Miris : Niat Ingin Setara, Perempuan di Ubah Jadi Racun Dunia


Crown 

“SENJATA” MISS WORLD YANG DITAKUTI. Ketika membaca salah satu artikel dengan judul tersebut pada sebuah situs yang secara kasat mata membela kaum perempuan (dan membuat saya merasa senang sesaat). saya malah jadi malu karena sempat berangan-angan ingin menjadi “Ratu Sejagad”. Perempuan mana yang tidak mau cantik, pintar, bertalenta? Tapi akibat tulisan tersebut, tekad saya malah tegas berbalik seratus delapan puluh derajat!

Bukan karena menjadi cantik dan pintar itu buruk, hanya saja ternyata ajang ini memiliki sisi yang tidak semua orang di dunia ini dapat menerimanya. Namanya juga miss world, maka sudah pasti seharusnya ajang ini mampu ‘melahirkan’ perempuan terbaik sedunia. Tahu sendiri, persepsi setiap orang didunia ini berbeda-beda.

Sudah menjadi keharusan si ‘pembuat’ miss world untuk menyamakan presepsi  dan meyakinkan semua orang di dunia-bahwa semua perempuan jebolan seleksi miss world adalah yang terbaik. Terbaik dalam konteks ini sifatnya kan relative,tidak hanya pandangan para juri pada ajang ini saja. Kembali lagi dan perlu digaris bawahi persepsi setiap orang didunia ini berbeda-beda.

Pada nyatanya, ajang ini tidak mampu menyatukan presepsi semua orang dalam skala dunia. Terbukti pada tulisan yang bertajuk “SENJATA” MISS WORLD YANG DITAKUTI ini, si penulis menyatakan ada dua kubu (pro dan kontra) terkait ajang miss world. Saking bertentangannya sampai-sampai si penulis menuding langsung pihak yang kontra tersebut secara terang-terangan, sebut saja Forum Umat Islam (FUI) dan Hisbut Tahrir yang benar-benar serius perkara aurat perempuan.Segala hujatan dan mekanisme pembelaan terhadap ajang miss world benar-benar diulas si penulis secara gamblang karena kebetulan si penulis adalah golongan pro (yang disebut-sebut sebagai kelompok feminis). Tulisan yang memprovokasi seperti itu justeru menjadikan ‘jurang pemisah’ presepsi tiap belahan dunia menjadi semakin besar, artinya sudah pasti tidak akan ada satu presepsi ‘wanita terbaik di ajang miss world’. Jelas ini adalah indikasi bahwa ajang miss world tak tepat guna. Dengan begitu perempuan terbaik menurut ajang miss world tidaklah pantas disebut miss world, mungkin lebih tepatnya bisa disebut sebagai ‘miss kelompok feminis’ saja ?

        “Pada akhirnya apa yang diributkan FUI dan Hisbut Tahrir tidak lah terlalu penting-penting amat.  Percayalah Miss World tidak berbahaya dan “senjata” pantat, paha serta payudara tidak akan mematikan umat manusia.  Payudara justeru menghidupkan manusia, air susu ibu tidak jatuh dari langit, dia datang dari sumber yang hanya dimiliki perempuan.  Mengapa tidak merayakan tubuh perempuan?  Tubuh perempuan sungguh sempurna” Ungkapan penutup tulisan tersebutlah yang justeru membuat saya gerah dan makin menunjukan pada dunia bahwa ajang miss world itu membuat wanita terkesan “murah”! Inikah yang disebut membela kaum perempuan?  Ternyata harga diri menjadi seorang perempuan terkadang malah dilukai oleh sesama perempuan itu sendiri.

      “Tubuh perempuan bukan menjijikkan yang harus ditutupi tapi justru membanggakan. Tidak memalukan tapi bernilai dan dihormati” lagi-lagi ungkapan yang ditulis oleh admin situs ini menjadi kalimat penutup dari diskusi panjang yang terangkai  dari kian banyak komentar dan tanggapan yang masuk perihal tulisan tersebut. Dan disinilah saya akan lebih gerah lagi jika tidak segera ‘menyadarkan’ si penulis.

       Terlepas dari si penulis tersebut pro dengan ajang miss world atau apakah dia seorang atheis yang tidak punya keyakinan dan menganggap dirinya hidup dan lahir ke muka bumi ini begitu saja. Saya menanggapi tulisannya yang cukup “frontal” terkait wujud perempuan. Kurang lebih seperti inilah statemen saya (sebagai perempuan yang meyakini tradisi dan agama) :

          Karena sangat bernilai dan dihormati itulah mengapa tubuh perempuan perlu dijaga, ditutup bukan berarti menjijikan dan tidak layak dilihat. Justru sebaliknya, bukankah suatu hal yang berharga itu selalu menarik perhatian. Apalagi jika tertutup akan tampak lebih ekslusive? Kenapa kita (perempuan) harus susah-susah membanggakan diri dan memberi apresiasi diri sendiri? Padahal tradisi dan agama yang (di-judge) picik ini sejatinya sudah sangat mengagungkan perempuan, lihat saja literatur pendukung dan  pedoman kehidupan agama yang dianut FUI (Al-quran), tidak ada satupun ayat yang merendahkan derajat perempuan kecuali perempuan-perempuan yang merendahkan derajatnya sendiri.

Norma yang berlaku di tradisi dan agama adalah untuk memuliakan perempuan. Jujur, saya sendiri masih belum berhijab, tapi membaca tulisan ini saya risih juga membaca tiap anggota tubuh saya (perempuan) diumbar. Siapa yang bangga mengumbar (maaf) pantat, paha dan dada? Berlian akan cepat hilangnya jika digeletakan begitu saja di tengah jalan, seonggok daging pun jika dibiarkan dilingkungan terbuka akan lebih cepat busuknya karena terkontaminasi mikroba. Dan begitu pula besi akan cepat berkaratnya jika tanpa dilapisi logam pereduksi. Sehebat-hebatnya perempuan, kita (perempuan) tidak bisa mengendalikan dunia! Kita (perempuan) ini merupakan suatu bagian dari satu kesatuan sinergis yang disebut kehidupan. Jika tidak bergerak sesuai kadarnya, sistem kehidupan akan hancur dan akan jadi apa masa depan kita kelak?

               Bolehlah bangga dan mengaku diri indah karena pada kenyataannya sebagian besar penduduk dunia-dari manapun latar belakangnya-mereka pun menganggap perempuan adalah ‘perhiasan dunia’. Namun tidaklah pantas jika hal ini membuat kita (perempuan) merasa sombong apa lagi sampai bersikap ekstrim terhadap norma tradisi dan agama yang timbul dari pemikiran umat manusia, baik lelaki ataupun perempuan. Presepsi yang timbul dengan alih-alih kesetaraan gender dan menjujung hak asasi perempuan kini banyak disalahartikan. Kehidupan semakin berkembang pesat, kawan! Kita bisa kok berlaku apa saja, bebas. Tapi setiap tindakan ada konsekuensinya dan kita tidak boleh menuntut.

              Bersahabat dengan tradisi dan agama, juga menjinakan mata lelaki- dengan cara memberi toleransi untuk mau membatasi diri-tidak akan membuat kita (perempuan) rendah derajatnya. Semua berhak menjadi apa yang mereka inginkan. Ingin menjadi teknisi? Jadilah. Ingin menjadi montir? Jadilah. Ingin menjadi kenek bemo? Jadilah. Ingin menjadi kuli bangunan? Jadilah. Ingin menjadi tukang gali sumur pun jika ingin maka jadilah. Silahkan berekspresi! Tapi norma, agama dan lelaki terlalu sayang dan begitu memuliakan perempuan hingga terlalu khawatir ketika melihat semua perempuan menjadi perkasa bergelut didunia semacam itu.

            Norma, agama dan lelaki pun tidak ingin melihat semua perempuan mendadak berubah menjadi seonggok daging segar yang berserakan, dan tersaji gratis di situs-situs internet dan social media. Coba renungkan, apakah perempuan dengan citranya yang anggun dan mulia pantas melakukan hal-hal semacam itu? saya studi dibidang mekanisasi. dan saya perempuan, tetapi saya juga tidak bisa menganggap remeh perihal apa itu tradisi, agama dan sudut pandang lelaki. Meskipun tampaknya terbatas, biarlah tradisi, agama dan lelaki memainkan perannya. Secara logika, saya pikir batasan-batasan itu ada perlunya-yaitu untuk media kontrol dan proteksi. Daripada ‘merayakan tubuh perempuan yang indah dan sempurna’ lebih baik gunakan kelebihan kita (perempuan) untuk kemaslahatan dunia. Sekian. Wassalam.

One thought on “Miris : Niat Ingin Setara, Perempuan di Ubah Jadi Racun Dunia

  1. Anda benar-benar tidak menangkap pesan dari artikel itu, bahkan menganggap bahwa ‘Miss World’ adalah agenda feminis. Bahkan di paragraf kelima dari tulisan Gadis Arivia tersebut menyebutkan bahwa kalangan feminis pun mengkritik ajang Miss World tersebut, dan melanjutkan di paragraf keenam tentang karakteristik protes feminis terhadap ajang Miss World (dengan membandingkan dengan kritik dari kelompok konservatif). Jelas penulis bukannya pro terhadap ajang Miss World.

    Tujuan dari tulisan tersebut saya pikir tidak lain dari mengkritik penentangan terhadap Miss World yang dilandasi alasan yang picik (“domestikasi, kepatuhan, konformitas, dan non-inklusif”). Coba Anda bandingkan ajang-ajang serupa yang mempertontonkan “onggokan daging segar” pria, seperti L-Men Contest, adakah kami kaum pria menentangnya dengan alasan hal tersebut adalah racun dunia yang membahayakan dan mematikan?

Ada Komentar ?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s