Series V “Autum Flowers”


s a m b u n g a n . . .

Tujuh buah tangkai mawar yang mengering itu semula berwarna merah darah dan masih sangat segar. Dan tujuh hari berturut-turut pula, Rufus mengantarkannya sebagai bentuk permohonan maaf. Sudah beberapa bulan sejak mawar-mawar itu tergeletak dalam vas kaca, dan beberapa bulan itu juga Rufus menjadi aneh, dan Tifanny pun demikian. Jauh sebelum Peter memberikannya sekerat bunga mawar berwarna putih. Tifanny sangat menginginkan setangkai mawar dari Rufus, Bunga yang selalu dicuri oleh Rufus tak pernah mati, selalu segar didalam pot, kecuali ketika berpindah tangan kepada gadis-gadis cantik itu dan tanpa sepengetahuan Rufus – dan juga Tifanny. Bunga-bunga aneh yang didapat dari perjuangan Rufus mencuri dikebun bibi Elen itu tak terawat dengan baik. Kebanyakan dari mereka mengabaikannya setelah pura-pura tersanjung saat Rufus memberikannya sepenuh hati, seperti Vanya, Emily, termasuk Jean – dan masih banyak belasan gadis diluar sana. Tifanny lagi-lagi mengenang suatu masa dimana saat pertama kali ia pergi ke kebun Bibi Elen bersama Rufus, jauh sebelum ia bertemu dengan seseorang yang hingga saat ini memberikan harapan palsu baginya, Peter. “Waah! Ini banyak sekali Bibi Elen” Pekik Tifanny kecil yang saat itu masih berusia 6 tahun. Bunga anggrek, crissan, mawar, lavender, dan jenis-jenis bunga indah lainnya berada disekitarnya memenuhi setiap sisi rumah kaca milik bibi Elen. “Bolehkah aku mencium ini?” Tifanny menunjuk segerombolan bunga mawar berwarna orange, Bibi Elen hanya mengangguk dan tersenyum manis “hati-hati dengan kelopaknya, dia masih sangat mudah dan rapuh” Tifanny berteriak bahagia “Horay!” ia pun menarik setangkai bunga mawar mendekati hidungnya yang mungil denga sangat perlahan-lahan, namun seketika itu, tangan kasar menyambarnya dengan cepat, setangkai bunga mawar orange yang indah itu terpisah dari gerombolannya dan sekarang tengah terbang melayang-layang diudara dalam genggaman anak berbadan besar yang jelek dan aneh. “Yeee….aku dapat! Hmm… kau mau ? Bunga ini memang wangi” gumam Rufus kecil yang nakal “Berikan itu padaku! Bibi Elen, anak jelek ini mencabut sebatang mawar milikmu!!!” teriak Tifanny keras sambil mengejar Rufus yang tertawa dan berusaha menghindarinya “Hentikan itu Rufus! Tunggu sampai kau pulang ke rumah!!” Bibi Elen geram, ia terus saja mengomel tak jelas sedangkan ke dua anak aneh itu terus saja berlarian di dalam kebunnya yang indah. “Oh…Tuhan !” Keluh Bibi Elen.

Kebun itu nampak berwarna-warni dan indah sekali, wangi yang semerbak berasal dari bunga-bunga yang segar. Hingga salah seorang teman Rufus kecil datang dan mengacaukan semuanya, anak berkaca mata dan sedikit berdarah cina itu datang sambil menenteng sebuah buku tebal berisi gambar-gambar bunga aneh yang tersebar diseluruh dunia. “Selamat siang Nyonya Sanders, maaf jika saya menganggu ketenangan istirahat siang anda” Anak kecil berkacamata – dan sedikit berdarah cina itu langsung berdiri dan membungkukan badan dihadapan Bibi Elen – memberi hormat – ketika Bibi Elen lewat. Bibi Elen hanya tersenyum heran melihat gelagat seorang anak kecil yang sudah seperti orang dewasa berusia 30 tahun. Namun entah mengapa Anak itu semakin akrab dengan bibi Elen – dan dia semakin menyukainya. Kini mereka berdua tengah duduk berdampingan disebuah kursi dengan menatap halaman-halaman buku tanaman yang sedang dipamerkan anak kecil – sedikit berdarah cina itu “Tanaman ini namanya kumis kucing, biasanya bermanfaat sebagai obat, Kalau yang ini kelor – orang asia tenggara sering menjadikannya sayur, ayahku yang bilang…entahlah- rasanya enak atau tidak…saya juga sempat merasa heran dan tak percaya. Kemudian yang ini namanya Pare – kau tahu bibi Elen? Buahnya sangat pahit, tapi banyak juga orang yang senang memakannya… Ada juga tanaman gurun namanya kaktus, ada lagi yang unik, kantong semar … ia bisa memakan serangga loh” Anak kecil berkaca mata – dan sedikit berdarah cina itu berceloteh panjang lebar, bibi Elen memperhatikannya dengan antusias “Hei Peter! Kau bilang ingin bermain Playstation dikamarku?” Rufus berkacak pinggang didepan pintu kamarnya – menggerutu sebal, namun Peter tak memperhatikannya… ia sibuk bercerita soal tanaman-tanaman aneh didalam buku miliknya bersama bibi Elen, Rufus tak tahan lagi dan ia pun berlari keluar, membiarkan kedua orang itu saling bercerita tentang tanaman aneh “Jadilah kau teman ibuku!” Rutuk kesal Rufus pada Peter.. “Tifanny!!! . . .Tifanny!!! Ayo kita main” Rufus berteriak-teriak didepan rumah tetangganya, dan sesaat kemudian muncul gadis mungil yang lucu dengan pita biru dirambutnya…
“Aku suka warna pitamu” Rufus menarik rambut Tifanny yang ikal sambil tersenyum-senyum “Hentikan Rufus! Kau merusaknya…dan berhentilah menggodaku!” Gadis mungil berusia 6 tahun itu berceloteh lucu “Ieeeekh! Kata-katamu menjijikan…” Rufus kecil mendelik dan mencekik lehernya sendiri seolah ingin muntah, Tifanny hanya memutar-mutar kedua bola matanya yang bundar “Baiklah, apa yang kita lakukan hari ini?” ucapnya kemudian, “Menangkap kodok? Atau bermain setan-setanan dihalaman depan rumahmu ya??” Tifanny memberi usul “Ku rasa menangkap kodok akan menarik, Ibuku baru memotong rumputnya dihalaman, dan ia akan marah kalau aku merusaknya… lagian aku tidak ingin pulang kerumah, ada dua orang gila yang asik merencanakan hal aneh…”
Rutuk Rufus sambil berjalan disamping gadis mungil berpita biru… “Oke…oke…ku rasa, tanpa perlu kau bermain setan-setanan, bentukmu sudah lebih menyeramkan dari setan” dan mereka berlalu…

Benar saja, ketika Rufus pulang bermain dan menemui ibunya dikebun yang tak jauh dari rumahnya, ia mendapati kebun itu telah menjelma menjadi hutan amazone ! tak ada Crissan, lavender, tulip dan bunga indah lainnya, kini yang ada hanya tanaman hijau merambat, kaktus berduri racun, kantong semar yang aneh… Rufus tercengang “Tifanny!!!!!!!!! Ibuku sudah gilaaAA!!!!!” Ia lari terbirit-birit…

B e r s a m b u n g

Ada Komentar ?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s