Cerpen: Nilai Sempurna


seed

” Jika sudah jengah dengan hidup, coba sedikit bergerak dan ubah sudut pandangmu pada dunia. Ingat, kita pun tidak bisa menawar seberapa banyak hari yang kita punya”

-Zenith Tacia Ibanez

Kalau aku melihat kebelakang, Aku jadi ingin menangis ketika membayangkan apa yang akan terjadi di depanku. Mimpi yang indah-indah itu, jadi kelam semuanya. Oleh karena itu sebelum semuanya menjadi  lebih buruk, dan jiwa ku akan habis digerogoti kesunyian, lebih baik aku tutup mata dan marah sejenak.  Marah hanya aku sendiri yang mengerti.  Mungkin sekilas nampak aku tidak peduli, namun hanya ini yang bisa ku lakukan. Aku butuh orang lain, dan bercermin padanya. Aku bukan yang terpandai berperan utama, aku selalu menjadi sampingan. Yang menjadi latar, berseliweran tak tentu. Kalau ada yang sedih aku penghibur, kalau ada yang marah aku diam saja melihatnya, kalau ada yang bahagia ya aku ikut tertawa. Kalau tak ada mereka, yang di sana itu, yang tiap hari wajahnya ku lihat, yang bertingkah dan membuat  aku tersenyum meski mereka tak tahu, yang memberi  arah untuk melihat,  yang selalu menjadi pusat perhatianku, yang  manakala mereka berbicara dan aku lebih memilih diam untuk terus mendengarnya, mungkin sudah lama aku mati tanpa mereka. Aku tidak bisa menghitung lagi sampai detik ini sudah berapa kali aku mati. Aku merasa mati saat orang-orang tak lagi membutuhkan ku, aku mati saat aku berjalan sendiri dan mataku kehilangan arah, aku merasa ingin mati saja daripada aku harus hidup tanpa diharapakan, tanpa cita-cita dan doa kedua orang tuaku. Maka bersyukur dan beruntunglah mereka yang masih diingat, didoakan dan diharapkan, karena selama itu mereka akan tetap hidup dalam pikiran dan hati orang-orang.

         Aku merasa mati kerap malam datang, kenapa? Karena malam hari aku harus kembali pada diriku sendiri, aku tidak suka sendirian, maka lebih baik aku merenung dan mati sejenak. Seorang  datang dan memberi nyawa baru, aku senang,  aku hidup lagi. Tapi aku sedih, sedih karena nanti aku pasti akan mati lagi. Kalau pun ia yang mati duluan, maka aku harus membelakanginya  berjalan ke depan,mencari kehidupan baru dan membawa semua kenangan yang bisa aku bawa,  dan kalau aku melihat ke belakang , aku jadi ingin menangis lagi …

               Ini hari ke dua ujian tengah semester dan gundukan tanah di atas tubuh Deka masih membukit diselimuti bunga-bunga segar. Seharusnya saat ini Ia duduk manis disampingku, memberiku contekan meski malam sebelumnya kami berdua sudah belajar bersama dan dia didepanku mempresentasikan isi setumpuk catatan matakuliah system fungsi respon. Aku setengah sadar merutuki Deka yang mati sebelum aku bisa menyelesaikan ujian tengah semester ini. Aku masih yakin betul, besok Deka akan hidup lagi dan aku bisa mengunjungi garasi kecilnya dan menemui Ia tengah sibuk merangkai program Basic Compiler untuk menggerakan motor-motor servo yang menyelinap ditiap-tiap sendi E-Acro, robot kesayangannya yang tak kunjung jadi.

 Deka, salah satu dari mereka yang menggenapkan hidupku. Tidak begitu spesial, hanya baik, enak dipandang, keturunan kaya, otaknya cerdas dan cemerlang mirip anak Einsten. Banyak anak yang iri padanya karena kalah saing baik secara genotip dan fenotip. Tapi begitulah, hanya iri yang disimpan dalam hati paling dalam. Pernah suatu hari ketika nilai kuis matakuliah Teknik pengukuran dan pengendalian bioproses diumumkan, kelas penuh cericau dan umpatan-umpatan. Hanya satu jenis suara yang bungkam, suara Deka. Selain karena hanya Deka yang sukses lulus kuis dengan nilai tinggi, kebetulan Ia juga tidak hadir karena pergi ke Denmark mengikuti lomba karya ilmiah. Ada dua jenis cericau yang diumbar saat itu, satu adalah bentuk protes untuk dosen karena pelit memberi nilai, dan yang kedua adalah bentuk protes untuk Deka. Ya, mereka protes mengapa mereka tidak sepandai Deka? Mengapa hanya Deka yang dianugerahi kepandaian luar biasa? Apa karena Deka anak yang rajin? Aku juga rajin, tapi mengapa susah mendapat nilai setinggi nilai Deka. Deka dalam istilah kimia bermakna angka sepuluh, nilai sempurna.

Secara utuh kami mengakui keunggulannya, kami bangga dan bersyukur karena Deka bersedia menjadi asisten dosen bayangan yang khusus melayani kebodohan kami. Deka sanggup mengulang-ulang materi kuliah yang sama untuk diajarkan kepada teman-temannya bergiliran meminta penjelasan saban hari, semua dilakukannya cuma-cuma. Untuk apa? Toh uang pun Ia punya. Hal seperti itu menjadi bagian dari sirkulasi kehidupanku karena akulah salah satu kliennya yang paling merepotkan. Ditengah-tengah rutinitas hubungan antara kami semua, mungkin aku yang beruntung karena tanpa sengaja aku menemukan satu ruang di dalam dirinya. Aku tidak masuk, hanya mengintip dari luar.

Kali pertama aku berbincang cukup dalam hingga mampu mengais-ngais otak Deka, bukan tentang ingatan pelajaran. Ini tentang esensi hidup, Deka tertangkap basah membuat pengakuan. Ia mengatakan kalau Ia benar-benar letih, Ia letih seharian dimintai teman-teman membahas pelajaran yang sama, Ia letih terus-menerus dibutuhkan orang lain. Deka ingin libur,bersantai dan tenang. Libur dari permintaan-permintaan, libur dari tawaran mengajar, libur dari limpahan tanggung jawab, libur dari berpikir. Ya, Deka seorang pemikir berat. “Jangan pernah meremehkan hal-hal kecil, karena bisa jadi hal kecil itulah yang terpenting” katanya. Dari situ aku mulai paham dimana letak kelemahan Deka, ialah karena Deka seorang manusia.

Gazebo di depan fakultasku sudah mulai lengang, dan lampu mulai dinyalakan. Sudah sejak pukul 7 pagi Deka disini meskipun ini hari minggu, memenuhi permintaan teman-teman untuk mengajar karena besok senin kami ujian. Deka tampak lesu, matanya memerah. Ia tidak beranjak kemanapun kecuali untuk sholat atau beli minum. Aku mengakui betapa jahatnya kami, yang terlalu mendewakan kepandaian Deka, kami lupa, Deka juga manusia yang butuh makan, minum dan beristirahat.

“Harusnya kamu bersyukur, Ka. Kamu pintar. Banyak juga teman-teman yang heran, kok bisa kamu sepintar ini? Aku juga kadang mikir, seandainya jadi kamu pasti rasanya enak banget. Nggak perlu susah mikirin duit kuliah, mikirin remidi, mikirin IP jeblok dan laporan pertanggungjawaban ke orang tua. Gak perlu mikirin duit beasiswa yang nggak turun-turun. Mau punya I-phone, PS, apa aja pasti  tinggal minta. Tapi kamu aja yang aneh, duit dibuang-buang buat beli onderdil robot. Robotic itu teamnya kampus, ya harusnya didanai kampuslah” Suaraku memecah keheningan dan malah membuat air mukanya layu, aku sadar bicara ngalor-ngidul entah kemana.

“Ya enggak gitu juga, Gie. Aku senang bisa ngebantuin teman-teman. Aku cuma kesal dengan diriku sendiri, terlalu pemikir berat. Kamu bisa bayangkan nggak? Gimana capeknya mikir, ada sesuatu yang salah dikit udah jadi kepikiran. Aku ingin seperti teman-teman yang lain, hidupnya santai. Hari sabtu dan minggu bisa libur.  Aku juga ingin libur, tapi aku nggak bisa, pasti jadi kepikiran. Apalagi kalau ada tugas, kalau aku sampai salah, teman-teman lain juga pasti salah. Mereka terlalu percaya padaku, itu jadi semacam beban”

Aku diam.Tiba-tiba Deka merogoh isi tasku, meraba dan meraih apa saja yang bisa Ia gapai. Akhirnya Ia memilih satu benda, buku sketsa ukuran 5A. Aku pasrah, dibukanya lembar demi lembar dan Ia pun tersenyum tipis.

“Ini buku Sketsa kok isinya mirip gado-gado?. Ada gambar, catatan kebutuhan belanja, catatan kuliah, list tugas kuliah dan organisasi, Chord lagu, terus apa lagi ini, target IP cumlaude? Hahaha…” Cukup sampai disitu ku rampas segera barang milikku sebelum semua rencana hidupku terbongkar.

“Nagieta, IPKmu berapa memangnya?” Sunyi pecah lagi, aku terbelalak. “Nnnggghhhh… sejauh ini 3,25. Lumayanlah, tapi semester ini aku pesimis. Mata kuliah susah, jadwal praktikum dan asistensi berantakan, ditambah lagi dosen-dosennya nggak jelas. Makanya Ka, semester ini aku berharap banget sama kamu” Aku mengeluh.

“Huuuffttthhh…” Deka menggaruk kepalanya yang nggak gatal. Kita tertawa.

Pukul 20.49, kami memutuskan untuk bubar jalan. Seperti kebanyakan kos putri lainnya yang punya jam malam, aku selalu menjadi Cinderella menjelang pukul 21.00 tepat. Kalau tidak, aku harus tidur diluar.  Sedangkan Deka masih harus ke kosan Rama Cs , markas belajar para anak laki-laki. Mereka anak laki-laki, selalu merasa terdiskriminasi jika belajar bersama anak-anak perempuan yang cerewet dan tidak sabaran.

               Ditengah jalan, Deka menahan kantuknya. Perutnya sangat lapar tapi Ia lebih ingin tidur. Deka melawan kantuknya karena Ia tahu tidak mungkin tidur sembari menyetir motor. Tapi ini adalah puncak dari kelelahan Deka, Ia pasrah diserang kantuk. Lengah, dan hilang kedali ketika truk semen dari arah berlawanan melesat dengan keras. Kedua kendaraan itu bertumbukan, terjadi lenting sebagian, tentu saja motor Deka yang terpelanting. Deka mati di tempat.

               Ada ataupun tidak adanya Deka, Ujian tengah semester tetap berlangsung. Kami berusaha, jalan terus, bertahan di rimba ilmu semampu kami. Mungkin nilai sempurna akan selalu menjadi misteri dan selalu sukar ditaklukan. Sirkulasi hidupku dengan mereka juga tetap berjalan hanya saja terasa ganjil karena tidak ada lagi yang menggenapi. kalau aku melihat ke belakang , aku jadi ingin menangis lagi …

Banyak orang bodoh berandai-andai rasanya diagung-agungkan menjadi orang pintar dan banyak orang pintar frustasi memikirkan bagaimana caranya supaya mereka dapat hidup santai seperti orang-orang bodoh. Itulah hukum alam teman. Tidak ada yang benar-benar bersyukur, kecuali mereka yang mengamati dan mau memahami apa saja yang ada di otak orang-orang pintar dan orang-orang bodoh.

Kita semua tahu dunia itu besar, mikroba itu kecil, kita tidak bisa menawar panas matahari, tidak bisa melelang udara, dan segala hal yang kita nikmati. Kita juga tidak bisa sepenuhnya menentukan sebanyak apa rezeki yang harus kita punya. Semua tergantung pada sudut pandang. Bagaimanapun, orang pintar dan bodoh, kaya dan miskin, bahagia atau menderita, itu hanyalah sebagian sisi yang tampak dan membentuk sudut pandang kita. Jika sudah jengah dengan hidup, coba sedikit bergerak dan ubah sudut pandangmu pada dunia. Ingat, kita pun tidak bisa menawar seberapa banyak hari yang kita punya.

5 thoughts on “Cerpen: Nilai Sempurna

Ada Komentar ?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s