Tantangan musim kemarau: Berkebun di Tanah Tandus ?


 

 

 

 

 

 

 

“Manusia dan tanaman itu sama-sama makhluk hidup, keduanya tidak boleh egois, keduanya juga tidak boleh perfectionis” Ada benarnya juga sih, setiap manusia tidak pernah hidup dalam keadaan yang benar-benar nyaman, begitu juga dengan tumbuhan…semua makhluk hidup punya batas toleransi. So, aku mulai menanam dengan feelingku, gak perfectionis lagi...

Dua hari yang lalu, aku dapat kabar tentang lomba menulis essay yang temanya pertanian organik. Aku tertarik dan langsung ingin daftar. Nah waktu aku ngedaftar eh malah dikasih beberapa jenis bibit tanaman, 3 kantung polybag dan beberapa tulisan mengenai cara menanam bibit dan cara membuat pupuk organik. Aku mengerti, sebelum menulis essay, para peserta harus menanam alias mempraktikan bahan essay, diharapkan dari praktik yang dilakukan, kita jadi terinspirasi untuk menulis. Bagiku yang notabenenya mendalami studi mengenai tumbuh-tumbuhan sih mulanya santai aja, toh aku juga sudah banyak mendapat materi mengenai budidaya holtikutura dan pengolahan energi berbasis bioreaksi. jadi aku pikir akan sangat mudah jika dihadapi oleh tantangan semacam ini.

Oh ya, waktu menulis essay dan praktik menanam ini selama 3 bulan, bibit-bibit ini dibawa langsung dari Amerika loh. Ada 4 jenis tanaman yaitu sunflower, okra, borage dan red spinach. Agar mudah mengamati perkembangkannya dan essay jadi tepat waktu. Aku berniat menanamnya hari itu juga (31 juli), ketika hendak mengambil tanah aku baru menyadari kalau ini musim kemarau. Lihat tanah di halamanku seperti debu, kering kerontang nyaris retak-retak dan berwarna abu-abu muda, baru dikeruk sedikit, debunya bertebaran membuat mataku jadi kelilipan.aku jadi kelabakan. Jika diberi air langsung lunak menjadi lumpur yang liat. Ditambah lagi cuaca didaerah tempat tinggalku panasnya bukan main. Bagaimana ini? bibit itu pasti tidak akan tumbuh karena seperti yang ku ketahui syarat tanah ideal meliputi beberapa aspek, antara lain: kadar air, kadar zat hara, pH, dan sirkulasi udara yang lancar.

Aku coba mencari jalan keluar, mula-mula aku menakar tanah yang ku keruk itu ke dalam polybag, kemudian ku beri air secukupnya, bukan malah meresap, air semakin tinggi tergenang….aku bingung. kemudian aku mencampur kedua unsur itu secara paksa dengan tanganku, malah seperti adonan kue…belum lagi aku tidak tahu pasti berapa pH tanah ini, kalau tidak tepat pasti bibit tidak akan tumbuh, lalu bagaimana…bagaimana…bagaimanaa aku bingung….?

Ketika itu juga mamaku datang dan menertawaiku habis-habisan, mamaku memang ahli dalam menanam…tidak seperti aku yang hanya ahli memahami teori. dan satu-satunya ilmu yang tertanam dalam benakku  dari sekian banyak perkataannya saat itu adalah “Manusia dan tanaman itu sama-sama makhluk hidup, keduanya tidak boleh egois, keduanya juga tidak boleh perfectionis” Ada benarnya juga sih, setiap manusia tidak pernah hidup dalam keadaan yang benar-benar nyaman, begitu juga dengan tumbuhan…semua makhluk hidup punya batas toleransi.  So, aku mulai menanam dengan feelingku, gak perfectionis lagi… Dengan feeling, aku tidak ragu-ragu lagi menakar tanah, jumlah air. Oh ya, tumbuhan juga perlu sirkulasi dalam tanah, jadi aku mencampur tanah itu dengan krikil kecil dan rematan dedaunan kering. Alhasil tanah gembur ku dapatkan, kemudian tanah-tanah dalam polybag yang masih hangat itu ku diamkan selama satu malam. Esoknya tanah-tanah itu berubah warna menjadi hitam legam, kembali ku taburi rematan dedaunan kering dan ku beri air, ketika aku mencampurnya, tanah itu terasa dingin dan sejuk. Feelingku mengatakan kalau tanah ini sudah siap di taburi bibit….  =)

Nah, tidak berhenti di situ, aku berpikir kalau seandainya aku yang menjadi bibit-bibit itu mungkin aku tidak akan tahan dengan matahari yang begitu menyengat, tapi aku juga akan takut jika ditempatkan ditempat yang gelap dan lembab. maka dari itu aku menaruh polybag-polibag itu di sela-sela pohon jambu yang besar. selain hawanya sejuk, polybag-polybag itu aman dari gangguan ayam, aliran air yang berlebih juga dapat mengucur keluar dengan mudah. Nah…tugasku berikutnya adalah mengamati pertumbuhan si bibit. Apakah feelingku ini sudah tepat? ;D
Oh ya jangan lupa buat pupuk organiknya!..

Baca juga ini: https://zenithtaciaibanez.wordpress.com/2012/11/05/belajar-dari-alam-belajar-dari-kegagalan/

3 thoughts on “Tantangan musim kemarau: Berkebun di Tanah Tandus ?

  1. mnyenangkan ya main ama taneman,,keren bgt km bisa ngerasain mnjadi mereka..trus gmn kbr lanjut si penanaman ini?😀
    tp ttg bibit dr luar sih yg jelas kita kudu tau dulu kondisi lingkungan asal dia kan ya,,kadang bibit2 macem gitu aga manja (malah emng manja -_-), jd emng butuh effort lebih gede di awal,,stelah itu dah aga gedean baru dikasi perlakuan sebebas kita,,yg aga ekstrem biar dia jd tangguh d lingkungan kita,,;)

Ada Komentar ?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s