The Last Series “Oneiric”


s a m b u n g a n . . .

Lama sudah ku nanti, Sepertinya mereka telah lupa akan keberadaanku di sini, perasaanku dilanda kecemasan, Suasana berubah mencekam, sunyi, suara gemericik air menemani lolongan anjing… Ingin aku segera beranjak dari tempat ini, namun organ tubuhku seakan tak berfungsi, jasadku terduduk kaku diatas bongkahan batu besar itu. Pohon asam dan beringin di sekitarku seakan bertambah tinggi dan lebat, Terkadang sekelebat bayangan membuat mataku berkeliaran gesit, jantungku berdegup kencang, adrenalinku terpacu… Mereka tak kunjung datang menjemputku, warna langit gelap gulita, sang luna yang tersabut awan kelam tampak pucat, sepucat-pucatnya mayat hidup…

“Hei, ngapain di sini sendiri??” Sapa lembut sesosok makhluk di belakangku… Dengan gerak reflek ku putar badanku, sesosok pria muda berbaju putih polos dan bercelana jins tengah terduduk, Senyum teduhnya mengusir rasa takutku, tangan kirinya memainkan pecahan botol berwarna hijau. Mengingat dia adalah orang yang pernah menyakiti hatiku, aku mencoba bersikap dingin kepadanya “Mau apa kamu ke sini?” Ujarku tanpa melihat wajahnya…
“Ih, Ketus amat sih?” Godanya sambil terus tersenyum. Aku kesal atas sikapnya yang benar-benar tanpa dosa memperlakukan aku seperti itu, Aku tak menggubris omongannya, ia lantas berpindah duduk persis disampingku, ditatapnya aku lekat-lekat sambil terus tesenyum manis, tak kuasa aku pun memalingkan wajah, kemudian ia menunduk menatap arus kali yang tiba-tiba semakin deras, perlahan senyumnya memudar, matanya berubah sayu, wajahnya yang putih semakin pucat “Zee…jangan pernah membenciku ya” ujarnya lirih dengan suara parau… Aku terdiam seakan tak mengenalinya lagi… Dingenggamnya kuat-kuat pecahan botol yang ada ditangan kirinya itu, kemudian disayat-sayatnya urat nadi tangan kanannya, terus-menerus, perlahan-lahan, berkali-kali, gumpalan darah kental berwarnah hitam pekat pun muncrat menodai baju putih polosnya. Aku menyaksikannya dengan ngeri. Wajahnya berubah suram, bulir air mata menetes dipipinya yang pucat, jatuh di bibirnya yang membiru itu, Seperti bukan Ares… Ia terus merunduk. Menyayat-nyayat tangannya perlahan, jiwanya seperti mati, Seperti orang sinting yang mematung… Ia terus sibuk sendiri melakukan itu, bagai boneka yang bergerak tanpa akal, seperti dirasuki roh…

Aku takut melihatnya, aku ingin berdiri, lari dari tempat ini. Kelakuannya yang aneh itu membuat ku bergidik.
Aku pun bangkit, Namun tangan kanannya yang berlumuran darah menggenggamn erat lenganku, Darah pekatnya menetes diatas batu besar itu, kemudian mengalir mulus menuju permukaan air yang berarus dan sangat dingin menusuk tulang. “Zee…jangan tinggalkan aku, temanilah aku di sini” baru kali ini aku melihatnya benar-benar menangis, ia benar-benar meluapkan emosinya, dapat ku rasakan apa yang sedang dirasakan olehnya. Dia merasakan sepi dan ketakutan, matanya itu seakan berharap dan memohon agar aku tetap disisinya, ingin aku memeluk tubuhnya dengan erat, mengurangi setengah dari beban pedihnya. Namun yang kusadari saat ini bahwa sosok itu bukanlah dia, manusia normal tidak mungkin menyayat-nyayat urat nadinya sendiri hingga putus. Wajahnya pucat pasih, bibirnya beku membiru, seperti jasad yang tengah sekarat, tinggal menunggu kematianya saja… Rasa takutku semakin hebat ketika kurasakan dingin darah hitam pekatnya merembes ke lengan bajuku, Ku tepis tangannya yang telah kaku, aku pun berbalik dan berlari… Sempatku lihat dalam bayang, ia merunduk kembali, menyayat-nyayat tangannya kembali, wajahnya yang suram kini berubah menjadi dingin, tanpa emosi, diam, tak punya nyawa seperti tadi, tersenyum aneh namun air matanya terus bercucuran.

Aku meninggalkannya, berlari secepat mungkin…
Menembus malam kelam, lewati pohon-pohon asam lebat dan pohon-pohon beringin tua yang akarnya menjuntai-juntai. Suara-suara aneh menghantuiku, membuat bulu kudukku merinding, Sekelebat bayangan tak henti-hentinya mengikuti aku, seperti ingin mengejar dan menerkamku. Bulan semakin bulat memancarkan cahaya remangnya bagai tertawa melihat aku yang ketakutan, Aku berlari kian cepat…
Kesal dihatiku akan tempat ini, mengapa terasa jauh sekali aku berlari? Padahal sewaktu aku dan teman-temanku pergi ke tempat ini, Jaraknya tak sejauh ini dari tempat penginapan… Sial !!!
Aku terus saja berlari meskipun mataku telah buta akan arah. Ku lihat baru saja aku melewati sebatang pohon asam yang penuh dengan pahatan nama, aku yakin pohon itu adalah bekas tempat anak-anak badung itu berkumpul. Aku sedikit merasa senang karena itu berarti aku berlari kearah yang benar. Ku percepat laju langkahku untuk sampai ke penginapan tua itu. Namun, aku melewati pohon asam yang penuh pahatan nama itu, aneh sekali…
Aku mencoba untuk melupakan hal yang terasa ganjil itu, tujuanku kini adalah ingin segera sampai ke penginapan tua itu dan berkumpul lagi dengan teman-temanku…

Kali ini aku benar-benar yakin sudah melewati pohon asam keparat itu berkali-kali… Benarkah aku berkeliling mengitari tempat yang sama sedari tadi?? Rasa takut itu kembali hadir…
Tak peduli kakiku yang terluka ini menerjang bebatuan dan kerikil tajam diantara tanah lembab nan legam, dengan semampuku aku terus berlari, ku palingkan pandanganku setiap melewati pohon asam penuh pahatan itu untuk kesekian kalinya. Tetapi secepat apapun aku berlari tetap saja aku berputar-putar melewati pohon asam itu, Aku seperti tersesat di dalam labirin… tak ada henti-hentinya aku menerobos malam mencekam itu, tersadar bulir-bulir air mata menetes berbaur dengan dinginnya angin malam yang berhembus, aku berharap Tuhan masih sayang padaku dan mau menolongku. Hingga disaat aku mulai lelah, aku melihat cahaya lampu temaram, penginapan tak jauh lagi. Tiba di sana aku bisa menghembuskan nafas lagi, aku bisa bernafas lega…

Belum selesai aku mengatur pikiran yang masih bingung akan kejadian-kejadian aneh tadi, aku sudah dibuat penasaran oleh orang-orang yang berkumpul dan berkerumunan ramai sekali di sebuah kamar. Wajah mereka tampak prihatin, rasa penasaran yang sangat kuat mendorongku menerobos kerumunan orang-orang itu…
Aku terkejut luar biasa saat melihat Ares yang telah terkulai lemah di atas pembaringan, keadaanya sekarat dan mengenaskan. Ku amati sekujur tubuhnya dari ujung rambut hingga ujung kaki, badannya menggigil, pucat pasih, matanya hampa namun berkaca-kaca, nafasnya naik turun, bibirnya membiru, giginya bergemeretak, ia terus meraung-raung, kasihan aku melihatnya…
Ku usap keningnya, diraihnya tanganku yang ada di keningnya, kulit tangannya begitu dingin, Digenggam erat tanganku, sekuat-kuat tenaganya… didekatkannya aku disamping wajahnya, air matanya menetes, ia terus menggenggam tanganku begitu erat seakan urat nadiku tersumbat. Namun sesuatu yang ganjal menganggu pikiranku, ia mengenakan baju kaos yang berwarna putih bersih, tidak ada bercak darah di bajunya seperti saat aku melihatnya di tepian kali tadi. Aku melihat tangan kanannya yang tengah menggenggam tanganku erat, seharusnya ada luka sayatan dipergelangan tangannya, Namun yang tampak malah luka lebar dari siku sampai lengan yang telah diperban rapi, darah kentalnya sedikit merembes keluar. Aku meringis kesakitan, pergelangan tanganku terasa sakit karena diremas terlalu kuat olehnya. Ia terus menangis dalam kesekaratannya, matanya terpaku keatas. Tak sanggup aku bertahan, ku tepis tangannya mencoba terlepas dari cengkramannya. Namun tetap tak bisa, aku merontah-rontah tapi ia tetap tak peduli akan kesakitanku, aku tau pikirannya tengah kosong… aku memohon belas kasih padanya, nadiku seakan tak berdenyut lagi. Hingga perlahan-lahan cengkraman tangannya melemah… dan terlepas dengan sendirinya. Detak nadinya berhenti…benar-benar berhenti… Ia mati beku !!!, Lengkingan tangisku pecah seketika membelah malam yang larut, ku peluk erat jasadnya. Air mataku tumpah, menetes diwajahnya, sia-sia…

Perasaanku yang masih dilanda bimbang antara dunia nyata atau bukan ini, terus menjerit-jerit didalam hati, bertanya meminta kejelasan dari semua keganjalan ini, aku masih tak percaya. “ADA APA INI…?!?!?” teriakku kepada seisi ruangan, mereka hanya terdiam merunduk “KENAPA!!!” tanyaku sekali lagi…
“Tadi sore sewaktu kami berkumpul dibibir kali, dia terperosok jatuh dan terseret arus, pecahan botol bir yang berserakan itu mencabik-cabik tubuhnya. Saat itu juga datang sekelompok perempuan yang memarahi kami tadi, dan kami bersama-sama membawanya pulang ke sini…” Ujar seseorang pria muda panjang lebar, mungkin saja itu temannya…
“Maafkan kami telah melupakanmu,kami lupa kalau kamu sedang menunggu kami di tempat tadi, Zee… saat itu kami benar-benar panik” Dan kali ini terdengar suara perempuan, siapa dia tidak jelas dalam mimpiku… kini aku mengerti, mengapa mereka tak kunjung datang menjemputku. Emosiku tak terbendung lagi, tak habis pikir akan ulah-ulah mereka, sampai teman mereka sendiri menjadi korban “KALIAN PUAS?!? INI YANG KALIAN MAU!?!? MEMBUNUH TEMAN SENDIRI!!!” Aku tetap memeluk jasadnya sambil menuding sekumpulan wajah-wajah orang biadab yang mengaku sebagai temannya itu.

Jika benar ia tengah sekarat di penginapan ini sejak saat itu, lalu siapakah yang tersenyum menghampiri aku dan menyayat-nyayat tangannya sewaktu aku masih di kali?? ku tatap wajahnya yang telah membeku dengan rasa bingung… ku kecup keningnya untuk yang terakhir kali sebelum aku meletakkan jasadnya diatas pembaringan, aku berjalan ke arah jendela, ku buka tirainya, tampak titik langit diantara daun-daun yang rimbun, masih sore terang… matahari masih bertengger menunggu petang, cahayanya hangat sekali… sungguh aneh, tak mungkin malam semuram durja yang mencekam kini berubah sore. jika memang benar adanya, mengapa waktu terasa lamban, hingga semua kejadian ini dapat ku lewati hanya dalam suatu sore?? Fikirku jauh menerawang keluar sana… Timpahan cahaya metahari sore itu menjadi saksi oneiric burukku… hingga aku terjaga, kembali kedunia nyata…

SELESAI

Ada Komentar ?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s