Boneka untuk Bian


autumn-littel-girl-forest-sad-lonely-alone-red-nature-princess-doll

“Pertama kali dalam hidupku, Aku pernah berdoa sungguh-sungguh ingin hidup sendirian di muka bumi ini. Aku benci keramaian, aku merasa banyak yang menyorotiku acapkali berada dikerumunan orang banyak. Rasanya tidak bisa bernafas lega. Lagi pula, dari sekian banyak orang yang berkelindan itu, wajahnya penuh dengan topeng. Mereka terlalu banyak memiliki topeng, hingga aku sulit membedakan yang baik dan buruk. Aku lebih suka sendiri, dengan begitu beban dan masalahku berkurang. Kau tahu kan? Bahkan jika kau bersikap baik, pun sebagian orang masih menilaimu buruk. Jadi mulai sekarang terbiasalah bersikap apa adanya dan tidak perlu ambil pusing tentang apa yang ingin kau lakukan. Jika mereka tidak suka, biarkan mereka pergi darimu, atau kau yang pergi dari mereka. Beres, kan?”

Read More »

Advertisements

Cerpen: AMNESIA


Oldies Ia menutup lembar terakhir dari buku ukuran A5 setebal tiga kali buku tulis anak SD. Bukan, kali ini bukan buku ilmiah untuk referensi deadline tugas harian yang dibacanya. Pun, ini kali pertama dalam bulan terakhir dimana ia rela begadang hingga larut malam bukan karena tugas-tugas kuliah, melainkan untuk meng- khatam-kan sebuah buku antologi cerpen dan prosa yang baru dipinjamnya tadi pagi. Berkat buku itu pikirannya kini mengawang, susana lengang.

Mata jarum dalam bingkai arlojinya menunjuk angka 01:17 WIB dini hari-waktu yang diatur 15 menit lebih cepat dari yang sebenarnya. Alasan mengapa arloji itu lebih rajin dari yang lain adalah karena si pemiliknya sudah buta waktu, sulit membedakan mana WIB, mana WITA, mana AM, mana PM. Akibat telalu lama merantau, kewalahan mengatur waktu, tidak telaten beradaptasi dan masalah lain yang berhubungan dengan jam yang resikonya tidak ingin ia ambil.

Read More »

Prosa : Setoples Permen


Aquila Circinus Candy Mungkin aku ini seperti anak kecil maniak permen yang sedang belajar. Tidak bisa fokus dan menjadi bengal ketika didekatkan dengan setoples penuh permen warna-warni. Sedikit-sedikit, ku buka toples itu. Permen strawberry, Permen cokelat, Permen jahe, Ah aku sibuk makan permen, padahal harusnya aku belajar.

Guruku menjelaskan, tidak ku hiraukan. Yang aku pikir permen teh hijau dalam mulutku enak juga. Harusnya ku makan dua butir sekaligus. Aih guruku akhirnya sadar, kalau aku makin asik sendiri dengan setoples permen yang ada didekatku. Maka diambilnya toples permen itu, dan ditaruhnya di balik punggung agar aku tidak lagi sibuk makan permen dan kembali fokus belajar. Awalnya risau juga tidak bisa makan permen. Ah tak apalah memang harusnya aku belajar.

Semenit. . . Dua menit. . . Aku mencuri pandang melihat toples permen di balik punggung sang guru. Lagi aku tergoda, tidak fokus belajar. Hah. Bahkan hanya dengan mencuri pandang aku sudah merasa senang.

Guruku pusing, aku bengal bukan main. Kini, hendak dibawa pergi toples permen itu. Jauuuh sekali, tidak tergapai tangan dan mata, aroma permennya pun tak ada.

Anak kecil maniak permen yang lantas dijauhkan dari setoples permen karena harus belajar. Bagaimana jadinya?

Murunglah aku, membayangkan tidak bisa lagi makan permen. Dalam sekejap semua permen seperti hanya diawang-awang, padahal baru saja tadi aku makan permen teh hijau, bahkan rasanya masih ada di pangkal lidah.

Tak lama guruku kembali dari tempat persembunyian toples permen. Dirinya berkata “Nah sekarang belajarlah engkau dengan baik, anak kecil. Jika belajarmu membuahkan hasil yang baik, ku berikan setoples permen itu untukmu”

Jadi sekarang aku harus belajar, lebih fokus, lebih giat. Demi setoples permen manis. Yah!

-Sekian

[Prosa dan ilustrasi oleh: Zenith Tacia Ibanez]

Resensi : Supernova Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh


Supernova Ksatria, Putri, & Bintang Jatuh

       Bermula dari sebuah intro panjang, suara karakter Diva berlatar banyak gugus bintang dan sekelebat pemandangan lain yang sulit ku hafal dan akhirnya bermuara di Washington DC. Seekor kupu-kupu putih menjadi tanda pertemuan Reuben (Arifin)  dan Dimas (Hamish), mereka berkenalan, saling tanya nama, dan janjian disebuah party sama persis seperti adegan dalam novel. Mereka berdua memiliki latar belakang kehidupan yang berbeda dan sisi aktif otak dominan yang berbeda, namun orientasi seksual membuat mereka sama, gamblangnya mereka saling menyukai-gay. Seperti halnya kisah asmara pada umumnya, maka berikrar-lah mereka atas nama cinta sejati, sebagai tanda cinta mereka berjanji akan membuat sebuah karya masterpiece dalam 10 tahun kedepan, sebuah ide cerita dimana Science dan Romansa lebur menjadi satu.

        Reuben dan Dimas pun mulai beraksi, berdua mereka berdiskusi perihal apa, siapa, dan bagaimana cerita ini akan berjalan. Di sudut pandang yang lain, berlatar kota Jakarta. Cerita masterpiece Reuben dan Dimas ter-refleksi di dunia nyata (barangkali). Karakter pertama pun keluar, adalah Fere (Herjunot)-seorang pengusaha muda, sukses, kaya dan tampan-identik dengan figur seorang ksatria yang tanpa diduga bertemu dengan seorang wartawati cantik bernama Rana (Raline), seekor kupu-kupu putih menjadi tanda pertemuan (lagi). Dalam sebuah interview singkat keduanya memiliki gaya tarik-menarik yang cukup kuat, Rana dengan ideologinya berhasil mencuri hati beku seorang Fere. Bagi Fere-sosok Rana sangat identik dengan figur seorang putri. Putri dalam dongeng yang membentuk prinsip hidupnya. (Ingin tahu dongengnya baca di Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh).

Dongeng : Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh


       269c8fb5df055bb64811b2bb876bd94e39d13f5b01939b7a1276bb336f64d218

Ksatria jatuh cinta pada puteri bungsu dari Kerajaan Bidadari. Sang Puteri naik ke langit, ksatria kebingungan. Ksatria pintar naik kuda dan bermain pedang, tapi tidak tahu caranya terbang.

Ksatria keluar dari kastil untuk belajar terbang pada kupu kupu, tetapi kupu kupu hanya bisa menempatkannya di pucuk pohon.

Ksatria lalu belajar pada burung gereja. Burung gereja hanya mampu mengajarinya sampai ke atas menara.

Read More »