Series III “Autum Flowers”


Tak jauh dari tempat Rufus menyesali dirinya, Tifanny pun sama adanya. Ia menutup kaca jendela yang sudah terlalu lama terbuka. Kemudian menutup tirainya rapat-rapat. Di amatinya beberapa foto yang menggantung didinding kamarnya. Tampak dua orang anak – usianya sekitar 6 dan 8 tahunan. Gadis kecil terambut hitam panjang itu menarik baju seorang anak laki-laki yang bertubuh jauh lebih tinggi – disampingnya dan berusaha merebut sesuatu yang ada dalam genggaman anak lelaki tersebut. Sedangkan anak laki-laki itu tampak berusaha keras memepertahankan sekuncup bunga mawar berwarna orange dengan mengangkat genggaman tangannya setinggi mungkin. Tifanny tersenyum tanpa sadar, mengingat awal pertemuannya dengan Rufus, semenjak ia pindah kekota ini dan ia mulai menjadi tetangga baru Rufus. Meski Rufus selalu bersikap baik kepadanya, Tifanny selalu ingin mengambil sesuatu secara paksa – apa yang Rufus miliki. Terkadang hal itu membuat Rufus marah dan berlarian mengerjar Tifanny, kemudian mencubit pipinya tanpa ampun hingga memerah. Akhirnya Tifanny kecil menangis, mengancam suatu saat akan menggunting habis rambut dikepala anak laki-laki besar itu.

Foto disebelahnya tampak empat karakter wajah berbeda. Pertama, wajah seorang remaja laki-laki tampan yang tersenyum lebar sembari memegang kacamata berframe ungu miliknya, ia tampak sangat terpelajar. Tubuhnya agak sedikit kurus dengan deretan gigi putih yang mengilap – begitu keren dan bersahaja, itulah Peter – Yang beberapa tahun kemudian bakal menjadi kekasih pertama Tifanny – Tepatnya, pernah menjadi kekasaih Tifanny. Kedua, tampak gadis yang mulai tumbuh dewasa dengan mengenakan rok panjang berwarna biru, senyumnya manis sekali. Ia menggenggam sekuntum mawar putih, Rambutnya yang hitam, ikal dan panjang terhempas angin – ringan. Ketiga, seekor sapi perah yang sedang asyik memakan rumput hijau dibelakang mereka, wajahnya tanpak datar dan serius menikmati rumput (Hei ! itu hanya seekor sapi…sampai kapan pun sapi tidak akan tersenyum jika difoto) Dan terakhir, seorang remaja laki-laki yang sebaya dengan remaja laki-laki pertama,Ia tengah duduk sambil membuang muka dari arah kamera. ekspresinya kurang menyenangkan, entahlah- ia baru saja mengalami depresi berat, Rambutnya tampak berpotongan pendek sekali, sampai hampir gundul. Ia memakai topi agar depresinya dapat berkurang, setidaknya sedikit lagi setelah ia menarik dan membentak-bentak si pelaku dengan jelas dan jahat….

“Kau benar-benar anak yang menyebalkan!!” geramnya sambil menyuduti seorang gadis lugu di antara selokan got, dan kejahatan dirinya. “Maaf ‘kan aku Rufus, seandainya kau tak berlaku seperti itu dan langsung memberikan apa yang ku inginkan – mungkin ini tidak terjadi” Tifanny kecil mundur beringsut-ingsut dari terkaman Rufus…
“Itu memang milikku! Buat apa aku memberikannya padamu, kalau kau ingin – tanamlah sendiri di kebunmu!!” wajah Rufus masih merah padam, ia maju selangkah – siap untuk menerkam Tifanny, Ia sampai ketakutan setengah mati, melihat wajah Rufus begitu menyeramkan dan kemudian Rufus tersandung sesuatu – membuatnya merasa sakit dan tak mampu berdiri “Aarghh!! Sial!” darah mengucur dari lututnya – ia menahan perih lukannya, Tifanny hanya bisa berwajah miris.
“Apa yang kau lihat? Cepat bantu aku, Bodoh!” itulah kalimat seruan yang penuh dengan kebencian, Tifanny tak suka itu. Ia tetap berdiri ditempatnya- tak bergeming sedikitpun…
“Bersikap baiklah kau padaku, Tuan Rufus Sanders ! Atau akan ku laporkan kelakuan burukmu pada Nyonya Elen Sanders – tetangga baikku” lagak Tifanny dengan penuh penawaran yang memaksa,
“Baiklah aku berjanji” Rufus menghembuskan nafas seolah tak ada lagi pilihan lain – padahal ada banyak rencana dalam otaknya kini. Tifanny lugu segera mengulurkan jari-jari putih halusnya setelah sebelumnya menyematkan setangkai bunga mawar putih disela telinga kanannya – yang sebenarnya – seharusnya bunga itu ada ditangan Vanya sekarang – kekasih Rufus tercinta, Rufus segera meraihnya – dan Tifanny tampak berusaha setengah mati menopang tubuh besar Rufus, emh… Rufus begitu wangi… segar mint merebak dari tubuhnya…
“Sejak kapan kau bertingkah seperti orang dewasa macam ini??” Ujar Tifanny ketika Rufus hendak mencengkram lehernya dan ingin mencubiti pipinya hingga berdarah – pertanyaan itu membuat Rufus mengurungkan niatnya
“Maksudmu? Apa yang telah kau pikirkan, Tifanny – adikku yang cantik?” Rufus tidak benar-benar tulus mengucapkannya – Tifanny tahu itu.
“Kau mulai bertingkah aneh seperti ayahku, kau memakai parfum beraroma mint ‘kan? Sejak kapan kau melakukan ini?”, Rufus tak menjawab,
“Apa kau melakukan ini agar Vanya tertarik padamu, Kalau memang benar – Vanya benar-benar bodoh!”
“Kau tahu apa tentang cinta bocah?! Itu urusanku dan Vanya” Geram Rufus, ia masih merasakan sakit yang amat sangat di kakinya “Oh ya? Apa seperti itu yang namanya cinta. Setiap hari kau berkata – pura-pura manis – dan aku tahu itu tidak dari lubuk hatimu yang terdalam, kemudian Vanya tersipu malu setelah menerima bunga anggrek curian dari kebun ibumu, Kau itu gila!” Tifanny menyandarkan Rufus disebatang pohon rindang, ia beristirahat sejenak disamping Rufus.
“Itu tandanya bahwa ia tersanjung telah ku berikan bunga, bodoh!” Rufus sibuk meniup-niup lukanya agar terasa mendingan, kemudian ia mengusap darahnya dengan tangannya yang kotor,
“Hentikan itu! Kau hanya akan membuat lukamu menjadi tetanus, dasar orang besar yang bodoh” Dengan sigap Tifanny mengambil alih untuk hal ini, ia membersihkan luka Rufus dengan sangat hati-hati…
“Te…ta…nus…? Ti…fa…nny…? Sepertinya kata-kata itu tidak jauh beda” Rufus menjahili Tifanny lagi
“Aauugh! Hentikan itu Tifanny!!!” Rufus sontak teriak ketika Tifanny menekan-nekan lukanya dengan kasar – wajah Tifanny tersungut-sungut, namun akhirnya Tifanny pun tertawa…
“Lalu, mengapa kau selalu memberikan bunga yang aneh kepada setiap teman perempuanmu?” lanjut Tifanny,
“Aku tidak pernah memberimu bunga” ujar Rufus singkat
“Maksudku yang berbeda dengan teman biasanya, yang lebih khusus, kemarin ku lihat kau memberi Vanya bunga kamboja berwarna kuning” Tifanny menahan tawanya,
“Apa yang salah? Toh, Vanya menyukainya” Rufus mengerutkan dahi
“Itu bunga kuburan, Sapi bodoh!hahaha” Tifanny tak mampu menahan tawanya lagi, kini perutnya mulai keram
“Kau selalu memberikan bunga-bunga yang aneh. Seperti bunga kemangi, anggrek hutan, kaktus, rossela, euphorbia, kau tahu – bunga-bunga itu sangat repot dan tidak romantis karena kau memeberikannya lengkap bersama potnya – Kau tahu? – Rossela itu bunga teh, Ia pasti sudah punya banyak didapurnya”
“Setiap orang memiliki karakter yang berbeda, Tifanny.. – dan kau tahu ? – Bunga itu akan terus merekah indah didalam pot” Rufus membenahi cara duduknya senyaman mungkin, udara begitu sejuk dibawah pohon rindang itu, membuat amarahnya sedikit terlupakan.
“Itu penggambaran karakter yang aneh, Rufus… Kenapa tak kau coba dengan bunga yang indah, harum, dan wajar – kau tahu ? – Semacam Lavender atau crissan?” Tifanny memberi saran.
“Itu sudah banyak kau jumpai di Inggris ini, Tifanny… Dan kau tahu ‘kan? Ibuku selalu menyukai tanaman-tanaman aneh dikebunnya” Jawab seorang bertubuh besar itu,
“Berhentilah mengikuti kata-kataku Rufus! Kau tahu ? – kau itu menyebalkan”,
“Ya baik lah…kau tahu?? Kau terlalu sering mengucapkan kau tahu???…Kau tahu???…hahaha” Tifanny berpikir sejenak “Ya Aku Tahu itu!! Lalu kenapa kau tak memberiku bunga? Kau kan pandai menebak karakter orang, aku ingin tahu – bunga apa yang akan kau berikan padaku?”, Rufus terhenyak, dibalik keterkejutannya, wajahnya tersenyum nakal
“Jangan pernah berharap. Aku tidak akan memberikan bunga – setangkai pun – kepada sapi perah milik bibi Mary” Tifanny mendengus kesal, “Ayo ku tuntun kau pulang!” Tifanny bangkit dari duduknya, ia tak ingin kepala Rufus semakin besar dan ia tak benar-benar mengharapkan Rufus akan memberinya setangkai bunga yang aneh “Tunggulah sebentar lagi, aku sedang menikmati suasana ini” Pinta Rufus sembari menyandarkan tubuhnya pada batang pohon, ia mengamati tupai-tupai yang berlarian pada pohon di sebelahnya, saat itu juga Bibi mary lewat didepan mereka…


Ia membawa tanaman mawar dalam pot yang masih sangat kecil. “Bibi Mary! Tanaman apa itu?” Tifanny berlari kecil meninggalkan Rufus sendirian dibawah pohon “Ini tanaman mawar, Tifanny” Jawab Bibi Mary ramah, “Mana bunganya?” Tifanny mengamati setiap senti tanaman itu, yang ada hanya daun..daun…dan daun “Umurnya masih sangat muda, belum bisa berkembang… mungkin beberapa waktu lagi… Kata paman yang menjualnya disebrang sana, bunga mawar ini berwarna merah darah, Tifanny.. warna pekat yang indah” cerita Bibi Mary serius, “Pasti akan sangat indah ya Bibi Mary?” ujar Tifanny antusias, Bibi Mary hanya tersenyum dan mengangguk “Baiklah Tifanny, ada sesuatu yang harus segera ku kerjakan, aku harus pulang” Lalu Bibi Mary pun pergi…. “Bibi Mary! Kau lupa sesuatu!” Teriakan Tifanny membuat tubuh Bibi Mary berbalik, wajahnya tampak heran, ia mengangkat kedua pundaknya seperti bertanya – apa? -, “Kau melupakan sapi perahmu! Dia sedang asik berteduh disana! Haha” Tifanny menunjuk ke arah Rufus. Bibi Mary ikut tertawa…

“Aku ingin melihat bunga mawar berwarna merah darah seperti milik Bibi Mary, apakah dirumahmu – Bibi Elen juga menanamnya?” ujar Tifanny setelah kembali duduk disamping Rufus, Rufus tampak menutup matanya…
“Tidak akan ku izinkan kau melihatnya” Rufus masih tetap menutup matanya
“Ku mohon, Rufus” pinta Tifanny namun Rufus tetap menggelengkan kepalanya mantap
“Kau sudah merampas mawar putih yang baru saja ku curi, Tifanny…Dan aku harus mendapat ganjaran berat jika aku bertemu lagi dengan ibuku – yang sedang marah besar – sekarang” Tifanny kehabisan akal hingga beberapa menit,
“Emh… Rufus, apakah kau menyadari, hari ini kau tidak tampak seperti sapi perah milik Bibi Mary? Kau tampak tampan dibawah rerindangan pohon ini” Tifanny tersenyum licik – senyum yang tak dilihat Rufus karena ia masih menutup matanya. “Itu sudah pasti, Tifanny… Hanya kau yang terlambat menyadari hal itu” Rufus tersenyum angkuh, ia menaikan setengah alisnya. Tifanny hanya mengangguk lemah, kemudian ia mendekatkan wajahnya ketelinga Rufus – ia membisikan sesuatu “Mungkin, ku rasa kau akan jauh lebih tampan, jika aku melihatmu berada ditengah-tengah kebun bunga milik bibi Elen” “Ku rasa tidak, sekarang ayo antarkan aku pulang” Rufus mengulurkan tangannya kehadapan Tifanny
“Aku mohon Rufus” rengek Tifanny
“Tidak!”
“Oooh Rufus, ayolah… Emh, wangimu hari ini begitu menggoda. Kau memang sempurna” Tifanny tak menyerah untuk membujuk Rufus sembari ia menopang tubuh besar Rufus, Namun Rufus tetap diam, mengerti apa yang sedang Tifanny lakukan
“Kau jangan coba-coba merayuku ya..” Rufus membokar kedok Tifanny, ia malah mengeratkan lingkaran tangannya di pundak Tifanny, membuat gadis kecil itu merasa sesak nafas,
“Hentikan Rufus, aku tak bisa bernafas – atau akan ku tendang luka dilututmu itu!” namun Rufus tak menghiraukannya, malah mempererat lingkaran tangannya lagi “Apakah kau suka dengan aroma parfum ku ini? kau akan leluasa menikmatinya bila aku merangkulmu lebih dekat lagi…” senyum licik Rufus mencuat, namun suatu tendangan dibagian lututnya yang luka membuat ia sontak meringis kesakitan… “Auugghh!! Itu sakit sekali, Tifanny!!”
“Kau sedang tidak ingin memamerkan wangi parfum itu – Kau ingin mencekik leherku bukan? Diamlah atau ku tendang sekali lagi lukamu itu”
“Baiklah setan kecil!!” Rufus berjalan lebih pincang dari yang sebelumnya membuat Tifanny semakin kewalahan…
“Aku tahu ! … aku tahu apa yang membuatmu tampak lebih tampan hari ini!” Senyuman lebar Tifanny seperti Archimedes saat berteriak – Eurika…!
“Potongan rambutmu,” Bisik Tifanny pelan. Wajah Rufus kembali memerah, tangannya reflek memegang kepalanya yang kini tampak tragis sekali “Semua ini ulahmu! Awas kau anak nakal!!”,
“Ampun!!!” Tifanny berteriak keras sekali…

B e r s a m b u n g . . .

Ada Komentar ?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s