Series II “Autum Flowers”



S a m b u n g a n . . .

Udara malam itu dingin sekali, namun jendela kamar Tifanny tetap saja terbuka berharap sesuatu terbang dan mendarat dikasurnya, tempat kini ia merebahkan tubuhnya… Awan tebal diatas sana terus bertumpuk, membuat Tifanny semakin gusar… Ia benar-benar mengharapkan sepucuk pesawat kertas melayang dan menyampaikan beberapa kata lagi untuknya. Sedangkan dikamar seberang, dari celah kecil tirai – kamar yang gelap, sepasang mata sendu memandangi kamar Tifanny yang masih saja terang-benderang, dapat ia rasakan dinginnya angin pekat malam itu – masuk kesela-sela celah jendela – dan itu membuat bulu kuduk diwajahnya berdiri, ia berfikir, … Bagaimana Tifanny bisa tahan merasakan angin yang berhembus sedingin es ini, jendelanya masih saja terbentang lebar… Itu yang menjadi pikirannya – tanpa tahu apa sebenarnya yang Tifanny inginkan dari bentangan jendela malam itu, Hatinya sendiri tak mengerti apa yang tengah ia rasakan, seperti sesuatu yang cacat dalam dirinya. Entah mengapa Rufus melihat Tifanny dari sisi yang berbeda, bukan seperti biasanya dimana Tifanny selalu menjahili dirinya dan mengatakan wajah tampannya mirip seperti sapi perah milik Bibi Mary, ia merasakan suatu hal yang berbeda – Lebih dari yang ia rasakan ketika bertemu dengan Jean beberapa bulan yang lalu, sampai-sampai membuat dirinya merasa canggung bila melihat Tifanny, meskipun Tifanny dalam keadaan berantakan sekalipun – Rufus terlalu sering melihat Tifanny dalam keadaan berantakan, ia tak pernah berjalan anggun, ia tak pernah berbicara lemah lembut, tetapi tiba-tiba saja Tifanny membuatnya diam seribu bahasa begitu Tifanny berada dihadapannya. Dan ia merasakan pipinya menghangat – dan ia tak ingin Tifanny tahu akan hal ini. Maka sejak saat itulah Rufus menyadari sendiri bahwa dirinya menjadi pendiam – ia mengakuinya – jauh didalam hatinya, sebelum Tifanny menyadarinya. Rufus berusaha menutup perasaan aneh yang berputar-putar sekian lama dalam otaknya. Mungkin saja ia gila.. atau mengidap gangguan saraf – sampai-sampai sosok Tifanny menjadi begitu berbeda dimatanya. Gadis mirip sapi itu tampak seperti kupu-kupu??

Sejak saat itu, dada Rufus terasa sesak dan bibirnya serasa kelu tiap melihat Tifanny mengoceh tanpa henti, bahkan menatap matanya saja tak mampu… Ia tak mengerti mengapa ia begitu – tak dapat berkutik dan bersikap biasa-biasa saja dihadapan Tifanny seperti tahun-tahun biasanya. Sedangkan Tifanny sendiri mulai merasakan suasana-suasana tak nyaman disisi Rufus, Ia mencoba membuat dirinya secerewet mungkin, hingga menurutnya dapat membuat Rufus marah-marah dan ingin berlari mencubiti pipinya yang penuh dengan bintik-bintik merah itu – dan kerap kali gagal… Tifanny sendiri tak tahu harus berbuat apa, hanya ejekan wajah satu sama lain yang mengait-ngaitkan mereka dengan sapi perah milik Bibi Mary – yang sebenarnya sama sekali tak ada hubungannya dengan persahabatan mereka ataupun perkelahian diantara mereka yang muncul tanpa sebab yang pasti – apalagi kedua wajah mereka yang sama sekali tak mirip dengan sapi perah milik Bibi mary. Mungkin Rufus memiliki tujuan tertentu dengan mengejek Tifanny berbadan sapi, meski ia melihat Tifanny sama sekali tak mirip seperti sapi. Ia hanya bingung, meyakinkan bahwa Tifanny adalah benar-benar sapi kesayangannya yang konyol, bukan malah berupa seekor kupu-kupu – yang akhir-akhir ini – seperti itu ia melihatnya.

Rufus melamun disamping jendela kamarnya, Dinyalakannya lagi lampu kamar miliknya… Tifanny masih menanti rupanya, ia pun bangkit dari tempat tidurnya berjalan mendekati jendela kamarnya begitu melihat lampu kamar diseberang sana menyalah. Bayangan tubuh Tifanny jelas menembus tirai jendela kamar milik Rufus, Rufus menyadari jika Tifanny masih terjaga menunggunya. Jelas saja lampu kamar Rufus menarik perhatian Tifanny – Lelaki remaja bodoh itu segera mematikan lampu kamarnya lagi sebelum sempat menepuk jidatnya sendiri. Tangannya masih menggenggam pesawat kertas milik Tifanny yang baru ia sadari- benda itu sedikit lembab. Ia menghirup benda itu dan merasakan pipinya menghangat – ini wangi Tifanny… Tangannya bergetar saat menatap Tifanny tengah menitikan air mata sembari memandangi tepat kearah jendela kamarnya, Ia sangat bersalah – sangat menyesal… Namun ia hanya dapat bersembunyi dibalik tirai. Ia terus memandangi Tifanny dari kegelapan, Tifanny sedikit bergidik merasakan angin mulai mengencang, dan berlalu dari permukaan jendela. Rufus merasa bahwa ia harus memperbaiki segala situasi yang ada, seharusnya ia bisa menyimpan perasaan itu sampai hari dimana ia tak lagi melihat Tifanny tertawa ceria disampingnya, mungkin Ia bisa bersandiwara – pura-pura bahagia sementara waktu – meski dalam hatinya kini campur aduk dalam kebingungan. “Hey, ada apa denganmu? Aku ‘kan berkata – aku berangkat tanggal 27, bukan hari ini… kau tak perlu sibuk-sibuk merindukanku… simpanlah air matamu untuk tanggal 27 mendatang, bukan salahku jika aku ini memang orang yang paling dirindukan seantero kota ini” Rufus membuat sebuah pesawat kertas yang besar dan megah, dari kertas biru emas yang bahannya lumayan tebal, sayapnya membentang indah , Ia bisa membayangkan pasti Tifanny akan tertawa setelah membaca pesan yang ia buat dengan kepercayaan diri yang begitu tinggi, Dan besoknya Tifanny pasti akan mengejek-ejeknya lagi dan membuat suasana kembali menjadi seperti semula. Ia membuka kaca jendelanya perlahan agar Tifanny tak menyadarinya atau ia akan sangat malu dan mengacaukan semua usahanya. Kemudian ia membidik jendela kamar Tifanny yang masih terbentang lebar, entah sudah berapa derajat suhu di dalam kamar sana… begitu lama jendela itu terbuka. Namun, angin kencang meng-olengkan pesawat Rufus, Hingga benda itu berbalik dan kehilangan arah tujuannya – akhirnya tersangkut pada ranting pohon anggur hijau yang merayapi pagar rendah – batas antara rumah Rufus dan Tifanny. Rufus tak menyerah, ia melakukannya lagi, dan akhirnya pesawat kertas kedua miliknya berakhir dengan nasib yang sama, bahkan kali ini jatuh ke selokan. Rufus mengutuk angin yang berhembus semakin kencang, kali ini ia kehilangan kesabaran… untuk kesekian kalinya ia melipat kertas pesan itu dengan kesabaran yang masih tersisa, angin semakin kencang, dan udara semakin dingin, Awan-awan diatas sana sepertinya sudah mulai terasa berat dan akan menjatuhkan beberapa titik air ke permukaan bumi sebentar lagi. Ini kesempatan terakhir Rufus – pekiknya dalam hati. Ia melemparkan pesawat kertas dan kali ini dengan berdoa.., hampir saja pesawat kertas itu melaju masuk ke dalam kamar Tifanny, namun malah terhuyung angin – terantuk dan jatuh lagi – tersangkut dipagar pembatas sebelum Tifanny sempat menangkapnya, Tifanny merutuk “Sial!”. Rufus tak menyadari sejak kapan Tifanny tengah berdiri disitu, ia hanya merasakan seluruh badannya membeku berada dihadapan Tifanny, Bibirnya terasa getir. “Rufus! Bisakah kau menerbangkan satu pesawat lagi untukku?? Aku akan berusaha keras untuk meraihnya!!” Suara Tifanny seiring deru angin yang mulai membawa tetes-tetes air hujan, Rufus mengibaskan tangannya dan berjalan menjauh dari daun jendela “Aku mohon dengan sangat kepadamu, Rufus!!” Tifanny tak peduli lagi – entah Rufus menyadari air matanya mengalir deras – atau tidak menyadarinya sama sekali, ia hanya ingin Rufus mengatakan sesuatu padanya. “Tidak mungkin, Tifanny!, hujan mulai turun!” mendadak air hujan semakin deras, “Lupakanlah pesawat itu Tifanny! Anggap saja aku tak pernah menjadi pilot dan aku memang tak ingin menjadi pilot pesawat jetmu yang bodoh itu!” Rufus mengatakan sesuatu yang tidak benar-benar dari lubuk hatinya, tak tahu bagaimana memperbaikinya … Rufus merasa semuanya sudah kacau balau, Ia membanting kaca jendelanya keras-keras – mungkin bisa membuat tetangga lain terbangun jika hujan tidak ikut memeriahkan suasana saat itu. Beruntung jika tetangga lain benar-benar terbangun – Rufus bisa dengan mudah menjadikan hujan deras malam itu sebagai kambing hitam. Ia lalu menutup tirainya sebelum sempat menatap wajah lembut Tifanny yang menemani alam tidurnya beberapa hari – akhir-akhir ini. “Maafkan aku Tifanny” ucapnya sembari menjambak-jambak rambut cepaknya sendiri, ia membanting dirinya ke ranjang – merasakan penyesalan dalam hatinya. . .

B e r s a m b u n g . . .

Ada Komentar ?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s