Bersihkan Tuduhan Sebagai BUMN Terkorup, Apakah PT RNI Sanggup Terima Tantangan?


        PT Rajawali Nusantara Indonesia merupakan salah satu Badan Umum Milik Negara (BUMN) yang  bergelut dibeberapa bidang usaha yakni agroindustri, Farmasi & Alat Kesehatan, dan perdagangan. Perusahan ini memiliki profil yang cukup bagus, dapat kita lihat diwebsitenya bahwa sebagai Induk Perusahaan (Investment Holding), saat ini PT Rajawali Nusantara Indonesia atau yang biasa disingkat dengan sebutan PT RNI memiliki 15 anak dan 3 cucu perusahaan. Mengoperasikan 35 kantor cabang, 10 pabrik gula, 2 pabrik alkohol, 1 pabrik obat, 2 pabrik alat kesehatan, 1 perkebunan sawit, dan 1 perkebunan teh.

Visi PT RNI sendiri adalah Sebagai perusahaan terbaik dalam bidang agro industri, farmasi dan perdagangan umum serta siap menghadapi tantangan dan unggul dalam kompetisi lokal maupun global dengan bertumpu pada kemampuan sendiri. Dan misinya yaitu Menjadi badan usaha dengan kinerja terbaik dalam bidang agro industri, farmasi dan perdagangan umum, yang dikelola secara profesional dan inovatif dengan orientasi pada kualitas produk dan pelayanan pelanggan yang prima (excellent customer service), sebagai karya sumber daya manusia yang handal, mampu tumbuh dan berkembang serta memenuhi harapan pihak-pihak berkepentingan.

Jelas dari visi dan misinya kita dapat mengambil kesimpulan bahwa perusahan tersebut benar-benar merasa unggul dan siap melayani kebutuhan masyarakat sesuai bidangnya. Namun visi dan misi yang baik saja tidak cukup untuk kemajuan perusahaan. Perlu adanya hasil kerja nyata yang hadir ditengah-tengah masyarakat. Tidak hanya itu, kemampuannya akan memenuhi kebutuhan masyarakat baik nasional maupun internasional menjadi tolak ukur berhasil tidaknya suatu perusahaan yang bergerak dibidang pelayanan suatu barang atau jasa.

Sebagai bentuk realiasasi dari  visi dan misinya, PT RNI saat ini sedang gencar-gencarnya melakukan hubungan kerjasama dengan perusahaan luar dan berekspansi lahan diberbagai penjuru Indonesia. Perusahaan ini optimis bahwa dengan perluasan lahan maka akan mendatangkan banyak peluang untuk meningkatkan pendapatan dan mensejahterahkan negara. Salah satu berita yang dimuat dalam website Tribunnews. PT RNI terus mengembangkan usaha kelapa sawit. Tahun ini, RNI menargetkan penambahan lahan seluas 27.400 hektare (ha) di Sumatera Selatan. Fikri Al Ansor, Kepala Bagian Keuangan PT RNI menambahkan, perluasan lahan terlebih dahulu akan dilakukan oleh Mitra Ogan. Beliau juga mengatakan bahwa RNI telah memperoleh fasilitas pinjaman senilai Rp 870 miliar dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) untuk Mitra Ogan. Dana tersebut akan digunakan untuk perluasan lahan Kebun Muba I sebesar 7.600 ha, dan Kebun Muba II serta Semindang Haji sebesar 9.800 ha sehingga total pengembangan lahan baru sebesar 17.400 ha. PT RNI tetap optimis meskipun banyak mendapat tudingan negatif dan ketentuan standar internasional terkait dengan lingkungan hidup dan praktik perkebunan lestari dinilai kian memojokkan mereka selaku produsen Crude Palm Oil (CPO).

Salah satu program kerja lainnya baru-baru ini adalah pembukaan lahan seluas 2000 hektare untuk penanaman kedelai mengingat saat ini di Indonesia sedang terjadi krisis kedelai. Berbeda dengan program usaha kelapa sawitnya, PT RNI tidak terlalu berharap banyak dalam perencanaan pembukaan lahan untuk penanaman kedelai ini akan menuai keuntungan yang sesuai atau lebih. Hal ini cukup menjadi sorotan yang menarik pasalnya ini merupakan usaha yang ke-2 kalinya bagi PT RNI setelah program penanaman kedelai yang pertama dihentikan karena dalam hitungan bisnis program ini tidak menguntungkan. Meskipun demikian usaha penanaman kedelai ini tetap dilakukan sebagai bentuk kontribusi untuk negara walaupun kedepannya pihak PT RNI mempredikisikan akan berakhir sama seperti yang lalu. Statemen ini diperkuat oleh salah satu artikel keuangan investasi dimana Ismed selaku direktur Utama PT RNI mengakui Langkah tersebut dilakukan menyusul permintaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada perusahaan-perusahaan perkebunan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) agar menyediakan lahan untuk ditanami kedelai. Mengenai rencana untuk menyediakan lahan yang lebih besar untuk tanaman kedelai, Ismed belum memastikan. Sebab secara bisnis, nilai ekonomis kedelai lebih rendah dibandingkan tebu dan kelapa sawit. “Kita akan lihat tren pasar ke depannya,” ujar Ismed.

Apa yang membuat PT RNI begitu pesismis dengan program penanaman kedelai ini? Tidak ada strategi bisnis dan perencanaan program yang khusus, Padahal sebagai perusahaan pemerintah yang bergerak dibidang agroindustri , tanah seluas 2000 ha bukanlah lahan yang kecil untuk sekedar memenuhi permintaan persiden guna menangani masalah rakyat Indonesia, PT RNI terkesan tidak sungguh-sungguh dan lebih memilih memprioritaskan usaha kelapa sawitnya yang saat ini sudah terlalu banyak menghabiskan lahan, Selain permasalahan baru tersebut, ternyata dibalik upaya kerasnya berekspansi lahan guna meningkatkan pendapatan, PT RNI yang memiliki visi -Sebagai perusahaan terbaik dalam bidang agro industri, farmasi dan perdagangan umum serta siap menghadapi tantangan dan unggul dalam kompetisi lokal maupun global dengan bertumpu pada kemampuan sendiri- nyatanya masih belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia akan gula putih.(sumber: Pemerintah diminta mendesak importir untuk segera merealisasikan impor gula Kristal putih (GKP) guna menjaga kecukupan stok di dalam negeri.)

            Banyak faktor yang membuat PT RNI beserta perusahan BUMN lainnya belum sepenuhnya mampu untuk mengatasi permasalahan kebutuhan masyarakat di Indonesia, hal ini sudah pasti menjamin akan sangat sulit jika harus mampu bersaing di pasar Global skala internasional. Khusus untuk permasalahan PT RNI berkenaan dengan program kerjanya menanam kedelai seluas 2000 Hektar, perusahaan tersebut  tampaknya gagal belajar dari pengalaman dan akan mengalami kesulitan dalam perjalanannya dikarenakan beberapa hal,yakni:

  1. Tanpa adanya strategi yang baru, program kerja PT RNI ini tidak efektif dan pada akhirnya akan berhenti.
  2. Sulitnya membangun kepercayaan mitra kerja, pemerintah, dan masyarakat dalam mendistribusikan produk-produknya. Pasca kasus korupsi yang terjadi dalam badan PT RNI sendiri masih membekas dibenak pengamat bisnis Indonesia, sampai saat ini PT RNI masih menjadi tuduhan perusahan Negara terkorup kedua setelah PT TELKOM. PT. Rajawali Nusantara memiliki potensi penyimpangan anggaran senilai Rp904,85 milyar. Sementara itu, di posisi ketiga, ada perusahaan publik PT Jasa Marga dengan potensi penyimpangan sebesar Rp605 milyar.
  3. Kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran perusahaan dan kelemahan struktur pengendalian intern juga menjadi faktor yang memunculkan potensi korup atau tindakan merugikan negara. “Tidak ada pemisahan tugas dan fungsi yang memadai dalam BUMN. SOP juga tak jarang tidak ditaati.” (sumber:www.Tempo.com)
  4. Akan bertambah sulit lagi karena pemerintah mengambil kebijakan memfasilitasi dan memberikan keleluasaan kepada koperasi/pengrajin tahu tempe untuk melakukan impor langsung.
  5. Pemerintah juga membebaskan bea-masuk impor kedelai hingga tahun ini untuk mengatasi krisis kedelai. Kebijakan pemerintah ini tampaknya juga kurang efektif karena tidak ada jaminan yang jelas untuk mengatasi dampak jika sewaktu-waktu bea-masuk impor kedelai ditinggikan lagi. Memang benar jika nantinya harga kedelai impor akan melonjak setara dengan kedelai local, pada kenyataanya kualitas impor tetap lebih unggul dan lebih diminati,masyarakat akan mengalami krisis kedelai yang makin parah.
  6. Disamping itu, PT RNI hanya mampu mengandalkan bisnisnya dibidang agroindustri dikarena kan pertumbuhan industri alat-alat kesehatan cukup lambat sehingga persaingan cukup tajam pada bidang tersebut.

 

Dari beberapa contoh faktor yang menjadi kendala PT RNI yang dirasa sulit untuk bersaing dalam skala internasional, dapat disimpulkan bahwa hal tersebut dikarenakan tidak selarasnya antara tujuan bisnis perusahaan, kebijakan pemerintah, pola pikir masyarakat dan kondisi alam sebagai SDA. Semuanya merupakan aspek penting yang sangat berkaitan dan perlu penataan yang lebih baik. Beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait program PT RNI untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dengan menanam kedelai seluas 2000 Ha tidak semata-mata menjadi tanggung jawab perusahaan dan pemerintah saja. Semua aspek penting yang telah disebutkan diatas hendaknya bekerja sama dan mengenyampingkan usaha masing-masing untuk menimbun keuntungan pribadi secara berlebihan karena hal itu tentu saja akan merugikan Negara dan membuat perekonomian Negara menjadi kacau.

Upaya yang perlu dilakukan guna menyukseskan program kerja PT RNI dalam hal ini penanaman kedelai seluas 2000 Ha untuk mengatasi krisis kedelai dalam negeri antara lain:

  1. Perlu adanya strategi bisnis yang tepat dan usaha yang serius dari perusahaan itu sendiri.
  2. Membangun kepercayaan pemerintah dan mitra kerja lainnya termasuk petani kedelai.
  3. Meningkatkan daya saing produksi lokal yang didukung oleh kebijakan pemerintah. Misalnya mengimprove kualitas produk dengan metode rekayasa genetic disertai aturan yang jelas dari pemerintah mengenai pembudidayaan produk GMO berupa tanaman transgenic skala besar yang lebih unggul dari produk GMO impor. Jika produksi GMO dilakukan skala besar
  4. Sosialisasi dan Penyuluhan. Efek samping dari solusi ini adalah dikhawatirkan hilangnya plasma nutfah dimana sebagian besar spesies asli produk akan punah dan produk Indonesia akan kehilangan identitas. Hal tersebut dapat dihindari dengan melakukan sosialisai berupa penyuluhan kepada para petani untuk memproduksi produk GMO skala besar dengan teknologi yang tepat guna, namun sebagian kecil petani lainnya dikhususkan untuk tetap memproduksi produk spesies asli dengan jumlah terbatas tentunya dengan jaminan harga dari pemerintah, hal tersebut dilakukan selain untuk mempertahankan spesies asli ditengah-tengah improvisasi kualitas produk skala besar,juga penting dikarenakan tidak semua konsumen memiliki selera yang sama.  Toh bukannya apabila produk dengan spesies asli diproduksi terbatas, harganya akan lebih meningkat? akan menjadi peluang komoditas.
  5. Pemerintah sebaiknya belajar dari sistem politik jepang yakni Trade of Plan dimana harga produk organik memiliki nilai yang setara dan sesuai dibandingkan dengan suatu jenis produk industri berupa. Misalnya satu kilogram beras sama berharganya dengan satu unit handphone.
  6. Menerapkan sistem pertanian Agroforesty yakni suatu system penggunaan lahan yang bertujuan untuk mempertahankan atau meningkatkan hasil total secara lestari, dengan cara mengkombinasikan tanaman pangan/pakan ternak dengan tanaman pohon pada sebidang lahan yang sama, baik secara bersamaan atau secara bergantian, dengan menggunakan praktek-praktek pengolahan yang sesuai dengan kondisi ekologi, ekonomi, sosial dan budaya setempat.
  7. Membatasi import dengan mamasang tariff bea-masuk.
  8. Pikirkan lagi mengenai alih fungsi lahan, dampak kedepannya untuk lingkungan karena lingkungan merupakan sumber utama SDA.
  9. Nasionalisme semua pihak untuk inisiatif memajukan perekonomian bangsa.

 

Ada Komentar ?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s