon asam ini beberapa kali ditebang dengan berbagai cara dan usaha, tapi semakin lama pohon-pohon ini semakin bertambah banyak,berlipat-lipat ganda. Dan akhirnya menjadi hutan belantara seperti ini. Rumah mewah yang berdiri megah di tengahnya kini ditinggalkan oleh pemiliknya. Namun tumbuhnya pohon beringin yang justru mendominasi hutan ini tidak diceritakan asal-usulnya. Cerita konyol ini mau tidak mau membuat kami sedikit bergidik, takut karena akan mendengar cerita aneh lainnya yang lebih mengada-ada, hasil dari perkembang biakan cerita itu, yang dibuat dari hasil kreativitas orang-orang tidak bertanggung jawab yang menghasilkan cerita murahan semacamnya, Hasil karya yang tidak menyenangkan orang lain… Lagi-lagi keganjilan muncul dalam mimpi, Terkadang suatu kata muncul berulang-ulang dibenakmu, dan tidak ada kata lain yang dapat menggantikannya untuk menyampaikan mimpimu dalam bentuk kata selain kata itu sendiri. Mengerti maksudku??… Hahaha, sudahlah jangan terlalu dipikirkan. Itu hanya akan menambah bintik-bintik jerawat di wajahmu.

Belantara hutan asam ini benar-benar seperti tempat yang tidak pernah dijamah manusia. Aku ternganga ketika sampai tujuan, Tempat yang dimaksud dengan penginapan ditengah hutan itu tak layak lagi untuk di tempati, mungkin dulunya itu adalah bangunan megah, tapi kini telah menjelma menjadi tempat yang seram bukan main. Bangunan ini satu-satunya dihutan asam, Besarnya memang cukup untuk menampung kami semua, warna cat dindingnya telah memudar tak bisa ku tebak, tanaman rambat menempeli bagian sisi kanan bangunan sampai ke atap, padahal bangunan itu terdiri dari tiga lantai. Retak di sana sini, lumut meraja lela, di bagian depannya dipenuhi ilalang setinggi kami, Hanya jalan yang menuju pintu utama saja yang rata dengan tanah. Di sela-sela ilalang itu ada pohon beringin yang sangat besar dibagian kiri bangunan, akarnya lebat menjuntai menyentuh tanah, tingginya melebihi tinggi bangunan tua itu. Batang pohonnya yang gemuk berlipat-lipat itu mungkin bisa menyembunyikan kamu jika kamu bermain petak umpet. Yang benar saja… siapa yang mau bermain petak umpet di tempat seperti ini…?
Kemudian di bagian kanan bangunann tua itu terdapat pohon asam yang sama besarnya, rimbun dan lebat buahnya, di sekitarnya ada pohon-pohon asam kecil yang baru hidup setinggi betis. Itu pasti dari biji-biji asam busuk yang berjatuhan, membentuk semak-semak aneh. Kedua pohon ini seperti sengaja berada di situ karena letaknya yang simetris terhadap bangunan tua itu, mungkin untuk tanaman hias?? Tapi kamu tahu, itu sama sekali tak terlihat indah…
Jika kamu sukar membayangkannya, itu seperti kos-kosan tua yang kumuh dalam film kuntilanak, atau kastil drakula yang dikelilingi oleh banyak tanaman liar yang aneh…

Saat aku masuk ke sana udara mendadak berubah, terlalu dingin dan pengap. Terasa lembab, kotor, penuh sarang lada-laba disetiap sudutnya. Terkadang ku lihat segelintir kecoak merayap di sana sini, ku gandeng erat tangan Yayu dan Nora. Aku tak memikirkan lagi di mana Ares kini berada. Toh, mungkin ia asik dengan perempuan yang selalu di sisinya itu, mempererat hubungan disuasana seperti ini. Semua ini gila!

B e r s a m b u n g . . .

Ada Komentar ?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s