Cerpen: AMNESIA


Oldies Ia menutup lembar terakhir dari buku ukuran A5 setebal tiga kali buku tulis anak SD. Bukan, kali ini bukan buku ilmiah untuk referensi deadline tugas harian yang dibacanya. Pun, ini kali pertama dalam bulan terakhir dimana ia rela begadang hingga larut malam bukan karena tugas-tugas kuliah, melainkan untuk meng- khatam-kan sebuah buku antologi cerpen dan prosa yang baru dipinjamnya tadi pagi. Berkat buku itu pikirannya kini mengawang, susana lengang.

Mata jarum dalam bingkai arlojinya menunjuk angka 01:17 WIB dini hari-waktu yang diatur 15 menit lebih cepat dari yang sebenarnya. Alasan mengapa arloji itu lebih rajin dari yang lain adalah karena si pemiliknya sudah buta waktu, sulit membedakan mana WIB, mana WITA, mana AM, mana PM. Akibat telalu lama merantau, kewalahan mengatur waktu, tidak telaten beradaptasi dan masalah lain yang berhubungan dengan jam yang resikonya tidak ingin ia ambil.

Mata Ranu melirik arloji di tangan, sedang pikirannya masih belum pulang, semakin gamang entah kemana larinya. Sudah lama saraf-saraf otak Ranu kelu dan kaku dijejali kalimat baku dan angka-angka logaritmik, namun sejak dibacanya buku tadi ia seperti orang yang baru sembuh dari amnesia-merasa dirinya dulu juga pernah hidup untuk bercerita- dan sekarang ingin kembali bercerita. Maka jadilah ia memaksa bangun dari kantuknya, membuka note dan hendak menulis suatu memori  hasil  mengais-kais pikiran. Barangkali dari sekian banyak rencananya yang tertunda, ada satu-dua memori yang tersimpan runut dalam otaknya.

Ranu punya banyak ide untuk menulis cerita, setidaknya tentang hal-hal penting selama tiga tahun terakhir yang tertunda untuk ditulis dan terpaksa harus bersemayam di dalam otak, menjadi memori seadanya-karena selama ini waktu tersita untuk urusan kuliah, ah sudahlah jangan dihiraukan, aku tahu alasan ini sangat klise dan berlebihan. Seperti yang ku bilang sebelumnya, Ranu-dia sangat krisis dalam hal mengatur waktu. Kembali pada ide menulisnya, ia ingin menulis banyak hal mulai dari perjuangan masuk kuliah sampai sekarang, pengalaman pertamakali mendapat penghargaan menggambar, kelanjutan sejarah percintaanya, nasib nama Ranu yang dulu diejek orang hingga cerita kali pertama ia memutuskan untuk berkerudung. Ranu jadi bingung, cerita mana dulu yang ingin ditulis, semua sama pentingnya sementara dia tidak punya cukup waktu sebelum otaknya kembali amnesia karena harus berhadapan dengan kenyataan eksakta.

Sudah satu jam, kertas digital dihadapannya masih nampak polos-polos saja, kapasitasnya tidak bertambah barang se-milibyte pun. “Aduh, separah inikah amnesiaku?” pikir Ranu dalam hati karena tidak satu katapun ia temukan untuk memulai ceritanya, sungguh menulis cerita terasa lebih susah ketimbang menulis laporan praktikum berlembar-lembar. Namun Ranu enggan menyerah, ia yakin, pasti masih ada sisa-sisa perbedaharaan kata sastrawi dalam otaknya, ia yakin, dan terus meyakinkan diri. “Fyuhh!… Akhirnya” air muka Ranu tampak puas. Akhirnya, kertas digital milikinya kini terisi sudah, tidak lupa disimpan agar coraknya tak hilang. Dibaca berulang-ulang dengan segenap hati, tulisan fiksi perdana pasca amnesianya itu.

Halo Ranu!

Ini aku, dirimu dua tahun mendatang

Ku ceritakan kau sesuatu,

Aku berevolusi jadi robot!

Sudah hilang kata bijak,

Kata-kata sastrawi tidak trend-nya lagi

Orang lebih suka dengan aku yang pekerja, mahir teknologi, ahli mesin otomatis

Aku tidak pernah lagi menulis cerita,

Jangankan menulis,

Seorang pun tak punya waktu barang sejenak tuk duduk mendengar ceritaku

Dan lagi pula, aku kini lebih nyaman bicara dan jalan-jalan secara virtual.

Kau tahu? Dunia maya…

Tapi, Ranu…

Kau tenang saja, evolusiku belum sempurna

Otakku masih organik meskipun pola pokirku sudah banyak yang mekanis dan sistematis

Agar otakku tidak hilang

Aku mencari orang-orang baik

Kau tahu? Orang baik…

Yang mendengar dengan baik,

Yang berbicara dengan baik,

Yang merespon dengan baik,

Yang bersikap dengan baik

Tapi orang-orang baik itu tidak pernah mencariku

Jadi…

Mulailah aku memperbaiki diri

Agar aku sama baiknya

Agar aku dicari-cari seperti orang-orang baik itu.

[Di dalam kotak persegi, bercerita]

-Zenith Tacia Ibanez-

Ada Komentar ?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s