SERIES VIII “Autum Flowers”


L a n j u t a n . . .

“Bibi Anna! Aku ingin bertemu Tifanny, di mana dia?” Rufus sibuk berjalan, berlari ke dapur, ke ruang keluarga, ke kamar mandi, seluruh sisi rumah Tifanny… Ia tak memperhatikan Bibi Anna yang tengah bingung melihat kelakuannya, Ia berlari ke kamar Tifanny yang sepi itu…Kini ia bisa benar-benar melihat semua isinya, setelah beberapa tahun semenjak Tifanny beranjak dewasa, ia tidak pernah mengizinkan Rufus untuk benar-benar memperhatikan kamar miliknya, dengan seksama, dan sangat dekat… seperti yang dilakukan Rufus saat ini… Ia tercengang melihat jelas apa yang menggantung di dinding-dinding ungu itu “Ku bilang, Tifanny sedang pergi… percuma kau mencari-carinya disetiap sudut rumah ini” Suara Bibi Anna baru terdengar jelas ditelinga Rufus, Rufus tak berkata apa pun, bibirnya kelu… Ketika yang ia lihat dimeja belajar Tifanny adalah sederet penuh Foto-foto Peter, Tulisan kecil Tifanny memenuhi bingkai dan sisi-sisi foto yang kosong – Peterku tercinta, Peterku terkasih, Peterku, Peterku… Aku percaya padamu, kuharap kau segera kembali, aku benar-benar mencintaimu – dan banyak lagi coretan-coretan tangan Tifanny jadi kau masih menunggu si bodoh itu? Wajah Rufus berubah sepucat kertas… “Rufus…Rufus?! Kau tak apa?” Bibi Anna menggerak-gerakan pundak Rufus, Rufus masih larut dalam pikirannya “Aah?…aku tak apa-apa, bibi Anna… Aku Cuma ingin mengucapkan salam perpisahan pada Tifanny” Jelas Rufus yang mulai tersadar… “Ternyata kau benar pergi hari ini? Tapi Tifanny baru saja pergi… Ia pasti akan sangat merindukanmu ya?” , “Mungkin aku bisa menunggunya beberapa saat disini?’” Rufus memohon… “Baiklah, ada hal yang harus aku kerjakan” Bibi Anna pun keluar dan menghilang dibalik pintu.. Rufus memandangi gambar-gambar yang menggantung didinding….. Entah kenapa ia menjadi tak sanggup untuk bertemu Tifanny, Ia bingung apa yang harus dikatakannya pada Tifanny nanti…

Sedangkan ditempat lain, dirumah Bibi Mary tepatnya… Tifanny mendapat hal yang sangat mengejutkannya. Ia tak membayangkan sebelumnya – saat itu ketika Tifanny membunyikan bel dan Bibi Mary keluar dan Tifanny telah menjalankan tugas yang diberikan ibunya- yaitu mengantarkan kue – dan ketika Tifanny hendak pulang. Bibi Mary ingat akan sesuatu, sesuatu yang berhari-hari terselubung dalam kotak suratnya yang seharusnya ini ditujukan untuk Tifanny. “Bilang pada ibumu aku sangat berterimakasih” Kata Bibi Mary seiring Tifanny menjauh “Akan ku sampaikan, pasti” Tifanny membalas lambaian Bibi Mary dan semakin menjauh, kali ini ia keluar dari halaman rumah Bibi Mary “Tifanny, Tunggu! Ada sesuatu yang kau lewatkan..kemarilah!” Tiba-tiba Bibi Mary memanggilnya lagi setelah mengingat sesuatu hal yang ia lupakan.“Kau datang disaat yang tepat, Tifanny… Tunggu disini..” Tifanny berdiri didekat pintu rumah bibi Mary lagi dengan tampang heran, ia sangat penasaran… Ia menunggu beberapa lama setelah bibi Mary masuk ke dalam rumahnya “Maaf, aku lupa dimana tempat menaruhnya” Bibi Mary keluar lagi dengan menyodorkan sepucuk surat dengan amplop berwarna abu-abu “Dari siapa?” Tanya Tifanny sedikit heran, ia membalikan sisi amplop dan tertera nama si pengirim – Tifanny melonjak girang sebelum Bibi Mary menjawab pertanyaanya… “Peter !” Ia segera membuka dan membaca isi surat itu…

Tifannyku tersayang…
Maaf telah membuatmu menunggu sekian lama tanpa kabar,sulit menggunakan alat komunikasi yang efektif di sini. Karena saat ini aku berada di daerah terpencil di suatu Negara bernama Indonesia, Kau tahu ? – Bali…
tapi kini aku berada jauh dari Bali, aku ada disudut lain Indonesia…
Aku sangat merindukannmu… Seandainya kau bersamaku…
Aku dan Ayahku menjumpai berbagai jenis tanaman unik disini…Bunga yang jarang sekali kau temukan di eropa, Bahkan dikebun super lengkap milik bibi Elen – tetanggamu itu… melimpah ruah di sini…

Tifanny membaca surat dari Peter dengan sungguh-sungguh, ia sangat senang sekali…namun ketika Ia membaca pada baris dimana Peter menuliskan nama Bibi Elen, wajahnya berubah murung… Wajah Rufus membayangi pikiran Tifanny… Apakah kau tak ingin memberikanku ucapan perpisahan dihari terakhirmu dikota ini?? Benaknya berbicara

Orang-orang pribumi di sini sangat ramah, meski bahasa mereka cukup aneh dan sulit aku mengerti..Banyak sekali yang ingin ku ceritakan padamu, tapi ku yakin selembar kertas saja tentu tak cukup…Tunggu kepulanganku beberapa hari lagi yah !
Salam rindu,

P e t e r

Tifanny merasa ia benar-benar bingung, ia tak tahu haruskah ia bahagia ataukah sedih – kabar dari Peter membuat ia senang, tapi ada sesuatu yang mengganjal pikirannya, perasaan sedih yang terselip rapat diantara kebahagian-kebahagiannya… “Hemmh…sudah jam setengah sepuluh, aku terlambat menyirami bunga-bungaku…” Ujar Bibi Mary menggugah Tifanny, dengan secepat kilat memory otaknya penuh memuat bayangan bunga-bunga mawar dan RUFUS !!, Tifanny benar-benar Lupa ! Hari ini tepat jam sepuluh Rufus benar-benar akan pergi, wajahnya menjadi sepucat kertas, tanpa mempedulikan Bibi Mary ia segera melaju – pulang kerumahnya… Masih ada waktu ku bertemu Rufus ! ia berpikir, tanpa sadar kertas surat dari Peter terlepas dari tangannya, melayang dan mendarat – merembes air genangan dengan sedikit Lumpur, menjadi benar-benar sebatang kara dan tak berharga – kelihatannya…

B e r s a m b u n g. . . .

Ada Komentar ?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s