Dimana Bumi Dipijak, Disitu Langit Dijunjung



29 September 2012,

Kalau pada umumnya tanggal tua seperti ini merupakan saat-saat dimana hampir seluruh mahasiswa perantauan mengalami masa pancaroba dan itu membuat mereka kehilangan akal untuk bertahan hidup maka tidak untuk ku dihari ini. Bagi ku Today is PERFECT! Once again..Absolutly is PERFECT…

Yah kapan lagi saat-saat bermanfaat dan inspratif seperti ini bisa terulang lagi. Bersyukur aku adalah orang yang termasuk bisa mendapatkan pembelajaran dihari ini, semoga berkah Amin…..
Jadi begini. Sejak jam 4 subuh aku bangun pagi dan berdoa kepada Allah agar hari ini schedule utamaku dilancarkan. Yakni datang ke acara wisudanya mas koko, seperti kebanyakan anak-anak muda yang baru pertama kali mengikuti acara resmi keluarga sang kekasih, barang tentu tidak ingin melakukan sedikit pun kesalahan dan berusaha menjaga citra diri agar tampak baik didepan keluarganya. Dan seperti itulah yang aku harapkan tadi pagi. Kekasih baik-baik itu memang anugrah dari Allah yang paling menyemangati hidup para ABG, ya kan? Hehehe…. Bayangin, aku yang biasanya lelet, jadi sigap biar gak disangka telatan. Yang biasanya tiap keluar dandanan cuek, jadi rajin nyetrika baju batik,blazer dan celana kain…(Gak nguati!) Itu semua untuk apa? Gak tahulah, semacam insting aja kali ya… Dan setelah semua fix, mas koko menjemputku sesuai yang dijanjikan. Saat itu pertama kali aku melihat ayah ibunya yang jauh-jauh dari palangkaraya untuk datang ke acara wisuda anaknya. Semuanya baik,hanya masih kaku karena mungkin mereka belum pernah melihatku sebelumnya. That’s the best thing one of all. Dari situ aku mulai tahu mas koko lebih dalam lagi. Bagaimana keluarganya, posisinya dalam keluarga, juga bagaimana mas koko itu jadi andalan ayahnya…

Point ke dua yang aku tangkap, setelah aku duduk ditengah-tengah keramaian para hadirin. Aku baru tau manakala kita datang ke acara wisuda, tamu gak bisa masuk seenak jidatnya. Mesti bawa undangan dan ngurus registrasi yang ribet.Undangannya pun berbeda antara orang tua/wali atau keluarga lainnya. Dan proses pengurusan undang-mengundang itu pasti akan diusahakan hanya untuk orang yang benar-benar kita sayangi. Aku jadi paham kenapa dulu waktu masih MABA ngelihat pacar wisudawan itu lebih sumringah ketimbang para wisudawan itu sendiri.heheh… dan aku kasihan juga waktu ngelihat ada tamu yang gak sedikit duduk-duduk di luar area pelaksanaan,sambil sesekali berusaha mengintip moment yang terjadi di dalam. Padahal mereka udah dandan cakep-cakep…Dari situ aku belajar menghargai apapun dan siapapun yang kita cintai… 

Point ke tiga, sewaktu acara berlangsung hal yang paling membuat aku kaget adalah mas Koko-ku ini termasuk dalam 20 besar mahasiswa berprestasi yang lulus terbaik dan IPK-nya 3,77! Aku aja gak kepikiran punya target lulus IPK segitu. Waktu dengar namanya berkali-kali disebut dan wajahnya berkali-kali meringas-meringis di depan orang banyak sambil menyalami pak rector dan menerima sertifikat penghargaan, aku sempat ngelihat mamanya nangis haru. Aku malah jadi pingin ikutan nangis, Ada rasa minder dan banggaku. Aku ingin seperti dia. Wajah yang biasanya kelihatan konyol itu mendadak jadi teladan. Aku juga mau pas waktu aku wisuda nanti, aku duduk dideretan paling depan, orang tuaku pun duduk dibangku paling depan…Amin Amin Ya Rabb…

Point ke Empat, punya pacar seorang sarjana teknik jurusan elektro itu gak nguati. Ditengah-tengah acara, pikiranku malah melayang ke tugas elektronika dan instrumentasi, ke Statika dinamika yang minggu depan ada kuis, ada PR gambar teknik yang sama sekali belum aku jamah. Kalau aku ngeluh sekarang,gimana mau lulus IPK cumlaude? Ini masih semester 3 !…Helooww… (Intinya dipoint ke empat ini aku nyadar, kalau mas koko gak pernah nyuruh atau maksa aku untuk jadi yang terbaik ,gak pernah ceramahin atau banyak statemen ini itu untuk memotivasi, tapi dia langsung action, ngasih contoh! Less talk do more katanya..) dengan begitu apa kata “ I love You” itu masih terasa alay untuk aku ucapin blak-blakan?…

545676_520843284610436_1434889575_n

Point ke Lima. Semua terjadi baik-baik aja dan aku diantar pulang oleh keluarganya dengan berpamitan yang sebaik-baiknya juga setelah makan bareng hehehe. Meskipun sempat membuat aku “nge-bego-begoin diri sendiri” karena tas-nya mas koko sempat hilang, dan belum jelas barang berharga apa saja yang ikut hilang. Mulanya aku juga lupa dan aku sempat takut karena aku sering dimintain tolong ngebawa tas itu kemana-mana, jelas aku berpeluang jadi tersangkanya. Sesaat aku sampai panic, kenapa di saat-saat seperti ini sifat teledor ku muncul..ih! bego….bego….bego… tapi aku langsung ingat, kalau tas itu udah ku kasihkan ke mas koko sebelum kita pisah jalur. Aku ingat banget… Tapi akhirnya tas hilang itu udah diikhlaskan…

Sampai dikos aku lega dan gedebukan dikamar (baca:sumringah). Gak lama setelah itu aku ketiduran. Malamnya habis magrib aku ke kampus, sebenarnya ada acara apa aku juga gak ngerti tapi karena ini acara angkatan, katanya sih acara sarasehan yang dihadiri oleh anak-anak jurusan seluruh angkatan terkait evaluasi ospek kemarin yang kurang melegakan, maka dari aku datang. Dan ternyata persiapannya cukup bermodal juga, jadi ceritanya setelah sarasehan, kita nonton bola bareng, konsumsi siap, dekorasi hampir, sempat ikutan naik tangga juga buat pasang tenda,sempat nyalahin seratus lilin juga, Pokoknya asik!

Point ke enam hari ini aku nyadar (gak tau GR atau beneran) mulai merasa penting dan dibutuhkan teman-teman….heheheh beberapa anak request untuk disampaikan unek-uneknya, yang sebenarnya unek-unekku juga. Akhirnya aku mewakili teman-teman buat nanya klarifikasi masalah ospek kemarin, dan akhirnya dari pertanyaanku itu, para senior menanggapi dengan serius. Banyak pesan moral dan wejangan yang aku serap.

Akhir-akhir ini berita yang lagi heboh adalah masalah tawuran pelajar di kota besar.Tapi di daerah-daerah yang biasa,kondisinya aman-aman aja tuh.Padahal kalau kita berpikir, logika kita main. seharusnya pelajar di kota besar itu lebih baik dan lebih berkualitas dibandingkan pelajar-pelajar didaerah.Karena pendidikan dikota besar lebih maju,lebih bermutu (katanya). Mengapa bisa terjadi hal itu? Ada apa? Ada yang salah dari system pendidikan di Negara kita. Kalau kita mau untuk lebih peka dan lebih membuka mata lagi. Dunia kita sedang mengalami peperangan,dalam hal ini berupa perang dingin yang sewaktu-waktu bisa meledak dan panas menjadi-jadi. Perang dingin yang bagaimana? Ya salah satu contohnya di Indonesia ini. System pendidikan kita mulai disetir oleh pihak luar, didoktrin untuk lebih individualis dan Cuma mengupayakan kecerdasan IQ. Apa buktinya? Yaitu lewat media, gadget, social network, kompetisi. Dengan itu semua persaingan individual semakin tinggi dan komunikasi tradisional semakin jarang. Dan itu membuat generasi kita jadi gak punya aturan, gak punya unggah-ungguh. Dan disitulah perlunya Ospek, agar interaksi tradisional tetap berlanjut.Kenapa ospek mesti bentak-bentakan? Mesti pressing? Itu semua dilakukan udah turun-menurun,tradisi dari angkatan paling atas.dan budaya itu punya maksud.tolong jangan berpikir pendeklah…tolong otaknya yang katanya udah tingkat mahasiswa itu digunakan.

Itu semua agar kita terbiasa mengatasi masalah ketika kita berada dibawah tekanan, terbiasa menguras otak dan bersikap tepat dilingkungan yang tidak nyaman, Karena didunia ini pasti ada masalah, dan pasti butuh perjuangan. Begitu sistem penyampaian dari kami (kakak tingkat) agar semuanya paham tentang apa itu solidaritas, loyalitas dan militansi tidak hanya dari segi teori.Dan mau tidak mau, semuanya harus mengikuti adat yang berlaku. Dikatakan bahwa pada intinya, jadilah generasi yang tidak melempen dan memahami kondisi yang ada. Dimana bumi di pijak, disitu langit dijunjung…

Ada benernya sih pepatah itu, kita harus belajar beradaptasi, dan memahami budaya yang berlaku disekeliling kita agar nantinya kita mengerti pola pikir mereka dan akhirnya interaksi dan penyampaian maksud jadi mudah. contohnya ya banyak. mulai dari tetap menjaga unggah-ungguh dikampus, mengikuti tradisi dan aturan yang berlaku di TEP, menjalani kewajiban juga harus sesuai prosedur yang ditetapkan lembaga akademis, bahkan sampai ketika kita bertemu keluarganya pacar kita juga harus paham adat yang berlaku kan? heheh

Makasih untuk mas Agil, mbak Titin, mas Hafiz dan mas ulwan..Kalian semua TEP Golden ways…😀

Point ke tujuh, Akhirnya aku pulang dengan motivasi baru dan sekotak singkong keju! Alhamdulillah….😀

4 thoughts on “Dimana Bumi Dipijak, Disitu Langit Dijunjung

Ada Komentar ?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s