Series 2 “Oneiric”


S a m b u n g a n . . .

Setelah mendapat kamar, aku berlari meniti anak tangga menuju atas menatap belantara ini, berharap menemukn pemandangan berbeda. Sia-sia saja, cahaya matahari yang ku rindukan seharian ini tetap tak tampak. Yang ada hanya batang-batang besar tinggi dan menjulang, dedaunannya sangat rapat menutup langit. Entah sekarang pagi, siang,atau sore..terlihat kelam.

Reta dan teman-temanku yang lain, entah siapa saja tidak jelas dalam mimpiku, tapi aku tahu ada Vega dan Diana juga, mereka mengajak aku menuruni tangga yang kumuh itu,“Kemana kita?” Tanyaku… Mereka terus saja tertawa, bercanda ria seperti tak keberatan dengan suasana seperti ini, “Ke kali, main air seru banget deh” Suara perempuan menjawab pertanyaanku, entah siapa tidak jelas dalam mimpiku. Aku menuruti mereka, mengikuti setiap langkah mereka tanpa banyak bergumam seperti seekor anak ayam yang mengikuti segerombolan induk ayam. Beberapa saat kami sampai di bibir kali, Airnya sangat jernih, tersebar bebatuan yang bergitu besar, Arusnya tenang. Di sini aku cukup terhibur, dapat ku lihat dasar kali yang tak begitu dangkal. Namun kami terus melangkah menyusuri bibir kali, kami bercanda tawa bersama. Aku mulai menikmati perjalanan ini…

Asiknya kami menikmati alam terusik ketika mendapati sekelompok anak yang duduk berkumpul seenaknya di bawah pohon asam yang tak jauh dari kami. Ku lihat ada beberapa anak-anak yang tertawa sambil menggores-gores lapisan kulit pohon asam itu, ada yang meminum minuman dari botol yang berwarna hijau,Seperti botol kecap aku melihatnya, dan sebagian lainnya memegang puntung rokok, selesai mereka menikmatinya, puntung-puntung rokok itu dibuangnya ke kali sampai hilang terbawa arus. Botol berwarna hijau sisa minuman itu dihempaskannya pada batu kali yang besar. Setiap pecahanya digunakan sebagai alat ukir untuk menggores karya ilegal mereka demi kepuasan belaka saat nama mereka terpampang dipohon asam yang tua dan rentan itu. Seandainya Pohon itu hidup, mungkin ia akan menjerit kesakitan karena tubuhnya tercabik-cabik, mungkin darah kental yang segar akan merembes dari setiap cungkil lukanya, meronta–ronta layaknya makhluk yang belum rela menjadi mayat…
Ku lihat juga dia, terduduk di sebatang kayu, tengah asik menikmati rokok berwarna putih, Class Mild…
Aku kenal sekali dengan rokok itu, Selama 3 bulan aku bersamanya, hanya rokok itu yang selalu berada di sela-sela jarinya, ingin sekali tanganku menggantikan rokok itu menempati ruang hampa di sela-sela jarinya, tapi sampai sekarang tak pernah tersampaikan… Rokok itu memang setia bersamanya…

“Hei! Jangan bikin ulah disitu dong!…hei Ares, tolong bilang ke teman-temanmu, tinggalkan tempat ini sekarang juga, Pulang sana!… Kalian di sini hanya bisa merusak!!!” Teriakan Reta melengking dari sini, aku tahu Reta marah besar, seandainya tidak terhalang oleh aliran kali ini, mungkin anak-anak itu telah habis diceramahi oleh tembakan-tembakan dasyat dari Reta. Vega, Diana dan anak-anak lain bersahut-sahutan mendukung Reta. Aku diam membisu, entah mengapa suaraku tersekat di kerongkongan, tak bisa berkata-kata karena merasa terus disoroti oleh sepasang bola mata, mata seseorang berbaju putih yang tengah merokok itu. Senyumnya yang khas dan sukar ditebak itu bertubi-tubi mengikat erat jantungku hingga sulit aku bernafas. Ia terus tersenyum padaku meski namanya dicaci maki oleh anak-anak perempuan yang berteriak-teriak memperingatkan mereka “Woy!! Dasar orang-orang keras kepala!!!”, “Rasakan saja kalau nanti sesosok perempuan berpunggung lubang datang menghantui kalian karena marah rumahnya terusik!!!..”
“Yaah perempuan cantik itu bernama sundel bolong! Hahaha”
Suara-suara itu bersumber dari orang-orang disekitarku yang kesal luar biasa oleh sikap mereka. Namun mereka masa bodoh, tetap tak menghiraukan kata-kata kami. Yaa sudahlah… Kami letih melihat ulah mereka, biar mereka sendiri yang menanggung akibatnya. Kami pun melanjutkan perjalanan menyisiri kali mencari tempat yang lebih nyaman, tindakan yang lebih baik ketimbang menguras energi memperingatkan mereka yang badung itu. Ku palingkan wajahku dari pandangannya, akhirnya aku bisa bernafas kembali. Kami pun mendapat tempat yang nyaman. Kami duduk di Sebongkah batu besar yang mampu menampung kami semua. Kami asik bermain air, merendamkan kaki-kaki kami ke dalam arus yang lembut membelai. Sejuk sekali…

“Aduuh…! Apa ini?!” aku terkejut saat sesuatu yang diseret arus kali menyayat lapisan daging ditelapak kaki ku…
Ku angkat kaki ku perlahan, darah segar menetes butir demi butir menodai arus kali yang berair jernih itu. Mataku melanglang buana mencari penyebabnya. Tampak kaca-kaca kecil berwarna hijau di dasar kali, Sepertinya pecahan botol minuman milik segerombolan anak badung tadi. Teman-temanku yang melihat keadaanku lantas naik pitam, ternyata mereka juga berfikiran sama denganku…
“Sialan mereka, tidak bisa diberi tahu”
“Kita kena imbasnya!”
Gerutuan semacam itu yang diucapkan teman-temanku yang melihat aku sedang meringis kesakitan.
“Ini tidak bisa dibiarkan, mereka benar-benar cari perkara!” Seru salah seorang temanku yang tidak jelas dalam mimpiku. Lantas mereka pergi meninggalkan aku menuju tempat dimana anak-anak badung tadi berpesta pora. Ingin sekali ku ikuti langkah mereka namun kaki ku tak sanggup berpijak, Saat aku ingin berteriak “Jangan tinggalkan aku!” pun, pita suaraku seakan telah rusak, dengan terpaksa aku menunggu mereka sendirian di tempat ini. Aliran darah ku tak henti mengalir, keluar dari tiap celah sayatan dagingku lalu membasahi lapisan kulit ari ditelapak kaki ku…

B e r s a m b u n g . . .

Ada Komentar ?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s