SERIES VII “Autum Flowers”


               Inilah tanggal 27, sudah tiga tahun setelah tahun dimana Peter meninggalkan Tifanny, hari ini orang yang sangat penting baginya juga akan meninggalkannya. Semalaman Tifanny tak bisa tertidur pulas menanti datangnya hari ini, hingga detik ini pun juga ia belum berbicara dengan Rufus. Apakah Rufus akan meninggalkannya begitu saja? Tanpa ucapan perpisahan? Tanpa memberi penjelasan yang pasti mengapa mereka saling diam? Tak ada sepatah kata pun? Tifanny tercenung sendiri didalam kamarnya memandangi bunga mawar kering yang diberikan Rufus beberapa bulan lalu, Bunga itu ada didalam vas yang airnya sudah kering berbulan-bulan lalu. Ia berharap kembali ke masa itu dimana mawar-mawar itu masih segar dan berembun, dimana Rufus datang dan meminta maaf padanya, dan kali ini ia ingin menerimanya langsung dari tangan Rufus dan melihat lagi wajah sapi itu tersenyum nakal…sapi?… Wajah Rufus begitu tampan sama sekali tak mirip dengan sapi…  ini kali pertamanya Tifanny mengakui ketampanan Rufus. Secercah pikiran muncul dikepalanya, meski bodoh dan sia-sia… namun ia tetap melakukannya. Ia pun beranjak dari tempatnya dan meraih Vas berisi tujuh mawar kering itu, kemudian diisinya dengan air … Dan vas bunga itu ditaruhnya tepat dijendela kamar. Sinar matahari yang menembus kaca vas bunga itu nampak berkilau, ditambah lagi ketika dibiaskan oleh air jernih didalamnya seakan kilauan permata yang terpancar keindahannya. Tifanny berharap bunga mawar berwarna coklat yang tampak rapuh itu segar kembali bila mendapat cahaya dan air seperti ini, meski ia tahu itu sia-sia… Didepan matanya kini terpampang jendela megah yang tertutup rapat dan bertirai gelap. Tifanny sangat sedih melihatnya… setetes air mata jatuh diatas mawar kering itu, menelusup kecelah-celahnya… menggambarkan kekecewaan Tifanny yang amat sangat…

“Tifanny ! Pergilah kerumah Bibi Mary, Tolong antarkan kue ini untuknya”, “Iya Bu !” Tifanny segera  mengusap air matanya… Peter, seandainya kau melihat aku menunggumu seperti ini, siapa yang bersalah ? kesabaranku ada batasnya Kau keterlaluan…!

Sedangkan dikamar lain, tas ransel besar memenuhi kasur Rufus. Ia sudah tampak tampan dan gagah dengan kaos biru itu – warna kesukaanya. Jaket sporty menutupi kulit putihnya dan ia memakai parfum beraroma maskulin. Mungkin bila melihatnya saat ini, Marissa pasti akan menyesal telah menolak anggrek hutan pemberian Rufus sebagai lambang cintanya, begitu juga dengan gadis-gadis lain, termasuk Tifanny, Temannya yang sinting itu…

Ia berfikir, sudah saatnya ia mengakhiri ini semua, kenapa ia tak mencoba menerima kenyataan dan kembali tertawa dan mengejek-ejek Tifanny lagi, itu jauh lebih menyenangkan dan melegakan perasaanya dari pada ia harus berdiam diri membiarkan Tifanny dan dirinya sendiri berfikir yang macam-macam. Melihat senyum Tifanny yang terakhir kalinya, mungkin akan dapat menyenangkan perasaanya lagi. Ia membiarkan jendela kamarnya membentang lagi , cahaya matahari segera masuk tanpa permisi dan menyinari permukaan lantai kamar Rufus.. Ia sempat memicingkan mata saking silaunya… Mana Tifanny?  Dalam hatinya berbisik ketika leluasa menyapu pandangan ke setiap sudut kamar Tifanny. Masih seperti pagi-pagi biasanya, jendela kamar Tifanny terbuka lebar dan terlihat dinding bercat ungu dengan foto-foto yang menggantung, entah apa ia tidak bisa melihatnya dengan  jelas, tapi ia tahu itu foto-fotonya bersama Tifanny, karena ia sudah tak asing lagi dengan kamar bernuansa ungu itu. Ia tahu setiap sudut rumah Tifanny… Seperti Tifanny yang kenal betul seisi rumah kediaman keluarga Sanders. Termasuk kamar bernuansa biru miliknya ini…

Cukup lama ia terpaku menatap ruangan kosong diseberang sana. Ia membayangkan seorang gadis belia berambut ikal tertawa mengejeknya dan menerbangkan secarik pesawat kertas yang berisi kalimat-kalimat aneh dan gambar-gambaran anak TK yang tolol, seperti biasa yang mereka lakukan ketika mereka ingin bercerita yang aneh-aneh. Sebuah benda mengganggu penglihatannya, menghalangi dan tetap berdiri di daun jendela kamar Tifanny. Matanya tak percaya – tujuh tangkai mawar kering berada dalam sebuah vas dengan air yang masih sangat jernih – Tifanny benar-benar sudah gila !

Tapi Tifanny masih menyimpannya dengan baik, hanya saja bunga-bunga itu rapuh dimakan waktu – kau tahu? Rufus benar-benar kaku selama beberapa detik…. Mungkin aku gila ! tapi aku benar-benar yakin, bunga mawar ini seharusnya bernama Tifanny … Bertahun-tahun Rufus membendung pikirannya seorang diri, dan inilah suatu hal yang membuat dirinya – kepada Tifanny menjadi bersikap aneh. Ia hanya takut, ia takut Tifanny tahu… Dan kenyataannya Tifanny memang harus mengetahuinya, dan bahkan dihari perpisahan mereka. Tekad Rufus sangat kuat. Meski ia tahu di dalam hati Tifanny masih ada sedikit celah untuk Peter… mungkin lebih…Karena Tifanny masih sangat setia menanti kepulangan Peter, dalam hatinya sedikit memberontak, bingung dengan apa yang ia pikirkan. Seharusnya kau melupakan seseorang yang telah memberi harapan palsu untukmu Tifanny ! seru Rufus sembari beringsut keluar dari kamarnya – sebelum sesaat sempat meraih sebuah pot berisi setangkai bunga mawar berwarna orange yang masih sangat segar…

“Kau mau pergi kemana? Ingat, kereta akan berangkat jam sepuluh pagi ini – atau kau akan kehilangan impianmu!” Bibi Elen mengingatkan Rufus dengan mencuatkan jari telunjuknya, matanya sedikit mendelik… namun Rufus tetap berlalu dan tak memperhatikannya “Mau kau apakan bunga mawar itu ? Ia sudah sangat kesepian, jangan sampai mati karena kau campakan” Bibi Elen geram melihat sepot kecil bunga mawar curian dalam tangan Rufus “Justru aku ingin menyatakan cinta padanya, ibu” Rufus terus melaju sedangkan Bibi Elen sudah mencemaskan kerja otak anak kesayangannya itu Cukup kebun ibuku yang kau ubah menjadi hutan amazone, kawan ! tak ‘kan ku biarkan kau merubah hati Tifanny juga…

Ada Komentar ?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s