Series IX: Autum Flowers


             Rufus benar-benar resah di dalam kamar Tifanny, ia berjalan mendekati jendela, kembali melihat foto-foto, terkadang ia menyapa bayangannya sendiri dalam cermin “Hai kawan?? Nyatakan sekarang juga, atau kau akan menderita !!” Ancamnya pada bayangannya sendiri… Kadang ia menggerutu sebal – ingin menjambak rambut Tifanny dan mengatainya sapi lelet… Ia melirik ke arah jam tangannya, sudah jam segini, Tifanny belum juga pulang…

Dengan segenap kesabaran yang ada, Rufus menunggu… Ia tak tahu, ditempat lain perasaan Tifanny – sama sepertinya… seandainya saja Tifanny dapat berlari lebih cepat lagi, karena tak lama kemudian Bibi Elen telah siap dengan koper-koper Rufus dan taxi yang terparkir didepan rumahnya, setelah berbincang ringan dan sangat singkat dengan Bibi Anna, ia mendapat keistimewaan menggiring anak kesayangannya itu untuk beranjak pergi dari kamar Tifanny “Rufus! Bergegaslah… kau tahu? – Kereta akan berangkat sebentar lagi” Ibu setengah baya itu menarik tangan anaknya “Bisakah kita menunggu Tifanny sebentar saja-lagi, bu?”  “Tak ada waktu lagi Rufus” Bibi Elen tak mau mengerti, “Ayolah… Ku mohon” Wajah Rufus memelas, tapi itu semua tak bisa merubah pikiran Bibi Elen yang sangat ingin anaknya menjadi orang tersukses dikota itu. Bibi Elen mendorong anaknya keluar dengan sekuat tenaga, Anak ini keras kepala… “Baiklah…baiklah” kata Rufus kemudian, tapi Bibi Elen tak menggubrisnya… setelah sampai ruang tamu dan hampir keluar, Rufus beranjak menaiki tangga kembali ke kamar Tifanny, membuat Bibi Elen sedikit terkejut dan tak sempat menghentikan langkah anaknya “Aku melupakan sesuatu Bu!” Suara Rufus terdengar kurang jelas dari balik sana… Ia kembali merapat dengan jendela kamar Tifanny, sebuah pot berisi bunga mawar orange yang sedari tadi terus dipegangnya – ia letakkan di samping se-vas bunga mawar kering. Secarik kertas biru emas dengan tulisan amburadul terselip dibawahnya… kemudian ia kembali disamping ibunya lagi dalam waktu hanya beberapa detik. “Apa lagi?!” Bibi Elen terlihat garang, tapi wajah anaknya yang tampan dan tengah tersenyum manis, tak mampu membuat bibi Elen melakukan sesuatu yang lebih jahat dari itu “Ini rahasiaku dan Tifanny” Rufus tersenyum nakal… Ia harap Tifanny segera membacanya…

Tak ada yang tahu akhir cerita ini, bahkan Tifanny dan Rufus pun tak tahu, seketika Taxi melaju kencang, menderu-deru mesinnya meningggalkan setiap detak jantung Rufus… Begitu juga Tifanny dengan nafasnya yang tersengal-sengal…, seketika wajahnya berubah putus asa… Secepat apa pun gadis itu berlari, ia tetap tak bisa mengejar… Dan butuh waktu lama untuk ia menunggu kembalinya Rufus…Mungkin seperti itulah yang harusnya terjadi, pada Tifanny, menanti sepanjang hidupnya…penantian yang tak kunjung usai, dan jelas sia-sia…Ia mengurangi laju kakinya, langkahnya melambat, dan akhirnya berhenti… Dilihatnya langit biru muda di atas sana…Bersih tak berawan, “Humh…Baiklah, kau bebas sekarang…” ujarnya sambil berlalu…

Setelah Peter meninggalkannya dan membuatnya menunggu, apa lagi? Rufus… Dengan begitu, apa bedanya mereka? Apa bedanya seluruh makhluk berspesies homo sapiens yang diberi identitas-laki-laki, ini??? Hanya nama dan karakternya saja,kan?selebihnya adalah sama…Meskipun dalam diri mereka mengingkarinya aku berbeda…aku berbeda…jangan samakan aku dengan dia! Tifanny tertawa kecil mengingat ketika seorang laki-laki memperlihatkan kebodohannya pada seorang perempuan, kau tahu- mereka bahkan lebih egois, lebih pengecut, dan lebih tak waras dari perempuan…Mereka menyia-nyiakan perasaan, mereka hanya memikirkan kenyamanan mereka sendiri, ketika mereka sudah merasa tak nyaman, mereka meninggalkannya… dan mereka mulai menyalahkan perempuan ketika perempuan itu berkoar-koar tak jelas menuntut keadilan Apa yang kau mau? Kalau kau tak suka-akhiri saja…bibirnya terasa ringan merangkai semua kata-kata itu..sedangkan si perempuan kalang kabut. Tak bisa kah mereka jujur kepada diri mereka sendiri bahwasannya mereka saling membutuhkan??saling menguntungkan dalam suatu kondisi dan situasi??? Disaat itulah mereka menganggap perempuan itu lemah, perempuan itu egois, penuh emosi. Bisakah mereka hitung, berapa banyak kesabaran perempuan yang mereka habiskan? Ketika mereka berbuat ulah, ketika kebodohan mereka menyeruak ke permukaan, ketika segala tindak-tanduk mereka lakukan tak beralasan, ketika mereka mulai bosan dan melupakan semua yang telah mereka lakukan…yang mereka pikir hanya menghindar…menghindar…sedangkan perempuan-perempuan korban perasaan mereka masih saja bersabar, mendorong mereka dari belakang, dari samping mereka… meyakinkan mereka, lantas mereka berkata Bisakah kau sedetik saja untuk tidak mencampuri segala urusanku?! Kau bukan siapa-siapa?! Kau bukan orang tuaku, mengerti… mengingat semua hubungan manusiawi yang ternyata sangat bobrok, aneh, tak logis dan tak adil itu… mengapa ia harus berfikir, Peter…Rufus…bahkan semua makhluk sejenis mereka yang sangat sukar dimengerti itu harus betah berlama-lama disisinya? Bukankah Tifanny tak pernah berharap bahwa ia harus dimengerti? Bukankah ia tak pernah meminta segala sesuatu keindahan yang menipu??…Mereka sendiri yang datang kepadanya dan memberi harapan-harapan itu…ketika Tifanny mulai berharap, apakah itu salahnya???, Tifanny merasakan dirinya begitu bodoh, mengapa ia selalu saja jatuh ke dalam lubang yang sama…kini ia telah bebas, ia yakinkan dirinya sendiri…Sudah cukup ia mengikut sertakan segala perasaannya pada hal yang sia-sia ini… Meskipun nanti raganya termiliki, mungkin ia akan tetap menunggu Rufus…teman terbaiknya sepanjang masa… atau tidak sama sekali!

Sedangkan di tepi lain rumah Tifanny… Se-pot kecil bunga mawar orange – mekar dengan indah, dilumuri bias matahari…Mendampingi secarik kertas Rufus …

Awan yang indah itu…

Adalah ketika warna putihnya berubah abu-abu…

Turunkan air yang titik demi titiknya

Membawa segar aroma tanah…

 

Api yang indah itu…

Adalah ketika warna biru tenangnya berubah merah menyala…

Hempaskan arang hitam

Menjadi butiran abu lembut yang bertebaran…

 

Pelangi yang indah itu…

Adalah ketika ia muncul sekejap membelah langit

Dan warna-warnanya sanggup

Mengunci setiap bola mata yang menyaksikannya

 

Cinta yang indah itu…

Adalah saat aku mengenalmu,

Kau pahami rasaku, ketika aku tak mampu memahaminya

Bukan dimana saat tak terungkapkan, dan membuatku menipu diri sendiri…

 

 

                                                                                    Rufus               

Ada Komentar ?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s