Filosofi Permen Jahe


ginger-candied-in-jar-web

Lebih baik menyukai hal-hal yang belum tentu semua orang sukai.
Dengan demikian kau boleh menyukainya sepuasmu tanpa perlu rela terbagi.

          Dulu sekali ketika masih SD, Saban hari aku sangu segenggam permen cokelat –aku jengkel, cepat sekali habisnya karena banyak teman yang meminta, mau bagaimana lagi-enak sih. Tiap pulang sekolah aku selalu menggerutu sampai suatu hari telinga mamaku (mungkin) merasa panas dan akhirnya menemukan ide.
Besok, aku tidak lagi membawa permen cokelat sebagai sangu. Yang ku bawa kali ini adalah permen jahe pemberian mamaku.Yeekh! Rasanya aneh dan pedas-siapa yang suka (pikirku). Sejak aku membawa permen jahe, temanku mengeluh- tak ada yang meminta permen lagi padaku, alhasil sanguku utuh-tak tersentuh, begitu juga olehku.
Tidak ada hal lain yang mama berikan padaku, selain segenggam permen jahe dan sebotol air minum. Uang jajan? Jangan harap-itu hanya membuatmu rakus.Tidak ada lagi yang bisa diharapkan, siapa yang tahan tidak memakan permen seharian di sekolah-sedang teman kesana-kemari hilir mudik membawa jajanan kantin. Permen jahe kedua ku lahap hari itu, tidak terlalu pedas lagi dan kali ini sedikit manis rasanya.

        Dihari-hari selanjutnya, lidahku mulai akrab dengan permen jahe- aku sendiri bingung, jangan-jangan mamaku menambahkan zat aditif dalam permen ini. Ah, daripada habis pikir menerka-nerka ku akui saja jika aku mulai suka permen ini. Segenggam sehari tak lagi cukup. Bagaimana tidak, saat upacara, istirahat, bahkan ketika belajar dikelas-gigiku terus mengunyah. Aku tidak telaten mengulum permen jahe-lebih enak dikunyah. Aku menikmati permen jaheku sepuasnya-sedang temanku hanya melihat, enggan meminta. Ah, puasnya aku saat itu.

         Hingga saat ini, aku selalu rindu permen jahe. Permen jahe kesukaanku yang teksturnya gummy dibalur butiran gula, yang rasanya manis menghangatkan.

        Sejak saat itu minatku yang kaku mulai terbuka. Kata pebisnis, mulai bergelut dibidang yang barrier to entry-nya rendah. Dan dari sebutir permen jahe, tak kusangka aku membentuk mindset. Mindset yang kurang lebih seperti ini “Lebih baik menyukai hal-hal yang belum tentu semua orang sukai. Dengan demikian kau boleh menyukainya sepuasmu tanpa perlu rela terbagi”.
Mindset seperti ini kadangkala ada efek sampingnya sih, terasa nyata. Dampaknya jiwa kompetitif menjadi rendah. Karena lebih memilih cara lain yang tidak biasa dipilih orang.

        Karena membiasakan selera yang “menyimpang” dari umumnya. Membuat aku enggak punya standarisasi. Untuk makanan misalnya, Standar mutu makanan bagiku Cuma satu, yang penting halal! Jiwa kompetitif rendah, jadi takut bersaing- mudah mengalah. Itu negatifnya.

Positifnya, Selera yang “menyimpang” dari umumnya bukan berarti tidak normal. Aku masih tetap suka dengan permen coklat. Hanya saja tidak “maksa”-kudu-mesti-wajib.

           Dari permen jahe, aku belajar menjadi fleksibel dan toleran. Nah ini namanya berdamai dengan diri sendiri. Permen cokelat enak, siapa yang tak suka? Tapi kalau ada permen jahe yang tidak kalah enak dan manisnya menghangatkan, buat apa menderita saling berebut cokelat?
Kata-kataku ini, coba kau renungi sendiri ya teman🙂

-Zenith Tacia Ibanez
Filosofi Permen Jahe.

3 thoughts on “Filosofi Permen Jahe

Ada Komentar ?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s