Boneka untuk Bian


autumn-littel-girl-forest-sad-lonely-alone-red-nature-princess-doll

“Pertama kali dalam hidupku, Aku pernah berdoa sungguh-sungguh ingin hidup sendirian di muka bumi ini. Aku benci keramaian, aku merasa banyak yang menyorotiku acapkali berada dikerumunan orang banyak. Rasanya tidak bisa bernafas lega. Lagi pula, dari sekian banyak orang yang berkelindan itu, wajahnya penuh dengan topeng. Mereka terlalu banyak memiliki topeng, hingga aku sulit membedakan yang baik dan buruk. Aku lebih suka sendiri, dengan begitu beban dan masalahku berkurang. Kau tahu kan? Bahkan jika kau bersikap baik, pun sebagian orang masih menilaimu buruk. Jadi mulai sekarang terbiasalah bersikap apa adanya dan tidak perlu ambil pusing tentang apa yang ingin kau lakukan. Jika mereka tidak suka, biarkan mereka pergi darimu, atau kau yang pergi dari mereka. Beres, kan?”

Sejak saat itu Bian lega, tidak lagi harus berpura-pura sabar dan bersikap manis. Semua yang ingin Ia lakukan, dilakukannya sendiri selagi Bian mampu. Ia lebih nyaman berkutat dengan tulisan dan Ideologinya sendiri. Terlalu banyak masalah yang Bian saksikan disekelilingnya, apa lagi kalau bukan masalah topeng? Bumi ini dipenuhi dengan konspirasi pribadi banyak orang, di depan baik, di belakang bobrok. Ia berusaha sebaik mungkin untuk tidak terkecoh apalagi terlibat, dan itu membuatnya menjadi pribadi yang bungkam. Prinsip yang menenangkan hatinya kerap Ia temui dalam sebuah buku, atau barangkali dari sela-sela otaknya yang ia kais sendiri. Banyak pertanyaan-pertanyaan aneh yang ia tujukan untuk dirinya, kemudian ketika Ia mendapat jawabannya, segera ditulis rekat-rekat, tersembunyi pada tiap lipatan ensephalon. Bian tak lagi berharap argumennya harus didengar dan disetujui banyak orang. Ia hanya ingin mengungkapkan apa yang ada di pikirannya.

“Aku tidak pernah merasa benar-benar sendiri karena aku punya Tuhan, meskipun kami juga tidak begitu akrab, tapi aku yakin Allah adalah satu-satunya yang tidak perlu menggunakan topeng. Dan begitu juga aku tidak perlu memakai topeng bila dihadapanNya… Kalau aku sedih, menangislah aku dihadapanNya, kalau aku senang, tertawalah aku di hadapanNya, kalau aku bingung dan punya masalah, berceritalah aku padaNya…”

Bian percaya pada Allah, bahwa Allah adalah Tuhan sekaligus teman yang baik. Tidak pernah meninggalkan Bian dalam keadaan apapun. Jadi, segala apa yang ia inginkan tidak ada yang mampu mewujudkan keinginannya selain oleh Allah. Karena itu, apa yang Allah berikan kepada Bian, ia terima. Dan begitu juga apa yang Bian inginkan, selalu ia simpan dan diberitahukannya kepada Allah. Beberapa mungkin Ia ceritakan kepada kedua orang tuanya.

Dulu Bian pernah meminta seorang teman, dan seorang teman datang pada Bian. Teman yang selalu kemana-mana bersama Bian. Mereka selalu berbagi apa yang mereka miliki. Apa yang Bian suka, temannya pun suka. Bian bersyukur pernah diberikan teman yang sehati oleh Allah. Tetapi suatu ketika, Bian menyukai seseorang laki-laki, begitu juga temannya. Bian tidak yakin, apa Ia harus berbagi pacar dengan temannya? Bian egois, Bian lebih memilih tidak lagi punya teman, agar Bian tidak harus berbagi…

Bian meminta seorang teman laki-laki saja kali ini agar Ia tidak harus banyak berbagi, seorang laki-laki datang pada Bian hanya sebagai teman. Mulanya mereka berteman baik, lama-lama Bian suka pada teman laki-lakinya itu. Lagi-lagi Bian egois, lebih memilih tidak berteman, tapi ingin pacaran. Namun teman Bian tidak dikirim oleh Allah untuk itu. Jadi Ia pergi meninggalkan Bian, karena Bian tidak ingin lagi berteman dengannya.

 Kemudian Bian meminta seorang pacar, pacar yang baik datang untuk Bian. Ia rajin, pintar dan sabar. Selalu ambisius dan bercita-cita besar, Bian suka itu meski terkadang tidak bisa menemaninya setiap saat.

Bian meminta lagi kepada Allah, seorang yang baik untuk Bian-entah apa namanya. Bukan teman perempuan yang memakai topeng, bukan teman lelaki yang tidak bisa dicintai atau pacar yang selalu sibuk.

Lalu Allah menjatuhkan sebuah boneka, boneka itu tersungkur di sisi Bian. Diraih dan disandarkannya boneka itu di sisinya, kini Bian dapati apa yang Ia inginkan. Bukan seorang teman perempuan yang memakai topeng dan dia tak pernah berbohong karena sebuah boneka tidak pernah bicara, Bian tidak perlu berbagi dengannya karena sebuah boneka tidak menginginkan apa-apa, Bian boleh berteman dan mencintai boneka tersebut sekehendak hatinya karena sebuah boneka tidak merasakan apa-apa, Bian tidak akan ditinggalkan lagi karena sebuah boneka tidak akan beranjak pergi kemana-mana, dan Bian akan selalu ditemani oleh boneka itu karena sebuah boneka tidak pernah melakukan kesibukan apapun, sebuah boneka tidak punya ambisi dan cita-cita besar.

Bian seharusnya senang, dunia kini tenang-tidak dipenuhi oleh orang-orang yang memakai topeng lagi,tidak ada yang menilainya buruk lagi, Bian kini bebas memperlakukan boneka sesuka hati. Teman bonekanya itu hanya bisa diam saja, Bian jadi bosan. Bian menangis…

“Ya Allah, aku sungguh-sungguh ingin hidup kembali. Tidak dengan boneka yang mati seperti ini…” Amin Ya Rabb

Aku ingin kembali biasa,

Di antara segala yang sederhana.

Mengukir kertas pada ujung pena,

Sehidup serasa ranum buah ganista.

Aku ingin kembali kepada Mula,

Sebelum mata rantai menjadi buta,

Semenjak raja naik takhta,

Semurni intan para permata.

Aku ingin hidup bagai primate,

Berkawan dengan ular melata,

Tak tahu mana polpen mana tinta,

Mereguk noda-noda bisa berbusa.

Aku ingin kembali biasa

Aku ingin kembali pada Mula

Aku ingin hidup bagai primata

Ah! Apa itu cinta ?

Apakah tanda sebuah perintah?

[Zenith Tacia Ibanez]

Ada Komentar ?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s