SERIES VI “Autum Flowers”


S a m b u n g a n . . .

Udara malam dingin saat hujan masih saja mengguyur deras kota di mana Rufus dan Tifanny bertempat tinggal. Angin bertiup semakin menggila dan daun disemak-semak dan pohon-pohon dipinggir jalan menggelepar tak karuan, derai air hujan menabrak kaca jendela dan  Di dalam kamar redup itu Rufus berkali-kali merubah posisi tidurnya. Namun ia tetap tidak bisa memejamkan matanya, ia berusaha sekeras mungkin agar matanya terpejam- giginya bergemeretak tak jelas, perasannya gusar, dan tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya sendiri. Seandainya kau tahu Tifaany!

            Ia bangkit dari ranjang hangatnya, berjalan kesana kemari, meraih gitar akustiknya, dan bernyanyi-nyanyi. Kemudian beberapa saat ia berhenti, dan menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Kemudian ia menyoroti setiap sudut kamarnya, mencoba mencari apa yang menurutnya dapat menyenangkan hatinya, dan ia menemukan i-pod berwarna biru miliknya. Ia berlonjak-lonjak diatas kasur, menyeringai dan teriak-teriak “Wuoo…HuW!!!Yeaaah!!!”  Ia sudah seperti orang gila, Dan lagi-lagi ia terdiam, wajahnya sekusut benang wol yang tak terajut dengan sempurna. Ia mendekati meja belajar miliknya yang berada dekat dengan pintu  kamar. Kini apa yang ia temukan ? lembaran-lembaran kertas biru berpadu emas yang masih halus dan kosong. Diraihnya selembar, dan ia menulisi sesuatu di dalamnya. Hanya beberapa kata dari lubuk hatinya yang paling dalam, kemudian ia melipatnya hingga kertas itu kini menjelma menjadi sebuah pesawat kertas berwarna biru emas yang indah. Ia menerbangkannya didalam ruangan kamar itu, Pesawat kertas itu terbang mengitari setiap sudut kamar, oleng dan terjatuh… diraihnya lagi, dan diterbangkannya lagi, kali ini menabrak  tirai jendela dan terjatuh lagi. Seandainya jendela ini terbentang lebar, dan ku ingin kau terbang menuju kamar Tifanny harapnya dalam hati. Rufus kembali menerbangkan pesawatnya semalaman itu. Ia benar-benar sudah gila…

            Hari berganti hari, dan tanggal 27 itu semakin dekat saja. Namun Tifanny dan Rufus malah saling berdiam diri, dan saling menjauhi diri dari masing-masing… Mereka tak tahu, konflik hebat apa yang terjadi… Mereka sangat menderita melalui hari-hari terakhir kebersamaan mereka seperti ini. Tiap hari Tifanny selalu menatap jendela Rufus, tapi jendela itu kini tak pernah terbentang lebar lagi. Ia bertanya-tanya Kemana perginya si pilot pesawat biru emas itu ? apa ia tak ingin menjadi pilotku lagi? Apakah ia serius mengatakannya? Tifanny benar-benar merindukan Rufus.

            Hari ini sudah memasuki tanggal 25, ketika mentari bersinar begitu cerah – ketika cahanyanya yang hangat menembus rumah kaca Bibi Elen. Hutan amazone itu tak lagi membuat Rufus takut, sudah bertahun-tahun ia membiasakan dirinya untuk ikut menyukai tanaman-tanaman aneh itu. Dan akhirnya Rufus benar-benar menyukainya… Tak ada lagi bunga Crissan dan lavender memenuhi ruangan, jika pun ada, mungkin hanya ada dua-tiga pot, varietas tanaman dalam kebun ini terlampau banyak, sehingga tak memungkinkan untuk menanam tiap varietasnya dalam jumlah banyak, “Owh Vanya, kau masih tetap wangi setiap hari” Ujar suara berat Rufus kepada tanaman kamboja kuning disampingnya, bunganya merekah begitu banyak, kemudian berjalan lagi dan menyapa si kantong semar “Emily cantik, kau begitu ganas ya…hehe”, “Hai Rona, kau tampak layu?” katanya pada bunga bakung, “Kau angkuh sekali ya Marissa” senyumnya pada anggrek hutan, dan ia menyapa setiap tanaman yang ia lewati dengan sebutan gadis-gadis yang dulu pernah ia jumpai,… kaktus, rossela, euphorbia. Dan beberapa pot bunga mawar berwarna orange – dan merah darah dihadapannya, kali ini Rufus tak menyapa kumpulan kecil bunga yang tersudut itu… Ia duduk dan terdiam… mengamatinya dengan seksama sampai ia hampir melamun. Hanya bunga ini yang belum ia beri nama…padahal bunga-bunga inilah yang paling lama bertahan hidup dikebun Amazone ini, Rupanya ibu masih merawatnya.. ku kira mawar ini telah punah bersama Lavender dan crissan… pikirnya.

Nama apa yang cocok ? ia ingin memberi nama semua tanaman yang ada di kebun ini sebelum ia pergi meninggalkan rumah dan kebun ini, tempat keluarga Sanders menikmati hidup. Tiba-tiba terlintas dipikirannya wajah Tifanny, sang tetangga. Bunga ini terlalu indah untuk nama Tifanny !  pikir Rufus ketika mengingat kelakuan aneh Tifanny yang mengerikan, ia pun tertawa terbahak-bahak… Ia ingin sekali mengulang masa-masa itu bersama Tifanny – lagi. Ia membawa sebuah pot kecil bunga mawar orange ke dalam kamarnya “mungkin bisa kupikirkan nanti, apa yah nama yang cocok untukmu ? – bunga manis?….”

B e r s a m b u n g

Ada Komentar ?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s