Organ Terpenting Bagi Tubuh Kita, Apa Ya ?


lidah einstein

     Ini minggu pertama ibu mengandung dan sekumpulan sel blastula kecil pun mulai tumbuh dan berkembang. Dari hari ke hari semakin banyak hingga ratusan jumlahnya. Hampir seluruh dari mereka mempunyai keinginan yang mulia, yakni mereka ingin bertransformasi menjadi organ terbaik dan terpenting bagi manusia. Diantara mereka yang mempunyai keinginan mulia itu ada satu satu sel blastula paling kecil yang sangat pendiam. Ketika teman-temannya asyik merencanakan akan jadi apa mereka kelak, sel blastula kecil yang satu ini masih bingung menentukan masa depannya. Bahkan ia pun tidak tahu harus tumbuh dan berkembang menjadi apa. Meskipun demikian, sel blastula kecil ini yakin bahwa bukan tanpa tujuan Ia ada disini, maka ia memilih untuk menikmati pertumbuhannya dan bermain dengan riang.  Karena sifatnya yang seperti itu, beberapa teman blastula menjauhinya.

Suatu hari di rahim ibu, ketika mereka berkumpul bersama. Satu sel blastula bercerita kepada teman-temannya bahwa ia sangat ingin menjadi otak karena menurutnya, otak adalah organ terpenting bagi manusia. Otaklah yang nantinya akan mangatur aktivitas tubuh, otak pula sebagai memori biologis dan pusat kesadaran manusia. Mendengar penjelasan itu blastula lain terkagum-kagum, tak terkecuali si blastula kecil. “Bolehkah aku menjadi otak juga?” Tanyanya antusias. Tapi sayang, si teman menolak dan berkata pada si blastula kecil “Kurasa itu akan sulit bagimu, otak haruslah dibentuk dari sel blastula pilihan. Sel blastula yang pintar dan memiliki pertumbuhan yang cepat. Setelah ini aku ingin tumbuh menjadi gastrula, kemudian menjadi lapisan ectoderm, dan aku akan membentuk jaringan saraf lalu kemudian menjadi otak. Tapi kau, saat ini kau ingin tumbuh menjadi apa? Kau pun tidak tahu, kan?”mendengar hal tersebut si blastula kecil pun urung.

Satu lagi sel blastula yang kini bercerita kepada teman-temannya, bahwa kelak Ia ingin menjadi jantung. Menurutnya, jantung adalah organ terbaik dan terpenting bagi manusia. Tidak ada organ lain yang dapat bekerja tanpa jantung, termasuk otak. Ya, otak butuh pasokan oksigen yang dibawa oleh darah. Dan jantunglah yang memompa darah menuju otak serta organ lainnya yang ada diseluruh tubuh. Mendengar penjelasan itu, blastula lain terkagum-kagum. Tak terkecuali si blastula kecil. “Bolehkah aku menjadi jantung juga?” Tanyanya antusias. Tapi sayang, si teman menolak lagi dan berkata bahwa hanya sel blastula terkuatlah yang bisa membentuk jantung karena mereka harus bekerja keras seumur hidup untuk memompa darah keseluruh tubuh. “Setelah ini aku akan tumbuh menjadi lapisan mesoderm, dan membentuk otot-otot hingga akhirnya menjadi segumpal jantung. Tapi kau, saat ini kau ingin tumbuh menjadi apa? Kau pun tidak tahu, kan?” untuk kali kedua, si blastula kecil kembali urung.

 Cerita masih terus begilir dan kini saatnya satu sel blastula lain yang letaknya berada paling dalam. Ia terpaksa harus sedikit berteriak agar semua teman-temannya dapat mendengar ketika ia  bercerita. kepada teman-temannya ia berkata bahwa ia sangat ingin menjadi usus. Menurutnya, usus adalah organ terbaik dan terpenting bagi manusia. “Tanpa usus, manusia tidak dapat makan dan minum. Sel-sel akan kekurangan nutrisi dan kalian semua akan mati. Ususlah organ yang paling hebat karena ia mampu mencerna semua makanan yang masuk. Melawan bakteri jahat dan dapat menjikan bakteri baik” Semua sel blastula berdecak kagum. Termasuk sel blastula otak, sel blastula jantung dan si blastula kecil. “Bolehkah aku menjadi usus juga?” dari tepi luar ia bertanya antusias dengan suara yang sedikit keras. Dan lagi, temannya menolak dan berkata “Maaf, tapi kurasa akan sulit bagimu. Letakmu terlalu jauh dariku, kita tidak mungkin menyatu kecuali jika kau mampu bermigrasi sajauh ini” mendengar jawaban itu si blastula kecil pun sedih. Sel-sel lain juga tak mau kalah, ada yang ingin menjadi mata, kulit, tulang, rambut, tangan, kaki dan lain sebagainya.  Setiap kali si blastula kecil memohon untuk bergabung, selalu ia ditolak.

Hari berganti minggu, dan minggu berganti bulan. Sel-sel blastula yang tadinya kecil kini telah berjumlah ribuan juta sel. Beberapa bahkan telah terdiferensiasi menjadi organ tubuh yang hampir sempurna seperti otak, jantung, dan tulang. Sedangkan si blastula kecil kini tumbuh menjadi segumpal daging dengan banyak benjolan-benjolan kecil yang Ia sendiri tak tahu apa namanya. Disekelilingnya tumbuh sel tulang-tulang kecil yang dibalut daging. “Hey, apa sebutanmu?” sapanya kepada si sel tulang. “Oh hai, aku adalah rahang. Aku punya banyak benih gigi yang warnanya putih berkilauan” tuturnya bangga. “Sedang kau, apa sebutanmu?” Si gusi balik bertanya. Dengan lesu segumpal daging penuh benjolan-benjolan kecil ini pun menggeleng-gelengkan kepalanya. “Bolehkah aku menjadi rahang?” tanyanya lirih kepada si rahang, dan rahang pun menjawab dengan penuh penyesalan “Maaf kawan, hanya sel tulang kuat yang bisa menjadi rahang, lagi pula kita semua telah terdiferensiasi kan?”. Mendengar hal tersebut, segumpal daging penuh benjolan-benjolan kecil tampak putus asa dan begitu sedih. Dalam hatinya, Ia sering berdoa kepada Tuhan agar dirinya dapat tumbuh membentuk suatu organ yang penting untuk manusia. Ia tidak ingin mati seperti teman-teman blastulanya dulu ketika sela jari-jari tangan dan kaki bayi mulai terbentuk. “Sudahlah jangan sedih, bukan tanpa alasan hingga saat ini kau dapat tumbuh dan berkembang. Mungkin pertumbuhanmu butuh waktu lama untuk menjadi organ”hibur si rahang. Semenjak itu Si rahang berkawan dengan segumpal daging penuh benjolan-benjolan kecil sedang sel-sel organ yang lainnnya makin terintegrasi.

Si rahang dengan balutan daging yang melindunginya terus tumbuh dan berkembang menjadi kesatuan system mulut, menguntai sel-selnya membentuk sepasang bibir, dan masuk kedalam bergandengan dengan sel-sel lain membentuk jaringan kerongkongan. Begitu pula sel-sel di kerongkongan saling bergandengan membentuk jaringan pencernaan bersama lambung dan usus. Senergis itu terjadi pada semua organ, membentuk suatu konektivitas sitem organ yang utuh. Hingga pada akhirnya system organ sempurna membentuk tubuh mungil dalam rahim ibu, si rahang tetap setia menjadi sahabat segumpal daging penuh benjolan kecil itu, bahkan hingga si bayi lahir ke dunia.

Tepat dihari pertama si bayi menghirup udara bebas, suara tangis bayi pun pecah. Segumpal daging merah jambu penuh benjolan kecil itu menjulur keluar. Disaat itu pula ia menyadari ternyata Ia adalah lidah dan benjolan-benjolan kecil dipermukaannya adalah ratusan saraf sensorik yang kita kenal dengan papila, yang tanpanya manusia tidak dapat merasakan bagaimana manis dan segarnya ASI ibu untuk pertama kali, yang tanpanya manusia tidak dapat menelan makanan agar dapat masuk ke tenggorokan, yang tanpanya manusia tidak dapat berbicara dengan berbagai macam bahasa, dan tanpanya pula manusia tidak dapat merasakan manis, asin, asam, pahitnya makanan. Begitu pun mulut membutuhkan lidah untuk membersihkan makanan yang ada disela-sela gigi dan mengarahkan makanan agar dapat dikunyah dan dapat ditelan melalui kerongkongan, kemudian makanan itu melewati lambung dan usus, dan kemudian usus baru akan bisa menguraikan sari-sari makanan agar dapat diikat oleh darah dan diedarkan keseluruh organ tubuh untuk menghidupi sel-sel tubuh sehingga mereka semua dapat tetap hidup. Dengan demikian, maka lidahlah organ tubuh terbaik dan terpenting bagi manusia. Yah, semua orang termasuk ilmuan Albert Einstein dan grup musik ternama Rolling Stone tahu akan hal itu.

rolling-stones-logo-1290914870

8 thoughts on “Organ Terpenting Bagi Tubuh Kita, Apa Ya ?

Ada Komentar ?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s