Realita, Statmen dan Statmen…


Hidup ini indah, bukan? Dengan segala hal sepele yang menyelinap, kau dapat menikmati dan mempelajarinya,kau dapat berstatemen dan berkesimpulan, kau dapat berceloteh setidaknya di blog mu sendiri. Meski entah akan dapat dimengerti orang atau tidak. Aku tidak berharap banyak soal itu… 

Pernahkah terbangun oleh mimpimu sendiri? Mimpi yang tidak hanya membangunkanmu ke dunia nyata, tetapi juga membangunkanmu untuk menerima realita. Ya, Kala itu kita semua disentak oleh mimpi. Rasanya sedikit aneh memang… Antara menyenangkan atau tidak….
Kita tidak pernah tahu apa yang kita pikirkan di alam bawah sadar kita, sampai Ia menyeruak sendiri lewat mimpi, menampang muka. Tidak heran, mimpi itu ladang kuasanya, tempat Ia berleluasa, berkelindan dan dari situ kita tahu-Ia ada-. Ketika sedang –galau- or whatever that name. Otak kita masih dapat menerima realita, tetapi sebagian dari kita lebih banyak mengabaikannya. Bingung membedakan prioritas di tentang egoism-Realita or Statement-. Realita sudah diterima, tapi masih menikmati statement…hahaha membingungkan ya filsafat ini…
Dalam hidup kita selalu punya sebuah statement yang kita ciptakan dalam kondisi tertentu kerap ketika kita di timpa masalah. Anyproblems Makes Our Brain Thinking, otak kita tidak bodoh, they are smarter more than any organ in our body. Ia membuat satu statement yang kala itu sepihak dengan kita, entah itu benar atau tidak menurut realita, dan satu lagi statement kebalikan, yang Ia simpan dulu di alam bawah sadar kita, bisa sesuai realita atau tetap suatu statement, tetapi setidaknya Ia bersahabat dengan realita, eh maksudku, setidaknya membuat realita lebih nyata… hmm something like that-lah…
Misalnya: Suatu realita jelas menyatakan bahwa kau sedang jatuh cinta kepada seorang yang tidak menyukai dirimu. Maka jelas pasti kau akan membuat statement yang akan berpihak kepadamu seperti “Aku akan terus mencintaimu sampai kamu mencintaiku”, Yah mungkin itu landasan yang baik untuk kasus seperti ini. Tapi ketika realita tetap akan menjadi realita yang kontra dengan statementmu, disaat itulah kau mulai bingung memprioritaskan-antara menerima realita atau menikmati statement-. Dan suatu ketika, kau tertidur-kau bermimpi sedang berpacaran dengan orang yang pada realitanya tidak mencintaimu itu, tampak begitu menawan mulanya, tetapi di akhir kau bermimpi Ia mencampakanmu dan tidak menghiraukan rasa sedih dan marahmu. Ketika kau terjaga dari tidurmu, hatimu kesal dan sesaat kemudian kau menyadari bahwa kau sudah lelah mengejar dia, kau menyerah dan kau sudah sangat yakin berstatement untuk-move on-sudah sejak sekitar tujuh bulan yang lalu. Hahaha lucu ya ? Lupakan, itu bukan ceritaku…apa peduliku…
Atau misalahnya II: Kau gagal dalam menentukan jalan prestasimu, sudah beberapa kali mencoba lagi karena sulit menerima realita. Kau masih yakin dengan statement “kejar terus sampai dapat” tapi ketika waktu mendesak, kau tetap memutar otak dan berkesimpulan perjuangan yang sia-sia akan memakan banyak waktu, jadilah kau putar arah dan memilih jalan prestasi cadanganmu. Mulanya kau ingin studi farmasi, tapi karena realitanya 7 kali gagal tes dan biaya studi farmasi yang mahal, jadilah kamu memilih studi teknik bioproses sebagai cadangan yang kau ambil. Dan itulah jalanmu…
Suatu ketika kau pulang ke kampung halaman, dan seorang teman lama menawarkan kerja di apotek kimia farma, karena sempat mendengar bahwa kau gagal tes peguruan tinggi nasional dan hampir putus asa, Kau jelas dengan berat hati menolaknya karena kau tidak ingin orang-orang mengasihanimu dan meremehkanmu dengan menawarkan pekerjaan yang jabatannya rendah. Kau pulang dan malamnya tiba-tiba bermimpi menjadi penderi apotek kimia farma-hahah what the hell is that? Kau bangun dari mimpi indah dan sesaat kau menyadari kau sudah melewati kegagalan itu satu tahun yang lalu, dan kini kau studi teknik bioproses, bukannya farmasi. Statementmu bisa ditoleransi -For a biochemichal engineer, that’s possible to happen- Yaah cukup bersahabatlah dengan realita hehehe…
Hidup ini indah, bukan? Dengan segala hal sepele yang menyelinap, kau dapat menikmati dan mempelajarinya,kau dapat berstatemen dan berkesimpulan, kau dapat berceloteh setidaknya di blog mu sendiri. Meski entah akan dapat dimengerti orang atau tidak. Aku tidak berharap banyak soal itu… Yang terpenting, pagi ini aku benar-benar meresapi Statement seseorang bahwa memang benar jika “Rahmat Allah bertebaran di bumi selayaknya pasir di pantai”

Ada Komentar ?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s