Series IV “Autum Flowers”


S a m b u n g a n . . .

Dalam kamar yang berukuran agak luas – yang dindingnya bercat ungu muda – dan bergantung banyak foto disana. Tifanny melihat-lihat lagi apa yang ada disekelilingnya , Ia melihat foto-foto Peter dimeja belajarnya, Peter yang bersahaja dan menawan. Ia mengenakan kacamata berwarna ungu dan menenteng sebuah buku yang lumayan tebal, buku bergambar plantae favoritenya. Saat Peter masih tinggal dikota ini, ia selalu berkunjung kerumah Rufus, berbincang-bincang dengan Bibi Elen mengenai bunga apa saja yang ia ketahui. Terkadang ia membantu Rufus merapikan kebun Bibi Elen yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kediaman keluarga Sanders. Sampai-sampai Bibi Elen lebih menyayangi Peter ketimbang anaknya sendiri. Kebiasaan Peter itu menuntun hatinya kepada Tifanny. Ia sering memperhatikan kekonyolan Tifanny diam-diam. Tifanny bukan gadis yang anggun, ia lebih memilih menebar cacing-cacing dikebun daripada memetik bunga sebagai penghias ruangan, Ia lebih memilih mendengarkan lagu-lagu berisik ketimbang ikut les piano dan memainkan lagu-lagu klasik seperti gadis-gadis pada umumnya, ia lebih memilih memanjat pohon apel bersama Rufus saat terik matahari ketimbang duduk tenang sambil menikmati secangkir teh Rossela agar kecantikannya terjaga, Suatu keajaiban bila Peter – pada suatu malam memohon kepada Rufus untuk menemaninya berkunjung kerumah Tifanny. Jelas saja Tifanny terkejut mendapati malam itu seorang asing bak pangeran bernama Peter menyatakan cinta padanya, dengan membawa sekerat mawar putih. Peter sendiri yang mengatakan, bahwa mawar adalah lambang kasih yang paling tulus.Rufus yang saat itu menyaksikannya – masih belum merasakan apa-apa sebagai dampak ketika Tifanny bersedia menerima cinta Peter, karena saat itu ia juga tengah tergila-gila pada gadis pirang disekolahnya yang bernama Emily dan malam itu ia sedang serius memikirkan – akan memberi jenis bunga apa untuk si gadis pirang itu aha! Kantong semar
pikirnya menggebu-gebu seperti dua orang di sisinya yang baru saja dilanda asmara . Ia merestui hubungan sahabatnya dengan tetangganya itu – dengan perasaan bahagia – sebelum tanpa disadari ia akan menyesal suatu saat nanti karena telah merestui pasangan baru itu – jauh sebelum perasaan anehnya terhadap Tifanny muncul seperti saat ini.

Kehidupan mereka baik-baik saja sampai ketika Peter harus pindah dari kota itu, Ayahnya yang seorang peneliti tanaman dan sempat membuat keajaiban di kota yang dulunya gersang – dan kini menjelma menjadi asri itu memiliki tujuan lain ke suatu tempat yang sangat jauh.
“Ku titipkan Tifanny padamu, jagalah ia baik-baik” Ujar Peter memegang pundak sahabatnya, Rufus mengangguk mantap
“Tenanglah Peter, Gadis sapi ini sudah berusia 15 tahun, terlalu tua untuk aku mengurusnya” Rufus meyakinkan dengan sedikit tersenyum, Peter pun tersenyum – meski senyumnya getir… Sedangkan wajah Tifanny nampak sangat sedih
“Apakah kau akan kembali lagi ke kota ini??” Tanyanya dengan nada lirih,suaranya sedikit bergetar…
Peter mengusap pipi Tifanny yang mulai basah “Asalkan kau setia menungguku, Tifanny sayang”
“It is so sweet… Owh God – Aku tak sanggup melihat kedua orang ini berpisah” Sembur Rufus karena ia sangat terharu “Semoga ini tak terjadi padaku dan Emilyku sayang” ujarnya lagi membuat Tifanny benar-benar kesal dan ingin mencincang Rufus menjadi potongan-potongan kecil makanan sapi (Kalau saja sapi bisa memakan daging).
“Kau terlalu berlebihan Rufus! Bersikaplah terhormat seperti orang dewasa yang berusia 17 tahun!!” Bentak Tifanny
“Aku memang sudah 17 tahun! Sapi perah Bibi Mary!” ia menghapus titik air mata dipipi beningnya. Terkadang Rufus bertingkah konyol seperti anak kecil disaat yang tidak diinginkan. Dan semenjak saat itu, Tifanny sabar menunggu – dan kenyataanya bahwa Peter memang tak pernah datang kembali. Hanya Rufuslah yang menghiburnya disaat ia merindukan Peter, terkadang Tifanny benar-benar sangat sedih, dan Rufus terus bertingkah konyol dan membuat Tifanny kembali tertawa. Butuh waktu yang cukup lama untuk mengembalikan keceriaan Tifanny seperti dulu, Ia tahu benar bagaimana perasaan Tifanny. Di saat itu pula Rufus berusaha untuk memberikan seluruh waktunya agar dapat bersama Tifanny, sampai – sampai Emily merasa cemburu pada Tifanny dan memutus hubungan kasih yang ia jalin bersama Rufus – anehnya Rufus tak keberatan dengan keputusan yang diambil Emily. Saat-saat bersama Tifanny-lah yang paling membuat Rufus bahagia – begitu pula sebaliknya. Mereka menghabiskan waktu bersama-sama persis seperti ketika mereka masih kecil. Tak ada orang lain yang menggangu – Baik kekasih Tifanny – maupun kekasih Rufus – karena memang mereka tidak memiliki kekasih. Mereka selalu berkunjung ke kebun Bibi Mary, dan berteman akrab dengan mawar-mawar berwarna merah darah – dan sapi perah melik bibi Mary tentunya, mereka juga memanjat pohon apel bersama-sama lagi, bernyanyi dan saling mengejek muka satu sama lainya seperti sapi – dihalaman kediaman keluarga Sanders yang penuh dengan rumput hijau – lagi. Mereka tak menyadari, ada suatu perasaan yang telah lahir sempurna dalam hati mereka sendiri, dalam pikiran mereka masing-masing – Dan mereka tak tahu apa itu?, sampai saat ini rasa itu masih saja terpendam…

B e r s a m b u n g . . .

Ada Komentar ?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s