Series “Autum Flowers”


“Ah… itu hanya perasaanmu saja Rufus, Aku tak pernah sekalipun merasa terganggu akan keberadaanmu…Ya itupun jika kau ingin melakukan suatu hal yang lebih penting dan lebih menyenangkan – dan kau tidak pernah benar-benar menghendaki keberadaanku, Aku sama sekali tak keberatan… hanya saja aku merasa kau sedikit aneh akhir-akhir ini…” Tifanny tertegun sesaat membaca apa yang telah ia tulis dalam secarik kertas di genggamannya…
“Yaa sudahlah tak perlu dibahas terlampau jauh, hal ini hanya akan membuat aku terus berpikir” lanjutnya kemudian…
Tak lama Rufus membalas surat dari kawannya tersebut, sedikit yang ia katakan, tak sesemangat dan seceria dulu seperti kekonyolan yang ia perbuat bersama Tifanny.
“Tanggal 27 aku akan berangkat” Tifanny menatap lembaran kalender bulan ini, sekarang tanggal 14…
Ia yakin, bukan karena hal ini yang membuat Rufus tampak aneh terhadapnya melainkan harena hal lain yang selama ini – telah lama mereka pendam – dalam diri masing-masing – yang kini tak mungkin untuk disembunyikan lagi… Lama sekali untuk Tifanny berpikir, ia juga merasakan hal yang aneh ada pada dirinya – yang ia tak tahu – apa itu ?… Ia merasa sedikit bersalah kepada Rufus, selama ini terlalu banyak kenakalan dan hal-hal aneh yang telah ia lakukan kepada Rufus, Ia masih mengingatnya – pada saat itu Ia marah-marah tanpa sebab hingga membuat Rufus kalang kabut- tak mengerti kesalahan apa yang ia perbuat terhadap Tifanny, padahal jika ia berpikir kembali, justru Tifannylah yang kerap kali menjahilinya, mereka saling mengejek dengan sebutan-sebutan buruk, dan tak pernah memuji satu sama lain, namun tanpa disadari Rufus sendiri – dan Tifanny sendiri membenarkan setiap pujian-pujian manis kepada diri mereka sendiri dengan rasa bangga yang berlebihan – yang sebenarnya kata-kata itulah yang ingin mereka dengar dari kawan mereka, bukan dari bibir mereka sendiri.

Tifanny merasa tak adil ketika Rufus dekat dengan seorang gadis cantik meski gadis itu berkelakuan baik kepadanya, ia sama sekali tidak keberatan ataupun membenci gadis itu, ia hanya tak ingin Rufus terlalu sibuk dan hingga terlalu sibuknya – tidak sempat bermain lagi dengannya…
“Emmh, seandainya kau sedikit lebih anggun dan wangi seperti Jean – gadis menawan itu, mungkin aku akan menyukaimu dan betah terus bila dekat denganmu” Begitu Rufus memanggil nama gadis itu, Lagi-lagi Rufus mengejek Tifanny…
“Kau jangan berkhayal terlalu jauh, lelaki idaman yang layak untukku bukan dari sejenis sapi sepertimu” Tifanny tertawa mengejek… Ia terus mencabuti rumput-rumput yang ada disekitarnya. Halaman keluarga Sanders memang sangat hijau dan asri membuat kedua anak gila ini senang bersama di sana “Oh ya? Wanita impianku juga bukanlah seorang gadis yang malas berdandan dan tak pernah mandi lebih awal dari pukul sepuluh pagi, kecuali saat ia bergegas sekolah… dan juga seorang yang super aneh sepertimu” Rufus membalas, Ia tersenyum geli sambil terus melempari Tifanny dengan rumput.
“Hey… Kau tahu, Tidak banyak gadis cantik yang bersemangat dan ceria seperti aku ini tahan berteman dengan orang gendut dan suka tidur macam kau” Rufus tak memperdulikan perkataan Tifanny, ia hanya mengerutkan dahinya dan terus melakukan itu selama Tifanny berceloteh Benarkah?? – pikirnya, Tifanny berbeda 180 derajat dengan Jean, wanita itu tidak pernah bicara blak-blakan seperti Tifanny…
“Jean itu lembut dan baik hati… langkahnya anggun bak permaisuri” katanya kemudian sembari menerawang jauh mengingat pertemuan mereka pagi tadi, ketika itu Rufus memberinya bunga pakis haji – dan lagi-lagi harus berakhir didalam bak sampah rumah Jean. Tanpa sepengetahuan Rufus pastinya…
“Bisakah kau membedakan antara lembut dan lemah?” Ucapan Tifanny ternyata tak melunturkan corak kembang-kembang anggrek dihatinya, ia malah tersenyum lebar sendiri – senyum yang semakin dibuat-buat “MmH… Jean…Jean… wangimu masih kurasakan digenggaman tanganku… kau benar-benar wanita cantik”
“Apa saja yang telah kau lakukan bersama Jean itu?” Pikiran Tifanny mencoba memasuki alam khayal Rufus
“Bukan urusanmu Tifanny, emh. . . Ibuku selalu membicarakan jenis bunga aneh terbaru yang ingin ia tanami kali ini, kalau tidak salah namanya Raflessia Arnoldi… itu kedengaran indah ‘kan, Tifanny? Tunggu sampai ibu benar-benar menanamnya, akan ku bawakan demi kau seorang, Jeanku sayang” jawabnya tanpa melepas pandangan sedikitpun dari langit, tangannya membentang lebar – seolah-olah Jean ada dihadapannya…
“Kau orang gendut sinting!” bentak Tifanny, dan ia pun berdiri menghentakan kakinya
“Kau juga gendut. Bahkan lebih gendut dan jelek dari sapi milik bibi Mary… week” khayalan Rufus terganggu oleh hentakan kaki Tifanny, entah mengapa Tifanny hanya mendengus kesal, padahal mereka sudah sering seperti ini bahkan lebih jahat dibanding kata-kata Tifanny dan Rufus kali ini.
“Terus saja kau bicarakan Jeanmu itu” Tifanny membalikan badan dengan kasar – berlari pulang menuju rumah – tepat persis disebelah rumah Rufus, sedangkan Rufus hanya tertawa berhasil membuat Tifanny marah kali ini, dan sejak itu Tifanny mengurung diri selama beberapa hari di dalam rumah dan akhirnya membuat Rufus kalang kabut, karena tak seperti biasanya Tifanny mendadak berdiam diri, seharusnya Tifanny sudah marah-marah, mendorong tubuhnya dan dengan mantap menyatakan perang dengan berbagai ejekan yang lebih menyakitkan hati Rufus, Tifanny seharusnya ikut mencari pria dan memamerkannya pada Rufus karena iri dan tak mau kalah, seperti Rufus memamerkan Jean pada Tifanny. Bahkan karena tingkah Tifanny yang seperti itu, Rufus sampai hati mengantarkan setangkai mawar berembun yang ia curi langsung dari kebun kesayangan ibunya sendiri setiap pagi sebagai bentuk permohonan maafnya. Tapi sayangnya, mawar itu tak pernah langsung sampai ke tangan Tifanny, karena Tifanny sungguh-sungguh menolak untuk bertemu dengannya.

“Ku mohon bibi Anna, Izinkan aku bertemu Tifanny sekali ini saja” Mohon Rufus suatu kali – masih saat dimana Tifanny tidak menghiraukannya selama beberapa hari – dan menurutnya hanya karena masalah yang sepele – itu sungguh tak logis. Wanita setengah baya itu tampak kasihan terhadap anak tetangganya ini, “Ia menolak untuk bertemu denganmu, sudah ku katakan kepadamu berulang kali.. Aku sudah berusaha semampuku, Rufus” Rufus tampak sedih mendengar Bibi Anna “Sebenarnya apa yang terjadi?” selidik Bibi Anna kemudian
“Uumm… tidak ada apa-apa, aku hanya sedikit menganggunya.. tapi aku tak menyangka ia akan semarah ini padaku” ucapnya putus asa, Bibi Anna hanya tersenyum lembut…
“Kau tahu ‘kan – bagaimana Tifanny? Ia tak bisa tahan untuk tidak membuat kegaduhan di kota ini…
Nikmatilah ketenangan ini selagi Tifanny tidak menjahilimu” Hibur Bibi Anna, dan senyuman Rufus mulai merekah kembali – seperti bunga mawar segar yang ada di genggaman tangannya kini
“Aku lebih memilih Tifanny menarik rambutku dengan penjepit jemuran lagi daripada kota ini menjadi sepi, Bibi Anna…Baiklah, untuk kesekian kalinya kutitipkan bunga ini untuk Tifanny – melaluimu lagi” Kata Rufus sebelum menyerahkan benda itu dan berbalik pergi, namun langkahnya tertahan oleh bisikan Bibi Anna “Kau tahu? Tifanny diam-diam tersenyum saat aku mengantarkan bunga ini untuknya” Rufus pun melanjutkan langkahnya “ditambah lagi ketika tahu, bunga ini pemberianmu!” tanpa sadar wajah Rufus memerah – Bibi Anna pun tak menyadarinya karena yang tampak dihadapannya hanya punggung Rufus yang seiring menghilang… Seandainya Rufus tahu, saat itu Tifanny marah karena benar-benar cemburu !

Tifanny tertawa mengingat semua itu , mengingat tingkahnya yang masih kekanak-kanakan dan ia sangat malu mengakuinya, “Baiklah, semoga kau tak tertekan di sana seperti kau tertekan saat bersamaku. Dan belajarlah yang tekun semampu yang kau bisa. Apakah kau tahu Rufus? terkadang aku berfikir kebodohan yang aku perbuat dan keanehan-keanehan lainnya membuatmu merasa risih terhadapku, aku minta maaf atas segala kelakuan burukku. Aku berjanji akan mnjadi anak yang baik setelah ini…kecuali…” Itulah saat Tifanny merasa yakin sekali bahwa ia benar-benar berkata serius dari lubuk hati terdalam kepada Rufus. Tifanny melipat kertas itu hingga berbentuk pesawat dan melayangkannya tepat mendarat ke dalam sebuah kamar, kamar milik tetangganya…
“Kecuali apa?” Pesawat kertas kecil itu mengirimkan pesan yang sama kecilnya untuk Tifanny, ia sedikit kecewa membacanya… Rufus tak merespon sedikitpun perkataan seriusnya. Akhir-akhir ini Rufus tampak aneh, ya… Ia tak secerewet biasanya. “Kecuali aku ingin menjahilimu sekali lagi, atau dua kali lagi…Atau… ah, dendamku belum terbalaskan sepenuhnya, hahaha” Tifanny menambahkan sepenggal kepala iblis yang lucu disamping pesannya – mirip seperti lukisan anak TK. Ia berharap Rufus kembali mengejeknya seperti dulu lagi. Tidak cukup lama ia tercenung, pesawat kertas berwarna biru menabrak kepalanya, tepat dikepalanya…
“Lakukanlah sesukamu – toh sebentar lagi aku akan melanjutkan studiku, dan aku tak akan pernah bertemu lagi denganmu. Kau masih saja seperti anak kecil.. kau itu sudah berumur 16 tahun Tifanny! Ingat itu… ” Tifanny tertegun sesaat, tanpa sadar air mata Tifanny meleleh, ia tak pernah mendengar atau bahkan melihat sederet kalimat seruan – bentakan dari Rufus selama bertahun-tahun, kecuali saat Rufus marah ketika Tifanny menggunting gundul jambulnya waktu ia masih berumur 14 tahun, saat itu Tifanny berumur 12 tahun, Namun kali ini mengapa begitu menyakitkan bagi hati Tifanny – padahal tak ada kata-kata kasar dan ejekan buruk. Tifanny tak tahu harus menulis apalagi untuk tetangga tersayangnya itu – ia kehabisan kata-kata – meskipun biasanya Tifannylah yang lebih sering membuat Rufus kehabisan kata-kata. “Maafkan aku Rufus, aku tidak akan mengulanginya lagi” Ia melipat pesawat kertas itu dengan bersimbah air mata, tanpa disadarinya – beberapa dari titik air mata itu jatuh merembes dan melunturkan sedikit tinta pada kertas pesawat itu. Terbangan pesawat kertas itu tak tepat sasaran, malah mendarat dikusen jendela kamar Rufus, mungkin konsentrasi Tifanny terganggu dengan apa yang sedang Tifanny pikirkan – dengan air mata dipipinya. Tifanny yang melihat pesawat kertasnya terperangkap dan hampir jatuh dihalaman samping rumah Rufus berteriak “Rufus!… Pesawat jet milikku terdampar, tolong selamatkan!” air matanya diusap secepat mungkin sebelum Rufus menyadarinya… Namun sangat lama Rufus mendekati jendela, Batang hidungnya belum nampak dalam beberapa detik.. Tifanny tetap menunggu dengan tak sabar …ini tak adil Rufus ! apa kau ingin membalas dendam atas kejadian Jean waktu itu? – dan ini dengan tanpa alasan yang cukup kuat!… Rutuk Tifanny mulai kesal, “Hei sapi! Aku bilang – tolong selamatkan Pesawat jet milikku itu!” Segera wajah Rufus menyembul keluar jendela, wajah putihnya tampak tak ramah dan sedikit acuh – mungkin acuh itu lebih banyak lagi – jika kau melihatnya menggunakan penglihatan mata Tifanny yang sedikit kabur… Tubuh bidang Rufus menghalangi sinar terang lampu yang memancar dari dalam kamarnya. Tanpa mempedulikan keberadaan Tifanny diseberang sana, Rufus membentangkan kertas pesawat milik Tifanny lebar-lebar dan membaca apa yang ada didalamnya “Tak akan aku maafkan!!” teriaknya kemudian kepada Tifanny, Rufus memunggungi Tifanny yang diam terpaku, Tifanny hanya dapat melihat kaca jendela yang dibanting menutup, tubuh bidang itu menghilang dan tiba-tiba kamar diseberang – tirainya tertutup dan lampunya pun padam… Tifanny tak habis pikir- kesalahan fatal apa yang telah ia perbuat sehingga Rufus semarah ini?

B e r s a m b u n g. . . .

Ada Komentar ?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s