Belajar Dari Alam, Belajar Dari Kegagalan



“Manusia dan tanaman itu sama-sama makhluk hidup, keduanya tidak boleh egois, keduanya juga tidak boleh perfectionis” Ada benarnya juga sih, setiap manusia tidak pernah hidup dalam keadaan yang benar-benar nyaman, begitu juga dengan tumbuhan…semua makhluk hidup punya batas toleransi. So, aku mulai menanam dengan feelingku, gak perfectionis lagi..
.”

            Kira-kira seperti itulah statemen pertamaku sewaktu aku mulai menanam benih. Gambar disamping ini merupakan metamorfosa dari salah satu benih yang aku tanam 3 bulan yang lalu. Kemana yang lain? (T_T)
Sepertinya aku harus jujur, laporan pertanggungjawaban (baca: Essay) milikku ini mungkin adalah satu-satunya yang terjelek. Tapi tak apalah, harus belajar berjiwa besar dan mengakui kesalahan.

Ini adalah tanaman bayam merah, satu-satunya tanaman yang bertahan dan berkembang dengan baik. Mulanya tidak sendirian, ada benih sunflow, okra dan borage. Minggu pertama mereka baik-baik saja, meskipun pada mulanya sempat kelabakan mencari tempat strategis yang teduh tapi cukup mendapat sinar matahari dan juga aman dari gangguan ayam-ayam piaraan ayahku. Aku putuskan menaruhnya dicelah-celah pohon belimbing. Hari-hari selanjutnya berkembang seperti ada umumnya, hijau dan segar dengan akar-akar putih yang setengah menyemburat kepermukaan. Saban pagi dan sore ku sirami, tumbuhnya makin subur, apalagi bibit sunflower yang tampak tinggi sendiri ketimbang bibit-bibit lainnya. Bayam merah juga begitu, mirip seperti rumpun kecambah berwarna merah..banyak..Senang melihatnya.🙂

Bahagiaku tidak bertahan lama, setelah besok paginya ketika hendak menyiram, kutemukan bibit-bibit itu rusak! Rumpun kecambah bayam merah jadi botak gak karuan, bibit sunflowernya gundul, lebih mengenaskannya lagi disampingnya tergeletak tunas daun hijau yang mulai layu. Refleks, ada sedih dan marah yang rasanya gak enak banget mengganjal di sini (baca: hati). Bukannya langsung ngurusin bibit-bibit tanaman yang rusak itu, aku malah lari ke halaman samping mencari-cari kambing budeh ipah yang sering nyelonong masuk halaman atau ayam kate ayahku dengan emosi, tapi pintu gerbang tertutup rapat, yakin seyakin-yakinnya pasti ayam-ayam itu yang patok. Ayam kate tuh kakinya pendek, udah kakinya pendek, sukanya kelayapan, padahal sudah dikasih istri dua ekor. Terus lagi nongkrongnya suka diatas jemuran, mamaku sering marah-marah, gara-gara cuciannya sering kotor keinjak-injak ayam kate.  Meskipun kakinya pendek, mereka jago terbang, gak heran meskipun bibit-bibitku udah ditaruh di tempat yang tinggi seperti celah-celah pohon belimbing itu, tetap aja dipatok. Sejak saat itu aku dan mamaku berkoalisi memikirkan bagaimana caranya menyingkirkan ayam-ayam itu dari muka bumi ini dengan atau tanpa restu ayahku (ketawa setan). Poin pertama, Jauhkan bibit dari habitat ayam.

  Bibit-bibit itu ku beri perawatan lebih pasca tragedy dipatok ayam. Lokasinya ku pindahkan ke balkon lantai dua. Memang aman dari ayam-ayam, tapi sinar matahari terlalu banyak disana, panas matahari yang terlalu menyengat kan juga tidak baik, apalagi tahu sendiri panasnya Sumbawa Naudzubillah. Baru tadi pagi disiram, menjelang siang tanah didalam polybag sudah kering dan pecah-pecah. Kasihan tanaman borage, daun mungilnya langsung kuning-kuning. Akhirnya, aku lebih intensif menyiram. Tapi alternative perawatan itu tidak begitu efektif karena  air yang kusiram itu ternyata merembes keluar dan terbuang bersama unsur-unsur hara yang ada didalam tanah. Akibatnya, semenjak penyiraman ku lakukan lebih intensif pertumbuhan bibit-bibit itu jadi melambat. Berita duka, salah satu bibit sunflower akhirnya mati dengan busuk perlahan-lahan dari pangkal yang dipatok ayam. Hari itu dimusim panas yang terik, ada hujan air mata #PrayForSunflow.  Poin kedua, yang berlebihan itu tidak baik.

Tidak terasa, sudah satu bulan lebih aku diSumbawa, saatnya kembali menuntut ilmu ke Malang, Mengisi liburan bersama-sama dengan bibit-bibit yang kini mulai pulih itu membuatku berat untuk berpisah. Aku berencana untuk membawanya ke Malang, tapi sayangnya kekurangan tempat dan perkiraanku pasti tanaman-tanaman muda ini tidak bisa terawat dengan baik, disamping karena jadwal kegiatanku yang akan lebih sering dikampus, juga karena ibu kosan yang pelit dengan halamannya (baca: kos-kosanku tidak ada halamannya). Akhirnya aku memutuskan untuk melakukan serah terima hak asuh atas bibit-bibit itu ke mamaku. Aku percaya, karena mamaku lebih trampil dalam hal bercocok tanam. Padahal masih tersisa waktu 8 minggu lagi hingga tepat sampai 1 November.  Tidak bertanggung jawab juga, tetapi apa boleh buat L. Point ketiga, menanam itu butuh kesabaran dan komitmen tinggi.

Aku kembali ke kesibukanku seperti biasa, tiap kali menelfon-mamaku tak lupa mengabari tentang perkembangan bibit-bibitku. Beberapa bibit tumbuh subur dan lainnya lagi tersisihkan, semacam seleksi alam yang terus berlaku dalam aturan kehidupan. Mamaku hanya dapat mengenali tanaman sunflower dan bayam merah, sedang yang lainnya tampak asing dan sulit diterka olehnya. Mamaku bilang,ada satu tanaman yang sejak aku tinggali, ukuran dan kondisinya tidak berubah sama sekali, tidak seperti sunflow dan bayam merah. Tanaman apa itu, ma??…

Hari-hari berikutnya, mamaku bilang tanamanku tumbuh dengan baik semenjak tanaman-tanaman itu ditaruh dibawah, ayam-ayam kate milik ayah sudah dibuatkan kandang.  Sunflow mulai berbunga ditandai dengan tonjolan kecil kuncup bunga yang masih belum mekar, tumbuh dibanyak titik percabangan. Mamaku berjanji akan mengirimkan fotonya ketika bunga-bunga sunflow mekar. Aku jadi tidak sabar, apakah juga sebagus milik Dilla?😦

Hari senin 22 Oktober 2012, Aku baru pulang dari kampus. Mamaku sms, minta maaf karena sesuatu terjadi pada bunga sunflow-ku yang hampir mekar dan pada bayam merahku. Paginya, kambing-kambing bude ipah yang baru melahirkan, dibebaskan dilapangan depan rumah. Dulu waktu tetangga masih sepi, masih banyak lahan yang hijau dan luas. Tapi sekarang sudah jadi perumahan yang padat, meskipun masih ada semak-semak dan tanah kosong, sebagian besar sudah dipagari. Mulailah kambing-kambing itu nyelonong masuk ke rumah. Tidak sedikit yang dirusaknya, bunga euphorbia kesayangan mamaku, tanaman kuping gajah, sampai dengan bunga sunflowku ikut dimakan kambing .Mamaku kesal dan menegur bude ipah , kesabarannya habis juga setelah tanaman euphorbianya sering rusak dimakan kambing bude Ipah. Bude Ipah hanya bisa menyesal dan minta maaf ketika mamaku bilang kalau tanaman-tanaman ini untuk penelitianku.

Idul Adha kemarin, tiba-tiba aku kembali ditelfon mamaku. Mamaku bercerita, baru saja menerima sekantung daging dari bude Ipah. Bude Ipah punya banyak kambing, tapi ini daging kambing yang kemarin merusak tanaman sehalamanku. Sebagai permintaan maaf katanya.  Point keempat, kambing tidak jahat. Dia hanya lapar.

Sudahlah, tidak apa-apa kali ini aku gagal. Hari sabtu-minggu ini, Organisasi Himpunan Jurusannku mengadakan acara tanam Mangrove. Akhirnya program kerja devisi lingkungan terealisasikan juga. Semoga berjalan lancar dan berakhir sukses. Amin Ya Rabb. The Last Point, Never Give Up! ^^

Baca juga ini:  https://zenithtaciaibanez.wordpress.com/2012/08/02/tantangan-di-musim-kemarau-berkebun-di-tanah-tandus-2/

One thought on “Belajar Dari Alam, Belajar Dari Kegagalan

Ada Komentar ?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s