KETIKA AKU JADI PENGUSAHA…


            Hari  Sabtu kemarin, aku ikut seminar Agricultural Engineering Event. Acara tahunannya jurusanku. Kebetulan materinya diisi oleh alumni TEP yang saat ini telah sukses menjadi pebisnis muda. Namanya kak Hadi, ini kali ke-2 aku ikut seminar dengan kak Hadi sebagai pematerinya. Pertama, waktu zaman MaBa. But, Then.. Malu juga sudah dua kali ketemu, doi tambah sukses makmur jaya raya merdeka cetar membahana la la la… Sedangkan aku gini-gini aja, semester satu sampai semester 6. Heheh #GarukKepalaGakGatel. Bedanya kali ini Kak Hadi bawa temen seorang investor, dan diakhir penyampaian materi, teman Kak Hadi tiba-tiba nanya

“Disini siapa yang ingin jadi pengusaha? Yang berani, silahkan maju, ceritakan ingin jadi pengusaha apa dengan omset berapa?”

                 Enggak tahu ada angin apa eh aku tiba-tiba maju, melenggang kangkung dengan santai, dipikiranku saat itu aku maju ke depan bukan untuk menjawab pertanyaan, tapi untuk ngasih materi seminar sesi ke-2 hahahaha… Aku bahkan sempat merencanakan apa-apa yang nanti bakal aku ungkapin kalau suatu saat aku jadi Graphic Designer. Kurang lebih seperti ini , Ehem ehem..

                 First, aku bakal cerita kepribadian dan bakatku yang random ini dan tak kunjung fokus hingga expert pada satu hal. Sampai satu persatu dari semua teman-temanku jadi sukses dibidangnya masing-masing.

                   Second, aku bakal cerita galau-galaunya menekuni banyak hal, aku kuliah di TEP, tapi aku suka menggambar dan nulis, tapi aku bingung lantas jadi pengusaha apalah aku ini? pokoknya jadi pengusaha yang kerjanya bisa menggambar sesuka hati-setiap hari (Tapi bukan gambar pakai Auto-CAD). Oh ya dan lagi, kerjaan sampingku adalah sebagai traveler dunia. Titik.

                   Finally,Sekian-ditepukin tangan-Buyar.

TAPI…

Kenyataan tak selalu sama dengan rencana, otak enggak sinkron dengan mulut. Aku malah menjawab kalau aku ingin jadi penjual nugget (karena ku pikir itu lebih logis didengar oleh mahasiswa TEP). Kalimat demi kalimat meluncur mulus dari bibirku, kalimat yang isinya ingin jadi pengusaha kuliner hebat yang cetar menggelegar dan omset berjuta-juta. Tak disangka, semua jawabanku itu mendapat nilai sempurna (read: Seratus Ribu Rupiah) dari teman-nya Kak Hadi yang seorang investor itu. Nilai ini bermakna ganda bagiku, pertama ini hadiah karena aku berani maju dan menjawab. Kedua, ini adalah investasi untuk bekalku merealisasikan jawabanku yang cetar menggelagar tadi.

Memaknai opsi kedua membuat di dalam hatiku ingin menangis, kenapa? karena selama ini apa yang ku lakukan untuk bisa jadi pengusaha kuliner hebat? Nothing. Aku jadi merasa bersalah dapat nilai sempurna ini.

Dari lahir, TK, SD,SMP, SMA semua hal yang ku tekuni sangat random, dulu aku pikir bisa melakukan banyak hal itu so awesome! tapi semakin lama, semakin sadar kalau ternyata dalam hidup ini kita enggak boleh maruk, kita gak akan bisa melakukan terus-menerus ambisi serakah.

Hobi random membuat mindset seperti ini-bahwa dengan bisa melakukan apapun, maka semua peluang profesi bisa kita lakukan. Tapi kenyataanya, profesi bukan hanya sekedar bisa, tapi juga harus ahli dan diakui. Masalahnya adalah hobi random-ku ini gak pernah mendapat pengakuan yang berarti, musik, olahraga, menulis, menggambar, apalagi eksak. Semua itu aku lakukan tanpa ambisi, ya… aku hanya bisa melakukan semua itu karena aku senang! artinya, kalau aku sedang gak senang untuk melakukannya, maka semua itu terasa sulit. See ? Mindset ini akhirnya membuat gambaran masa depanku random.

Setiap lihat pertandingan basket, aku cuma bisa melepas kacamata dan terus jalan dan berlalu…Ah ini bukan ambisi, ini cuma hobi…Jalan atlet bukan-aku-banget-. (Udah di”skip”)

Acap kali melihat festival musik, aku jadi mengenang masa lalu-karena dulu-aku masih enjoy nyanyi meski suara ngepas. Tapi sekarang, dikosan pun aku gak punya gitar, main gitar kalau ada acara tertentu itu pun cuma jadi pengiring. tidak seperti dulu, waktu jaman jahiliyah sampai nge-bela-belain gaya EMO hahaha. Sensasi teriak-teriak dan main gitar sampai tepar distudio musik-sudah 3 tahun gak aku rasakan lagi.

Setiap melihat teman sukses dibidang eksak, aku jadi belajar mati-matian naikin IPK. Dibidang Eksak, target terdekat gak muluk-muluk. aku cuma ingin lulus IPK cumlaude, sampai akhirnya dapat beasiswa keluar negeri (eh itu muluk ya?)

Setiap jalan ke Gramedia atau baca buku, aku kembali begadang cuma buat nulis cerita barang selembar-dua-lembar, lantar ku posting di Blog, berharap ada penerbit minat buat membukukan tulisanku. Yang ini “hampir” jadi tapi Allah masih berecana lain…

Kadang beberapa hal dalam otak dan apa yang dirasakan dalam hati gak bisa dicurahin dengan kata-kata, karena itu aku suka menggambar. Menggambar warna-warni yang menyenangkan dipandang mata, yang kata orang kayak gambaran anak TK. Awalnya ku kira, menggambar itu salah satu cara untuk meluapkan perasaan. Sampai akhirnya beberapa teman memintaku untuk menggambar, tapi hasilnya justru gak maksimal. Mungkin mereka bilang itu bagus, tapi tidak dimataku, tidak dihatiku. Aku masih kaku melukiskan perasaan orang lain.

Tapi akhirnya aku sadar, kalian tahu gambar warna-warni itu bukan ungkapan isi hati, tapi itu hiburan untuk diriku sendiri. Ketika aku mengambar dan mewarnai, aku dihibur oleh gambaran-gambaranku sendiri. Ketika orang-orang ngelihat gambaranku, tak disangka mereka juga merasa terhibur. Dan sekarang, tiap kali aku menggambar, aku ingin bukan hanya aku yang terhibur melihat gambaranku, aku ingin semua orang juga merasakan-dengan melihat gambaranku-mereka akan merasa terhibur.

Akhirnya nilai sempurna (read: Seratus Ribu Rupiah) ini ku belikan conector pen (semacam alat warna yang sudah ku incar 2 bulan terakhir) dan satu buah buku skecth A5. Entah apakah niat kak Hadi dan temannya sukses menjadikan aku pengusaha-dengan mereka sebagai investornya-itu berhasil atau tidak suatu saat nanti, yang penting saat ini aku ingin menggambar,titik. Beneran kok, serius ini hasilnya. Terimakasih untuk investasinya🙂

10450868_859627134065215_7239387349263971368_n

8 thoughts on “KETIKA AKU JADI PENGUSAHA…

  1. Salam Ze..
    Maaf seandainya tidak berkenan..
    Memang, jadi pinter itu berat
    banyak kemampuan terkadang membelokkan diri
    dan ga fokus… liar, maunya kemana-mana, semua pengin dikerjakan…
    dan kadang orang dengan kemampuan pas-pasan “secara akademis” lebih sukses hidupnya
    secara materiil..

    Tapi ada sesuatu yang lain, yang tidak diukur dengan parameter keberhasilah hidup secara materiil…
    seperti kebanyakan orang..

    maaf ya, Ze, sekedar urun rembug
    Indonesia kan kaya akan potensi pertanian (darat dan laut)
    sedangkan engkau dari latar belakang pertanian,
    Teknologi pengolahan produk pertanian,
    bio proses engineering lagi..
    menurutku, sepertinya sih kita masih kurang orang-orang yang serius menangani teknologi pengolahan hasil pertanian, baik dari darat maupun laut.
    produk yang keluar dari Indonesia, mayoritas adalah barang mentah saja, atau diolah sedikit saja, dan hanya menambah sedikit added value…

    seperti singkong, kita hanya jual gaplek atau chip saja, padahal itu bisa utk produk turunan yang lebih bernilai, seperti maltodekstrin,… sebagai bahan kimia dasar industri. ini masih kita impor.
    seperti juga rumput laut tertentu, utk produk karagenan, untuk industri makanan, masih impor juga tuntuk memenuhi standar kualitas..
    belum juga keanekaragaman hayati kita utuk produk-produk farmasi, fitofarmaka,,
    bahkan aku sendri pernah menginginkan bisa bekerja seperti para ahli farmasi.. meneliti utk obat-obatan dari tumbuhan-tumbuhan kita…
    banyak yang dari teknologi pertanian, lebih-lebih bio proses… sangat-sangat valuable bagi masa depan Indonesia…

    aku sendiri banyak keinginan, banyak ide, banyak rencana, tetapi gak ada yang sampai level implementasi. hanya sampai sebatas ide…

    Nah, menurutku, sumbangsih terbesar buat negeri kita tercinta darimu adalah di bioproecess engineering untuk pengolahan produk-produk pertnian negeri kita… dan untuk engkau sendiri ini menjadi salah satu dalan meraih kesuksesan juga, secara materiil.. mengingat tingginya value yang bisa di create dari sektor ini.
    Kita punya tugas untuk memakmurkan negeri kita, mudah-mudahan sumbang sih kita buat negeri kita tercinta ini akan menjadi jalan pensucian kita, aku, engkau, dan siapa saja yang dengan ihlash berbakti buat negeri ini.
    Dengan kiprah kepada negeri inilah, mudah-mudahan kita dapat menemukan jalan kembali kepada Allah Taala.

    Mohon maaf Ze, sekiranya tidak berkenan..
    Maaf ya.. sekali lagi maaf ya..

    Salam
    –tasim

  2. Waalaikumsalam, Tasim.
    Yah memang benar tentang peluang tersebut, itu mengapa saya banting stir dari yang awalnya ingin ke kesehatan, belok ke teknik bioproses. ide yang macam begini semua orang punya banyak. Tapi tetap saja tidak bisa dijalankan sendiri, contoh kecil mengajukan dana ke dikti dengan PKM harus memiliki tim yang konsisten. Saya menyadari diri sendiri belum konsisten.

    Sepanjang menjalankan skripsi, saya merasa melakukan penelitian juga tidak bisa sembarangan, alat dan bahan2 baku sampingan juga justru lebih mahal. Contoh meltodekstrin tadi, memang sih proses intinya cuma hidrolisis, tapi kontrol enzim, treatment lanjutan harus di keringkan dengan spray drier, belum lagi uji kelayakan, dll itu lebih “rumit duitnya”… Jadi tidak heran kenapa harga produk olahan lebih mahal.🙂

    • Kalau boleh tahu, tugas akhir/ skripsimu tentang apa, Ze..? sudah selesaikah?

      Bukankah kalau ada penelitian untk tugas akhir/ skripsi mendapat bantuan kemudahan penelitian atau dana alokasi penelitian mahasiswa TA dari jurusan?
      Kalau ga salah, temen2 ku dulu, kalau yanhg lagi TA di lab, biasanya dapat kemudahan bahan2 penelitian dari lab, Apalagi kalau sedang ada penelitian atau kerjaan dari dosen pembimbing, jika memungkinkan ada yang ikutan. memang harus jelas perencanaan kebutuhan bahan2 dan perlengkapan lab yang dibutuhkan..

      Atau mungkin memang udah beda ya?
      kalau jadinya ditanggung sendiri, ya… besar kayanya.

  3. Didanai itu kalau kita join proyek dosen.. kemudahan penelitian memang ada sebatas fasilitas, misal saya mahasiswa bioproses, dapat harga lebih murah kalau ngelab di lab jurusan sendiri, ketimbang orang luar yang mau ngelab dikampus saya.

    Penelitian tidak muluk-muluk, cari yang paling murah tp mudah diterapkan masyarakat, tentang menghambat kerusakan pada minyak kelapa, hitung-hitung bisa membantu orang tradisional yang kebanyakan masih pake minyak kelapa buat menggoreng. Insyallah setelah sidang akan saya share di blog.

  4. iya… ditunggu…
    mudah2an penelitiannya banyak memberikan manfaat, aplicable, lebih2 utk daerahmu di NTB, banyak kelapa dan produsen kopra y?
    jangan spt penelitianku dulu, blum ada yg bisa mengambil manfaatnya… hehehe…

    maaf Ze, btw
    menurutmu, killing variable yg membuat minyak kelapa cepat rusak atau kualitasnya rendah apa?

    bagaimana halnya dg pengaruh rendahnya kualitas kopra karena pengeringan yg buruk thd kualtas minyaknya?

    trima kasih..
    salam..

  5. iya… ditunggu…
    mudah2an penelitiannya banyak memberikan manfaat, aplicable, lebih2 utk daerahmu di NTB, banyak kelapa dan produsen kopra y?
    jangan spt penelitianku dulu, blum ada yg mengambil manfaatnya… hehehe…

    maaf Ze, btw
    menurutmu, killing variable yg membuat minyak kelapa cepat rusak atau kualitasnya rendah apa?

    bagaimana halnya dg pengaruh rendahnya kualitas kopra karena pengeringan yg buruk thd kualtas minyaknya?

    trima kasih..
    salam..

Ada Komentar ?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s